khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Pengertian Tauhid Asma` dan Shifat

Pengertian Tauhid Asma` dan Shifat


Pengertian Tauhid Asma dan shifat

Pengertian Tauhid Asma’ dan Shifat adalah:

هو إفراد اللَّه عز وجل بما له من الأ سماء والصفات , و هذا يتضمن سيئين:

Mengesakan Allah ‘azza wa jalla dengan asma’ dan shifat yang menjadi milik-Nya, hal ini mencakup dua hal:

الأول:
الإثبات, وذلك بأن نثبت للَّه عز وجل جميع أسمائه والصفاته

Pertama:
Penetapan bahwa kita menetapkan seluruh asma` dan shifat-Nya.
الثاني:
نفي المماثلة وذلك بأن لا نجعل للَّه مثيلًا في أسمائه والصفاته

Kedua:
Peniadaan permisalan bahwa kita tidak menjadikan sesuatu yang semisal (baca: serupa) dengan Allah dalam asma` dan shifat-Nya.

Sebagaimana firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11)

Fadilah ayat ini menunjukkan bahwa semua shifat-Nya tidak ada sesuatu pun makhluk yang menyerupai-Nya dalam shifat-Nya.

Meskipun ada persekutuan dalam dasar makna, tetapi berbeda dalam hakikat keadaanya.

Dan barangsiapa yang tidak menetapkan apa yang ditetapkan Allah bagi diri-Nya maka dia adalah orang yang menafikan, dan yang meniadakannya serupa dengan yang ditiadakan Fir’aun.

Dan barangsiapa yang menetapkannya disertai menyerupakan-Nya maka dia mirip dengan orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah disamping menyembah-Nya.

Dan barangsiapa yang menetapkannya tanpa penyerupaan berarti dia termasuk Muwahhidiin (orang-orang yang mentauhidkan, pen-)

Dan dari Jenis Tauhid inilah ada sebagian Umat Islam yang tersesat hingga mereka terpecah menjadi beberapa golongan yang banyak, diantara mereka ada yang mengambil jalur peniadaan sehingga mereka meniadakan dan menafikan shifat-shifat Allah dan menyangka bahwa ia telah mensucikan Allah. Sungguh Mereka sesat

Karena hakikat mensucikan-Nya adalah menafikan shifat kekurangan dan ‘aib dan mensucikan Perkataan-Nya bukan dengan (cara) penyamaran dan penyesatan.

Jika seseorang berkata:
Bahwasanya Allah tidak memiliki pendengaran, penglihatan, ilmu, dan kekuasaan, dia tidak mensucikan (shifat-shifat) Allah. Tetapi malah melemparkan ‘aib yang paling tinggi kepada-Nya serta mensifati Perkataan-Nya dengan penyamaran dan penyesatan.

Karena Allah sering mengulang dan menetapkan dalam Firman-Nya:

{سميع – بصير Samii`un – Bashiirun}

{ عزيز – حكيم ‘Aziizun – Hakiimun}

{غفور – رحيم Ghafuurun – Rahiimun}

Maka jika telah ditetapkan oleh-Nya dalam firman-Nya dan ditiadakan dari-Nya maka hal tersebut adalah penyamaran dan penyesatan, dan (termasuk) pencelaan dalam firman Allah ‘azza wa jalla.

Dan diantara mereka ada yang mengambil jalur penyerupaan dengan anggapan bahwa itulah yang sebenarnya dalam pensifatan Allah terhadap diri-Nya. Sungguh (mereka itu) Sesat karena mereka tidak mensifati Allah yang sebenarnya dengan memberikan ‘aib dan kekurangan (bagi-Nya) sebab mereka menjadikan Dzat yang sempurna dari segala sisi, sama dengan yang kurang dari segala sisi.

Dan jika pengutamaan yang sempurna atas yang kurang (hal tersebut) dapat menurunkan bobotnya, dan bagaimana bisa menyerupakan yang sempurna dengan yang kurang ??

Dan inilah kejahatan terbesar terhadap (hak) Allah ‘azza wa jalla, meskipun orang-orang yang mentakwil (baca: meniadakan shifat-shifat-Nya) merupakan orang-orang yang kejahatannya paling besar namun masih (banyak) orang yang tidak menetapkan sifat Allah dengan semestinya terhadap-Nya.

Maka Wajiblah:

Kita mengimani sifat yang diberikan Allah bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya.

Dan seperti yang disampaikan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam TANPA ADA:

*Tahrif (تخريف ) :
menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh, atau mengalihkan makna

*Ta’thil (تعطيل ) :
meniadakan atau menolak

*Takyif (تكيف ) :
mempertanyakan bagaimana

*Tamtsil (تمثيل ) :
sama dengan Tasybih (Penyerupaan)

Inilah yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama lainnya dari golongan Ahlussunnah.

*Tahrif terjadi pada nash

*Ta’thil terjadi pada keyakinan

*Takyif terjadi dalam sifat

*Tamtsil terjadi dalam sifat, hanya saja penyerupaan ini lebih khusus daripada takyif

Maka wajiblah membebaskan akidah kita dari empat perkara ini.

Dan yang dimaksud Tahrif disini:
Ta’wil yang dilakukan para muharrif (orang yang mengubah) nash-nash shifat, karena mereka menamakan diri mereka ahli ta’wil, untuk melancarkan sebutan jalan yang mereka tempuh, karena jiwa (manusia) tidak menyukai istilah Tahrif (Pengubahan) hal ini merupakan pemilihan kata-kata yang menarik dan menjadikannya tampak indah dalam pandangan manusia sehingga mereka (baca: manusia) tidak mengelaknya.

Padahal Hakikat Ta’wil mereka:
Adalah pengubahan yaitu mengalihkan lafazh dari zhahirnya.

kami (syaikh Al-Utsaimin) katakan: (Jika) pengalihan ini memiliki dalil yang shahih maka hal itu berarti bukan ta’wil menurut makna yang kalian kehendaki, tapi hal itu (merupakan) Tafsir.

Tetapi jika tidak terdapat dalilnya maka hal demikianlah Tahrif (pengalihan makna sebenarnya, ed) dan mengubah kalimat dari tempatnya. Merekalah orang-orang yang sesat karena jalan ini. Pada akhirnya mereka menetapkan sifat-sifat tapi dengan mentahrif (baca: mengubah dan mengalihkan maknanya, pen-) hingga merekapun sesat dan berlainan dengan jalan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Atas dasar ini mereka tidak disifati (baca: diakui) sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah; karena tambahan sebutan mengharuskan adanya penisbatan.

Sebutan Ahlussunnah adalah bagi mereka yang menisbatkan diri kepada As-Sunnah, karena mereka berpegang (teguh) kepadanya. Sementara mereka (orang-orang yang sesat itu) tidak berpegang dengan As-Sunnah sebab pengubahan yang mereka lakukan.

Dan disamping itu kata: الجماعة (Al-Jama`ah) pada dasarnya adalah الجتماع (berhimpun atau berkumpul)

Sementara mereka (baca: para pentahrif) tidak menyatu dalam pendapat-pendapat mereka maka dalam kitab-kitab mereka terdapat campur tangan saling berlawanan dan membingungkan bahkan sebagian diantara mereka pun menyesatkan sebagian lainnya dan pendapatnya berlawanan dengan dirinya sendiri.

Pensyarah Kitab Ath-Thahawiyah (menukil) dari Al-Ghazali, (dia) orang yang dianggap sudah mencapai tataran paling tinggi dalam ilmu kalam, teologi, jika seseorang telah membacanya tentu akan mendapatkan kesalahan yang jelas, kekeliruan dan tidak karuan dan sebenarnya mereka pun tidak mendapatkan kejelasan tentang urusan mereka. [2]

Ar-Raazî yang termasuk pemuka mereka berkata:

*نهايــة إقــدم العقــول عقــال
*و أكثــر سعي العــالمين ضلال
*و أرو حنا في و حشة جسو منا
*و غــايــة دنيــا نــا أذي ووبــال
*و لم نستفد من بحثنا طو ل عمرنا
*سوى أن جمعنــا فيه قيال وقالوا

*Kesudahan mendahulukan akal merupakan cermin kebodohan

*Dan kebanyakan usaha orang yang berilmu (tanpa petunjuk) adalah kesesatan

*Ruh kita berada dalam ketakutan terhadap badan kita

*Puncak keduniaan kita adalah bencana dan malapetaka

*Kita tak dapat mengambil manfaat dari pencarian sepanjang usia

*Perkumpulan kita di dalamnya hanyalah apa menurut katanya

Lalu ia (Ar-Raazi) berkata:

“Aku telah melalui jalan teologi (ilmu kalam) dan metode filsafat, aku melihatnya ilmu tersebut tak kuasa menyembuhkan orang sakit, tiada pula membasuh dahaga, aku pun mendapatkan jalan yang terdekat ialah jalan Al-Qur`an yang ku baca dalam ketetapan:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ ~ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy. (QS. Thaha: 5) ~ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik (QS. Fathir: 10)
Artinya: aku menetapkan dan aku membaca penafian.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ~ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”(QS. Asy-Syuraa: 11) ~ Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya (QS. Thaha: 110)
Artinya: aku menafikan cakupan ilmu mereka atas ilmu-Nya dan barangsiapa yang memiliki pengalaman seperti pengalamanku niscaya ia mengetahui apa yang ku ketahui. [3]

Engkau akan dapati mereka kebingungan dan rancu serta tidak yakin atas urusan mereka sendiri. Sementara engkau mendapatkan orang yang diberi hidayah jalan yang lurus oleh Allah, dalam keadaan tentram dan lapang dadanya dan tenang pikirannya, dia membaca dalam kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah bagi-Nya dari asma` dan shifat-Nya.

Karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah selain dari-Nya, dan tidak ada kabar yang benar selain dari pengabaran-Nya, dan tidak ada penjelasan yang lebih gamblang selain dari penjelasan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ ~ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ~ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

Allah hendak menerangkan (hukum syari´at-Nya) kepada kalian (An-Nisa`: 26) ~ Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian, supaya kalian tidak sesat.(An-Nisa: 176) ~ Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu. (An-Nahl: 89)

Ayat-ayat ini dan selainnya menunjukkan bahwa Allah menjelaskan kepada makhluluk dengan sejelas-jelasnya, jalan yang mengantarkan mereka kepada-Nya, sesuatu yang dibutuhkan makhluk ialah penjelasan sesuatu yang berkaitan dengan-Nya, dengan Asma` dan Shifat-Nya agar Allah diibadahi berdasarkan bashirah, karena Ibadah kepada yang tidak diketahui sifat-sifatnya atau bahkan yang tidak memiliki sifat maka ibadah tersebut sama sekali tidak benar, maka anda harus mengetahui sifat-sifat ma`buud (baca: yang disembah) yang membuatmu kembali pada-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya.

Manusia tidak boleh melampaui batasannya hingga menetapkan bentuk (takyif); karena jika dia tidak bisa menggambarkan dirinya yang ada dihadapannya tentunya dia tak akan mampu menggambarkan hakikat pensifatan Allah terhadap diri-Nya. Maka dari itu wajib atas manusia mencegah dirinya dari pertanyaan (mengapa) dan (bagaimana) yang berkaitan dengan asma’ Allah dan sifat-Nya. Dan juga mencegah dirinya dari memikirkan tentang kaifiyah (baca: perbuatan Allah)

Jika jalan ini (yaitu: tanpa ada tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil, pen-) ditempuh manusia dia pasti lebih banyak merasakan ketenangan.

Inilah keadaan orang-orang pendahulu (baca: Salaf) rahimahumullah.

و لهذا لما جاء إلى مالك بن أنس رحمه اللَّه قال:
يا أبا عبد اللَّه {الر حمن على العرش استوى} كيف استوى ? أطرق برأسه وقال:
الاستواء غير مجهول,
والكيف غير معقول,
والإ يمان به واجب,
والسؤال عنه بدعة, وما أراك مبتدعا
Ada seseorang mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah seraya berkata:
Wahai Abu Abdillah {Rabb Yang Maha Pemurah, bersemayam diatas ‘Arsy’}
Bagaimana Dia bersemayam? (Imam Malik pun) menundukan kepalanya lalu berkata:
Bersemayam-Nya (Istiwa) telah diketahui,
Bagaimana caranya tidak dapat difahami,
Mengimaninya Wajib,
Menanyakan tentang hal itu adalah Bid’ah, dan aku tidak melihatmu melainkan seorang ahli bid’ah.

Di zaman kita sekarang ini ada yang berkata:
“Allah turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang terakhir pada setiap malam, hal ini mengharuskan-Nya berada di langit dunia tiap malam, karena malam berlalu atas semua dunia, berarti pada sepertiga malam itu Allah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.”

Perkataan semacam ini tidak pernah diucapkan oleh para shahabat ridhwaanullah ‘alaihim, Seandainya pemikiran semacam ini terlintas dalam hati. orang beriman, sudah pasti Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya sejak semula atau hal itu melintas dalam benak seseorang yang akan menanyakannya maka pertanyaan ini dijawab sebagaimana para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertanya:

أين كان اللَّه قبل أن يخلق السموات والأرض فأجابهم

“Dimana Allah berada sebelum menciptakan langit dan bumi?” maka pertanyaan mereka pun dijawab oleh Beliau [4]

Pertanyaan yang besar ini menunjukkan bahwa setiap yang dibutuhkan manusia tentu Allah menjelaskannya.

Adapun untuk menjawab kerumitan dalam hadits turunya Allah [5]: dapat disampaikan sebagai berikut:

Selama sepertiga malam yang terakhir pada bagian bumi yang mengalaminya masih ada, maka Dia benar-benar turun di sana, sementara di bagian lain Dia tidak turun sebelum sepertiga malam yang terakhir.

Demi Allah ‘azza wa jalla tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, Tetapi Zhahirnya hadits ini bahwa waktu turun berakhir dengan terbitnya fajar.

Dan semestinya bagi kita adalah kita berserah diri (tunduk), sambil berkata:

Sami’na wa Atha’na (kami mendengar dan kami taat) dan kami mengikuti serta mengimani maka inilah tugas kita.

[Disarikan dari Kitab Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhid (1/12-17), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Darul ‘Ashimah]

______________________________
2. Syarh Ath-Thahawiyah 1/245 dan lihat juga: Dar-u Ta`aarudhil Aqli wan Naqli 1/162 dan Al-Ihyaa’ 1/94-97.

3. Lihat: Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naqli 1/159-160, Al-Fataawa 4/71, dan Syarhuth Thahawiyah 1/244, dan Thabaqaat Asy-Syaafi`iyah karya Qadhi Syuhbah 2/82.

4. Dari hadits Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, yang didalamnya:

جئنا نسألك عن هذا الأمر قال:
كان اللَّه ولم يكن شىء غيـره, وكان عرشه على الماء

“Kami datang menanyakan perkara ini, beliau pun menjawab:
Allah ada dan tidak ada sesuatu selain-Nya yang ada, sedangkan ‘Arsy-Nya di atas air.” diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Bad-ul Khalq / Bab Maa Jaa-a fii Qaulillahi Ta’ala: (و هو الذي يبدأ الخلق ) 1/418

Dan dari hadits Abi Ruzain, dia berkata:

يارسول اللَّه ! أين ربنا قبل أن يخلق خلقه ?
قال: كان عماء ما تحت هواء وما فوقه هواء, وخلق عرشه على الماء

Wahai Rasulullah dimana Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluknya?
Beliau menjawab: “Dia berada di ketinggian di atasnya dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan Arsy-Nya di atas air. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Kitab Tafsir no. 3108 dan dia berkata: hadits ini hasan, dan Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah no. 13, dan Ahmad dalam Al-Musnad 4/11-12.

5. Dari hadits Abu Hurairah ditakhrij oleh Al-Bukhari, dalam Shahiih-nya, Kitab At-Tahajjud / Bab Ad-Du’a wash Shalaat Aakhir al-Lail no. 1145, 3621, 7494, Muslim Kitab Ash-Shalaatul Musaafiriin / Bab At-Targhib fi Ad-Du’a wa Adz-Dzikr Aakhir al-Lail 1/521.


1 Komentar

  1. […] sebelumnya saya membahasa tentang Tauhid Asma’ dan Shifat yang menjelaskan tentang pengertian Tahrif, Ta’thil, Takyif, Tamtsil dan Tasybih dalam […]

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: