khazanah Ilmu Blog

Nikah


Nikah

Muqaddimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-bena r takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang agung.”(QS. Al-Ahzaab: 70-71)

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Amma ba’du:
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap
bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Pernikahan adalah fitrah manusia yang dengan demikian Islam menganjurkan untuk menikah karena nikah merupakan naluri manusiawi. Apabila naluri ini tidak dipenuhi dengan jalan yang halal (pernikahan) maka ia akan mencari jalan-jalan syaitan yang menjerumuskan manusia ke lembah hitam yaitu zina. Waliya’udzubillaah.

A. DISYARIATKAN MENIKAH

Dasar hukum pensyariatan menikah adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ (konsensus) ulama. Adapun dasar dalam Kitabullah (Al-Qur’an) ialah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

كِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ. وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (me-nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (An-Nuur : 32)

Dan dalam firman-Nya:
“… Maka nikahilah wanita-wanita lain yang kau sukai.” (An-Nisaa`: 3)

Dan masih banyak lagi nash-nash Al-Qur’an tentang anjuran menikah.

Adapun dasar dari As-Sunnah ialah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلنِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي، وَتَزَوَّجُوْا، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ، وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ، وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ.

“Menikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang enggan melaksanakan sunnahku, maka ia bukan dari golonganku. Menikahlah kalian! Karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh ummat. Barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya (dari berbagai syahwat).” [Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1846) dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 2383)]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

تَزَوَّجُوْا، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلاَ تَكُوْنُوْا كَرَهْبَانِيَّةِ النَّصَارَى.

“Menikahlah, karena sungguh aku akan membanggakan jumlah kalian kepada ummat-ummat lainnya pada hari Kiamat. Dan janganlah kalian menyerupai para pendeta Nasrani.”[Hadits hasan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (VII/78) dari Shahabat Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini memiliki beberapa syawahid (penguat). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1782)]

Nash-nash yang semakna dengan hadits di atas amat banyak. Semua ini akan melahirkan berbagai manfaat besar yang kembali kepada suami, isteri, anak-anak, masyarakat, dan agama, yang berupa kemaslahatan yang banyak.

B. DEFINISI NIKAH (النكاح)

1. Nikah menurut bahasa adalah berkumpul (الضم) dan saling memasuki (التداخل) yang berarti persetubuhan dan secara majaz diartikan akad (termasuk pengkaitan sebab-akibat)

2. Nikah menurut syariat adalah akad di antara suami isteri yang menyebabkan dihalalkan persetubuhan. Ini adalah hakikat dalam akad dan majazi dalam persetubuhan.

C. TUJUAN MENIKAH

Tujuan menikah yang paling agung adalah menegakkan syariat Allah sebagaimana telah lalu penjelasannya. Disamping itu pun untuk menjaga nasab (keturunan) dan memenuhi kebutuhan biologis manusia dengan jalan yang halal.

D. HUKUM MENIKAH

Nikah ditinjau dari aspek hukum syar`i ada lima macam:
1. Bisa menjadi Wajib
2. Bisa menjadi Mustahab (sunah)
3. Bisa menjadi Mubah
4. Bisa menjadi Haram
5. Bisa menjadi Makruh

1. Bisa menjadi Wajib

Nikah menjadi wajib bagi orang yang khawatir dirinya terjerumus ke dalam perbuatan zina jika tidak segera menikah karena pernikahan adalah jalan untuk menyucikan diri dari hal-hal yang haram.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (dalam keadaan khawatir dirinya terjerumus ke dalam perbuatan zina) berkata:
“Jika manusia butuh kepada nikah dan penuh dengan rasa takut dari kekejian (zina) jika meninggalkannya maka menikah lebih diutamakan daripada haji wajib” [Hasyiyatu Ar-Raudhul Murabba’ (6/228)]

2. Bisa menjadi Mustahab (sunah)

Menikah disunahkan dengan adanya syahwat dan tidak ada rasa khawatir ke dalam perzinaan karena pernikahan ini mengandung berbagai kemaslahatan yang agung bagi kaum lelaki dan wanita.

3. Bisa menjadi Mubah

Menikah menjadi mubah jika tidak ada syahwat (bergejolak) dan kecenderungan kepadanya. Mislanya orang lanjut usia.

4. Bisa menjadi Makruh

Menikah bisa menjadi makruh dalam keadaan sedemikian ini karena dengan menikah ia akan menghilangkan tujuan baik kaum wanita ketika menikah yaitu untuk memelihara diri dan yang demikian itu membahayakan pihak wanita.

5. Bisa menjadi Haram

Menikah bisa menjadi haram bagi seorang muslim jika dia berada di daerah kaum kafir harby (memusuhi Islam) karena di tempat itu karena pernikahan itu akan membawa keluarganya dalam bahaya dan berada di bawah cengkraman kaum kafir. Istrinya tidak akan merasa aman dari tindakan kaum kafir itu.

E. Faidah Menikah

Faidah-faidah dalam sebuah pernikahan sangatlah banyak dan menimbulkan kemaslahatan yang sangat agung, di antaranya:

1. Menjaga kehormatan suami-isteri dan dengan akad nikah menjadi terbataslah pandangan masing-masing hanya kepada pasangannya (lebih menundukkan pandangan).

2. Berlangsungnya keturunan manusia dan memperbanyak jumlah kaum muslimin sehingga hamba-hamba Allah dan pengikut Nabi-Nya semakin banyak dan menjadikan orang kafir tidak ridha dengan lahirnya para mujahid Allah dan pembela agama-Nya.

3. Mensucikan kemaluan (dari jalan yang haram), menjaganya dan memeliharanya dari berbagai kesenangan hubungan yang diharamkan, serta menjaga nasab (keturunan).

4. Dengan ikatan nikah terwujudlah ikatan hati dan kasih sayang serta tercapainya ketenangan dan kebutuhan batin. Allah ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ

“Tidak terlihat hubungan yang demikian dekat di antara dua orang yang saling mencintai yang bisa menyamai hubungan yang terjalin karena pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1848, hadits ini dikuatkan oleh Al-Imam Al-Albani, lihat Ash-Shahihah no. 624)

Maraji`:
1. Taisiirul ‘Allam Syarh Umdatil Ahkam – Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam
2. It-haful Kiraam Syarh Buluughil Maraam – Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
3. Al-Mulakhkhashu Al-Fiqhiyyu – Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين
جمعته : يودا بن عبدالغني بن عثمان باكسان

Alhamdulillah selesai disusun 3 Jumadil Awwal 1434 H – 15 Maret 2013.

Yudha bin Abdul Ghani


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: