khazanah Ilmu Blog

Beranda » Biografi » Biografi Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah

Biografi Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah


NASAB

Beliau adalah Abu Adbillah Syamsuddien Muhammad bin Abi Bakr bin Ayub bin Sa`ad bin Huraiz bin Makiy Zainuddien Az-Zar`i Ad-Dimasyqi Al-Hambali, terkenal dengan sebutan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.. Beliau seorang Imam besar dan Ulama pembela sunnah dan pemberantas bid’ah.

Buku – buku biografi sepakat bahwa ia lahir 691 H. Shafadi muridnya menyebutkan secara rinci tentang hari dan bulan kelahirannya. Ia lahir pada 7 Shafar 691 H. keterang yang sama disampaikan pula oleh Ibnu Taghri Bardi, Dawudi dan Suyuthi.

SEBAB POPULERNYA DENGAN SEBUTAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH

Di kalangan para ulama dahulu maupun kontemporer, Imam besar ini popular dengan sebutan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Sebagian ulama menyingkatnya dengan hanya menyebut Ibnu Qayyim. Sebutan terakhir lebih popular di kalangan ulama kontemporer.

Sebab  populernya nama ini adalah karena ayahanda beliau, Imam Syaikh Abu Bakar bin Ayub Az-Zar`i, beberapa lama menjabat sebagai Qayyim ‘kepala’ Madrasah Al-Jauziyah di Damaskus. Maka, ayahandanya dikenal dengan sebutan “Qayyim Al-Jauziyah” (Kepala Madrasah Al-Jauziyah). Anak – anak dan keturunannya pun dikenal dengan sebutan tersebut. Maka, salah seorang dari mereka dipanggil dengan sebutan “Ibnu Qayyim Al-Jauziyah”. Maka dari itu, ia bukan satu-satunya yang mendapat sebutan ini. Hanya saja, ketika sebutan ini disampaikan secara mutlak, maka beliaulah rahimahullah yang dimaksud, karena sebutan ini nyaris telah menyatu dengan namanya.

KELUARGANYA

Ia tumbuh di sebuah keluarga yang kental dengan keilmuan, keagamaan, ke-wira`ian dan keshalihan.. Ayahnya  Abu Bakar bin Ayub Az-Zar`i adalah Qayyim (kepala) Madrasah Al-Jauziyah. Beliau seorang syaikh terpandang, wira`i, dan ahli ibadah. Seorang yang ahli di bidang ilmu faraid, dari beliau sang putra, Syamsudin Ibnu Qayyim rahimahullah menimba ilmu faraid ini

Adiknya, Zainudin Abu Faraj Abdurrahman bin Abi Bakar, berusia dua tahun lebih muda. Kebanyakan guru adiknya sama dengan gurunya, adiknya ini seorang imam yang diikuti. Kepadanya Ibnu Rajab dan beberapa ulama lain berguru, ia wafat pada tahun 769 H.

Keponakannya Imadudin Abul Fida` Isma`il bin Zainudin Abdurrahman, salah seorang ulama yang terpandang, ia memiliki sebagaian besar literature pamannya, Syamsudin Ibnu Qayyim. Wafat tahun 799 H.

PERMULAAN MENUNTUT ILMU

Ibnu Qayyim rahimahullah menuntut ilmu di usia dini, tepatnya sebelum usia tujuh tahun. Itu bisa diketahui dengan membandingkan tahun kelahirannya (691 H) dan tahun kewafatan sejumlah gurunya seperti Abul Abbas Ahmad Abdurrahman Al-Maqdisi yang popular dengan sebutan Ibnu Syihab Al-`Abir, wafat pada tahun 697 H. Ibnu Qayyim telah meriwayatkan dari Ibnu Syihab beberapa kisah tafsir mimpi dalam Zadul Ma`ad. Kemudian ia berkata; “Beginilah keadaan guru kami dan keahlian beliau dalam ilmu tafsir mimpi. Saya pernah medengar beberapa bagian tentang tafsir mimpi darinya, akan tetapi saya belum berkesempatan membaca di hadapan beliau tentang ilmu ini, dikarenakan ketika itu saya masih kanak-kanak dan beliau keburu wafat, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau.”

PERJALANANNYA MENUNTUT ILMU

Perjalannya menuntut ilmu bisa dilakukan oleh para ulama. Mata siapapun yang membaca biografi seorang ulama hampir dipastikan selalu menemukan penjelasan tentang perjalanannya dalam rangka menuntut ilmu. Anehnya, kami tidak melihat para penulis biografi Ibnu Qayyim menampilkan selain perjalanan hajinya dan kisah perjalanan yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah sendiri dalam Hidayatul Hayara yang mengisahkan perjalanannya ke Mesir. Ia mengatakan; “Saya pernah melakukan diskusi di Mesir dengan seorang tokoh yang dianggap paling hebat ilmu dan kepemimpinannya oleh orang-orang Yahudi.”

Bakr Abu Zaid mengatakan: “Bagaimanapun, jika perjalanan menuntut Ilmu Ibnu Qayyim tidak dikenal luas, maka ia memiliki alasannya;

Beliau rahimahullah hidup di suatu masa di mana ilmu-ilmu keislaman telah disusun dan disebarluaskan di berbagai penjuru dunia. Damaskus pada masa itu termasuk salah satu kawasan yang dikenal kaya dengan ilmu pengetahuan. Damaskus merupakan kiblat dan persinggahan perjalanan para ulama. Ia menjadi impian semua penuntut ilmu dan orang – orang yang ingin memuaskan dahaga ilmu.

Maka tidak mengherankan jika perjalanan menuntut ilmu Ibnu Qayyim rahimahullah tidak popular. Bagaimana mungkin ia pergi menuntut ilmu sedangkan kondisi Damaskus di bidang ilmu pengetahuan seperti itu ? Terlebih, Syaikhul Islam wal Muslimin, sang lautan ilmu yang tidak pernah kering, yakni Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah rahimahullah justru datang ke kota tersebut. Manusia yang paling beruntung adalah yang didatangi rizkinya di depan piintu rumahnya.

PERPUSTAKAANNYA

Karena Ibnu Qayyim rahimahullah sangat mencintai ilmu, maka hal itu melahirkan kecintaannya kepada buku-buku, tidak mengherankan jika para penulis biografinya secara khusus menyebutkan buku-buku yang ia miliki dan kegemarannya membaca buku. Ia memiliki banyak buku yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Ia sangat mencintai… dan banyak memiliki buku. Ia memiliki buku-buku yang tidak dimiliki oleh orang lain”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ia memiliki sangat banyak buku, tidak mudah bagi orang lain untuk memiliki buku-buku karya ulama salaf maupu khalaf satu persen dari yang beliau miliki.”

Shiddiq Khan Qanuji berkata, “Ia sangat menggemari buku-buku, sehingga memiliki literature yang jumlahnya tak terhitung.”

Mengenai bagaimana nasib buku-bukunya itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ia sangat menggemari buku sehingga memiliki literature yang tak terhitung banyaknya. Akhirnya anak-anaknya menjual buku-buku tersebut setelah ia wafat, dalam jangka waktu yang sangat panjang, kecuali buku-buku yang mereka pilih untuk mereka simpang sendiri.”

Ibnu Imad mengatakan bahwa sebagian dari buku-buku tersebut disimpan oleh keponakannya, Imaddudin. Ibnu Imad berkata tentang biografi Imaddudin, “Ia seorang tokoh yang terpandang dan memiliki banyak buku sangat berharga, yaitu buku-buku milik pamannya, Syamsudin Ibnu Qayyim rahimahullah. Ia tidak pelit untuk meminjamkan buku-bukunya.”

KEILMUANNYA

Ibnu Qayyim belajar dan menguasai hampir seluruh ilmu syariat dan ilmu alat, seperti Tauhid, Ilmu Kalam, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqh, Faraid, Bahasa, Nahwu dan sebagainya.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Ia mendalami madzhab Hambali hingga menguasai dan berfatwa. Ia menguasai berbagai cabang ilmu keislaman. Penguasaannya dalam bidang ilmu Tafsir tidak tertandingi seorangpun, di bidang Ushul Fiqh, ia adalah pakarnya, di bidang Hadits baik menyangkut makna, fiqih, maupun cara pengambilan kesimpulan yang rumit darinya (istinbath), ia juga tak terkalahkan. Ia sangat menguasai Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Bahasa Arab, Ilmu Kalam, Nahwu dan sebagainya. Ia juga mendalami Ilmu Tasawuf, mengerti ucapan, isyarat, dan seluk-beluk para ahli tasawuf. Di seluruh bidang ini ia memiliki penguasaan ilmu yang sangat luas.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Ia memiliki perhatian terhadap hadits, baik terkait dengan matan maupun perawinya, ia juga bnyak bergelut dan menguasai Ilmu Fiqih, Nahwu, Ushuluddin dan Uhsul Fiqh.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ia mendengar hadits, banyak bergelut dengan ilmu dan menguasai berbagai bidang ilmu, terutama Ilmu Tafsir, Hadits serta Ushuluddin dan Ushul Fiqh.”

Ibnu Taghri Burdi berkata, “Ia sangat menonjol dalam berbagai bidang ilmu, diantarannya: Ilmu Tafsir, Ilmu Nahwu, Ilmu Hadits, Ilmu Ushul dan Ilmu Furu`.”

IBADAHNYA

Siapa yang membaca buku-buku karya Ibnu Qayyim, utamanya buku Madarijus Salikin, niscaya melihat tanda-tanda yang jelas bahwa Ibnu Qayyim rahimahullah sangat memperhatikan amalan hati; dengan keyakinan, iftiqar, ibadah, bersandar dalam kesulitan, dan inabah kepada Allah. Ia sangat kaya dengan amalan hati ini, termasuk salah satu ulama amilin yang merupakan keluarga dan golongan yang diistimewakan Allah.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Beliau rahimahullah seorang yang tekun beribadah dan bertahajud, shalatnya panjang, banyak beribadah dan berdzikir, tenggelam dalam cinta, inabah, istighfar, juga menyatakan kefakiran dan penyesalan kepada Allah, bersimpuh di hadapan-Nya di depan pintu ibadah. Saya (Ibnu Rajab)  tidak pernah melihat orang beribadah seperti dia.”

Kemudian Ibnu Rajab mengatakan, “Beliau juga berhaji beberapa kali dan pernah bermukim di sekitar ka`bah. Para penduduk mekkah bercerita bagaimana kesungguhannya dalam menjalankan ibadah dan sering bertawaf, hal yang menjadikan banyak orang mengaguminnya.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Saya tidak mengetahui di dunia ini di zaman kami yang lebih banyak beribadah daripada dia, ia bisaa shalat sangat panjang, memanjangkan ruku` dan sujudnya. Kadang-kadang sebagian shahabatnya mencelanya, tapi ia tidak surut dari kebisaannya itu, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Seusai melaksanakan shalat Subuh, ia bisaa duduk di tempat untuk berdzikir kepada Allah hingga siang, ia (Ibnu Qayyim-ed) mengatakan, ‘Inilah sarapanku, jika aku duduk sekali saja, maka aku kehilangan kekuatan.”

AKHLAKNYA

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “… Bacaanya bagus, akhlaknya pun demikian, sikapnya kepada orang lain pun sangat simpatik, tidak pernah iri, menyakiti, mencela atau mendengki seorang pun.”

Secara umum, integritas, urusan, dan keadaannya jarang diperbincangkan. Ia seorang yang baik dan berakhlak mulia.

PEKERJAANNYA

Pekerjaannya berdasarkan kesimpulan kami dari beberapa buku biografi adalah:

1. Sebagai Imam di Al-Jauziyah
2. Mengajar di Madrasah Shadriyah dan beberapa tempat lain.
3. Memberikan Fatwa
4. Menulis

MADZHABNYA

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam berbagai biografi mengenainya, disebut sebagai bermadzhab Hanbali, sebagaimana para guru dan muridnya. Namun yang ia lakukan adalah mengikuti pendapat yang didukung oleh dalil seraya membuang fanatisme madzhab yang tercela. Bagaiamana mungkin ia fanatik kepada suatu madzhab sedangkan ia membenci taqlid dan selalu mengingatkan dan menghimbau orang-orang yang bertaqlid untuk mempelajari ilmu. Ia berbicara panjang lebar tentang hukum Ijtihad dan Taqlid di dalam bukunya I`lamul Muwaqqi`in dalam lebih dari seratus halaman.

Sikap Ibnu Qayyim rahimahullah dalam persoalan ini tidak seperti orang-orang yang berlebihan sehingga merendahkan kedudukan para ulama empat madzhab, seperti para penganut Madzhab Zhahiri ekstrim dan orang-orang yang satu pandangan dengan mereka, di mana mereka menyikapi bid`ah taqlid dan bid`ah merendahkan ulama salaf. Ringkasnya, manhaj Ibnu Qayyim adalah mencari dalil dengan tetap menghormati para imam madzhab.

Beliau rahimahullah berkata dalam I`lamul Muwaqqi`in dalam pembahasan Hiyal, “Yang kedua; Mengenali keutamaan, kedudukan, dan hak para ulama. Keutamaan ilmu dan nasihat mereka karena Allah dan Rasul-Nya tidaklah mengharuskan menerima apapun yang mereka katakana. Kesalahan fatwa mereka dalam persoalan yang mereka tidak tahu bagaiamana sabda Rasul mengenainnya, sehingga berpendapat sebatas ilmu mereka sedangkan pendapat yang benar bertentangan dengannya, maka hal ini tidak mengharuskan kita mencampakkan ucapan mereka begitu saja secara keseluruhan, terlebih lagi merendahkan dan mecela mereka. Kedua sikap ini berlebihan, menyimpang dari jalan yang lurus. Jalan yang lurus adalah kita tidak mengatakan mereka berdosa, tapi juga tidak mengatakan mereka ma`shum.”

METODE PENULISANNYA

Metode penulisannya memiliki ciri khas menonjol, di antaranya sebagian tulisan sependapat dengan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, sedangkan sebagian lagi merupakan pendapat pribadi yang berbeda dari pendapat gurunya. Ciri khas ini secara umum telah menjadi metode yang diikuti oleh para penganut alirah Salafiyyah.

Melalui penelitian, diperoleh beberapa aspek penting dari ciri khas tersebut yaitu:

Pertama: Menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan pendapat

Kedua: Mendahulukan pendapat para shahabat radhiyallahu `anhum daripada para ulama setelahnya

Ketiga: Luas dan Lengkap

Keempat: Kebebasan memilih pendapat paling kuat

Kelima: Penjelasan panjang tentang perbandingan pendapat

Keenam: Upaya memahami kelebihan syariat dan hikmah pensyariatan

Ketujuh: Perhatian kepada illat hokum dan alasan pengambilan dalil

Kedelapan: Sensitifitas dan kepekaan terhadap perasaan masyarakat

Kesembilan: Daya tarik dalam metode dan penjelasan

Kesepuluh: Organisasi dan penyusunan kerangka yang baik.

Kesebelas: Sangat jelas dalam ketawadhu-an, permohonan dan doa.

HUBUNGANNYA DENGAN SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Hubungan dengan Ibnu Taimiyah rahimahullah memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Ibnu Qayyim baik dalam aspek ilmu maupun amal. Karena itu, para penulis biografi menyebutkan lama hubungan dan mulazamahnya dengan Ibnu Taimiyah, dnegan menyebutkan pasti tanggal permulaan dan akhirnya

Para penulis bersepakat bahwa ia mulai berhubungan dengan Ibnu Taimiyah pada tahun 712 H, yaitu sejak Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali dari Mesir ke Damaskus dan bermukim di sana hingga wafat pada tahun 728 H.

Ibnu Qayyim rahimahullah terus bermulazamah dengannya sepanjang masa tersebut, artinya selama 16 tahun, Ibnu Qayyim belajar banyak ilmu dalam berbagai bidang darinya.

IBNU QAYYIM BUKAN FOTOKOPI GURUNYA

Saking besarnya cinta Ibnu Qayyim kepada gurunya dan besarnya pengaruh gurunya itu terhadapnya, kadang-kadang terlontar pertanyaan – baik dengan sengaja atau tidak untuk merendahkan kedudukannya – : apakah Ibnu Qayyim memiliki kepribadian independen ? Ataukah ia telah meleburkan diri dalam kepribadian gurunya, Ibnu Taimiyah rahimahullah sehingga ibarat sekedar fotokopi gurunya ?

Bakr Abu Zaid berkata menjelaskan asal-usul pertanyaan ini, “Ini merupakan salah satu pertanyaan dengki Kautsari terhadap Ibnu Qayyim yang memang banyak ditemukan dalam bukunya.”

Kemudian ia (Bakr Abu Zaid-Ed) mengutip dari tulisan Kautsari yang berjudul As-Saifush Shaqil, hlm.193: “Di buku saya ini, pembaca akan menemukan bantahan terhadap Ibnu Taimiyah, sebagaimana juga terhadap Ibnu Qayyim. Namun, nama kedua ini hanya ibarat pantulan suara dari nama pertama dalam seluruh tulisannya, yang tidak memiliki kepribadian tersendiri, ia selalu berada di bawah bayang-bayang nama pertama dalam seluruh pendapatnya dan hawa nafsunya…”

Ia (Bakr Abu Zaid-Ed) juga mengutip tulisan Kautsari yang berjudul Shaf`atul Burhan, hlm. 32: “Ibnu Qayyim Al-Jauziyah secara subtansi tidak berbeda dari gurunya, keduanya ibarat satu baju, yang satu adalah bagian luarnnya sedangkan yang lain bagian dalamnya, yang satu berwarna hitam sedangkan yang lain berwarna putih. Seluruh pekerjaannya hanyalah menjajakan dan mempromosikan dengan gurunya serta bertaqlid kepadanya dalam segala hal, ia sama sekali tidak memiliki pendapat tersendiri, meski ilmunya sangat luas.

Pernyataan Kautsari ini sama sekali tidak ada nilainya, karena ia tidak menguatkan pernyataannya dengan bukti. Ia hanya menyatakan tuduhannya begitu saja, tanpa bukti dan argumentasi. Masalahnya, pernyataan ini cukup laris di kalangan beberapa ulama dan penuntut ilmu sehingga pernyataan serupa bisaa terucap dari lidah mereka. Maka, jadilah ia seakan sebuah fakta yang telah terungkap hakikatnya secara pasti, tanpa dilihat siapa sebenarnya orang yang mengatakannya. Sebenarnya pernyataan ini sama sekali tidak benar ketika dikritisi dengan beberapa pertimbangan:

Pertimbangan Pertama; Penjelasan umum tentang referensi Ibnu Qayyim

Tidak diragukan lagi bahwa ketika menulis sebuah buku Ibnu Qayyim rahimahullah memiliki referensi buku-buku Islam yang sangat luas.

Pembaca menemukan fakta ini secara jelas di dahapannya, di mana buku-buku Ibnu Qayyim didasarkan pada sejumlah referensi yang disebut di tengah-tengah pembahasan, di antaranya adalah Abu Hajaj Al-Mizzi, Syaraf Ibnu Taimiyah, Syihab Al-`Abir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan lain-lain.

Ini menjadi bukti nyata yang menegaskan kepada pembaca tentang kedalaman ilmu Ibnu Qayyim, kekayaan materi dan sumber rujukannya. Ia tidak hanya mengandalkan rujukan gurunya, Ibnu Taimiyah.

Siapa yang memperhatikan salah satu karya tulisannya, niscaya ia menemukan sifat tersebut terlihat secara menonjol dan nyata. Jika hanya fotokopi gurunya, apakah perlu mencantumkan referensi yang begitu luas ?

Pertimbangan Kedua; Ia berbicara tentang berbagai persoalan yang tidak kita lihat terdapat pada karya-karya gurunya

Ini berlaku pada keduanya. Kita menemukan masing-masing dari kedua syaikh yang mulia ini berbicara dan menulis beberapa bab ilmu yang tidak dibicarakan dan ditulis oleh yang lain. Di antaranya:

1)      Bukunya yang berjudul Miftahu Daris Sa`adah Wa Mansyuru Wilayatil `Ilmi Al-Waridah. Tema dan pembahasan dalam buku yang berharga ini secara umum tidak terdapat dalam tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

2)      Bukunya yang sangat bermanfaaat: Zaadul Ma`ad Fii Hadyi Khairil `Ibad, tentang sejarah, sirah Nabi, sekaligus fiqih, serta penjelasan yang teratur ten

4)      Ensiklopedia Ilmiah yang unik, Bada`iul Fawaa-id, yang memuat berbagai penjelasan tentang berbagai persoalan unik dalam bidang ilmu, bahasa, i`rab, fiqih, tafsir dan sebagainnya yang jarang terdapat dalam buku-buku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Semua hal di atas hanya merupakan contoh. Jika kita ingin menjelaskan hal itu secara panjang lebar, tentu tulisan ini menjadi sedemikian panjang. Namun, tujuan tulisan ini adalah memberikan sebagain contoh saja sehingga kita tidak perlu membahas secara keseluruhan.

Setelah ini semua, apakah bisa dibenarkan bila seseoran mengatakan bahwa Ibnu Qayyim hanyalah pantulan suara dari gurunya dan bahwa kepribadian Ibnu Qayyim telah melebur dalam kepribadian gurunya ? Ataukah pernyataan tersebut akan terpatahkan dengan sendirinya setelah disampaikannya fakta-fakta ilmiah mengenainya?

Demikian pula halnya ucapan seseorang: “Dia hanyalah bayang-bayang gurunya dalam segala hal”. Ucapan ini sama sekali tidak benar. Ibnu Taimiyah memiliki karya-karya yang sangat banyak di berbagai bab ilmu yang tidak dibahas dalam karya-karya Ibnu Qayyim, di antaranya:

1)      Bukunya Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah Fii Naqdi Kalamir Rafidhah Wal Qadariyyah, jika kita perhatikan, kita tidak menemukan Ibnu Qayyim menulis bantahan terhadap golongan Rafidhah kecuali sedikit saja.

2)      Bantahan-bantahan Ibnu Taimiyah terhadap para filosof dan ahli mantiq yang sangat banyak. Orang yang memperhatikan buku-buku Ibnu Qayyim akan menemukan bahwa ucapan beliau yang berupa komentar atau kritik terhadap mereka tidak mencapai sepersepuluh yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada keduanya.

3)      Persoalan Tauhid Uluhiyya

Perbandingan ini menunjukkan bahwa masing-masing dari kedua ulam ini menulis berdasarkan penalarannya yang benar, akal yang sehat, dan pikiran produktif yang melahirkan banyak ilmu dan pengetahuan yang telah dipahami dan teruji guna memberikan obat yang tepat bagi penyakit masyarakat yang hidup semasa dengannya.

Pertimbangan Ketiga; Beberapa pendapat yang beliau pilih berbeda dengan pendapat gurunya

Alasan ini bisa dilihat ketika dilakukan penelitian dan perbandingan antara pendapat – pendapat yang telah dipilih oleh kedua ulama ini, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim rahimahumallah, dalam beberapa masalah yang mereka bahas.

Beberapa pendapat beliau yang berbeda dengan gurunya di antaranya tentang:

1.      Hukum yang melaksanakan haji ifrad dan haji qiran, apakah keduanya harus memfasakh haji dan umrah ataukah tidak ?

Ibnu Taimiyah berpendapat wajibnya melakukan hal itu bagi para shahabat dan dibolehkannya hal itu dilakukan oleh orang-orang sesudah mereka. Sedangkan Ibnu Qayyim memiliki pendapat yang berbeda, pertama, beliau berpendapat bahwa semuanya, baik shahabat maupun orang-orang setelah mereka, wajib memfasakh haji manjadi umrah. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam Zaadul Ma`ad, ketika menyebut terjadinya perbedaan pendapat mengenai hal tersebut, kedua, kekhususan kewajiban para shahabat radhiyallahu `anhum dan itu merupakan pendapat yang dipilih oleh guru kami, semoga Allah mensucikan ruhnya. Beliau mengatakan: ‘Dulu mereka diwajibkan memfasakh haji menjadi umrah disebabkan adanya perintah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk melakukannya. Beliau mewajibkan hal itu kepada mereka dan marah kepada para shahabat ketika mereka tidak bersegera melaksanakan perintah itu. Adapun hokum kebolehannya berlaku bagi seluruh ummat hingga hari kiamat.’

Tetapi Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma tidak sependapat dengan itu, beliau menyatakan kewajiban memfasakh haji menjadi umrah ini berlaku bagi seluruh ummat hingga hari kiamat. Maka setiap orang yang melaksanakan haji ifrad maupun qiran, sedangkan ia belum menggiring hewan kurban, maka ia wajib bertahallul. Dan ia harus berstatus halal, meski tidak menginginkannya.

Saya (Ibnu Qayyim) lebih cenderung kepada pendapat Ibnu Abbas daripada pendapat guru kami.”

2.      Tentang Ilat Riba pada empat jenis: gandum, barley, kurma, dan garam

Ibnu Taimiyah memilih pendapat bahwa ilatnya adalah statusnya sebagai makanan yang ditakar atau ditimbang, adapun Ibnu Qayyim menguatkan pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa ilatnya adalah statusnya sebagai makanan pokok.

3.      Juga masalah keraguan mengenai bejana. Apabila terjadi keraguan untuk memastikan antara air yang suci dengan air yang najis, bolehkah berwudhu dari salah satunya atau tidak?

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa boleh berwudhu dari bejana yang manapun dikehendakinya, berdasarkan alasan bahwa air itu tidak menjadi najis kecuali dengan terjadinya perubahan. Adapun Ibnu Qayyim berpendapat untuk beralih kepada alternatif lain, yaitu bertayamum.

Contoh lain mengenai hal ini banyak sekali, ini hanya sebagiannya.

Baiklah, barangkali beberapa alasan di atas cukup bagi orang yang bersikap objektif dan bisa mematahkan alasan para pencela, sekaligus menjadi penjelasan yang menunjukkan bahwa tuduhan ini tidak didasari oleh penilaian yang adil dan benar. Hanya Allah yang memberi hidayah ke jalan yang lurus, Wallahu a `lam.

GURU – GURUNYA

Ibnu Qayyim rahimahullah memiliki banyak guru. Hal itu karena semangatnya yang tinggi dalam menuntut ilmu. Di antara guru – gurunya adalah:

Ayahnya: Abu Bakar bin Ayub Az-Zar`i

Abu Bakar Ahmad bin Abdudaim Al-Maqdisi, w. 718 H.

Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, w. 728 H.

Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman Asy-Syihab Al-`Abir, w. 697 H.

Ismail bin Muhammad Al-Fara` Al-Harrani, Syaikhul Hanabilah, w. 729 H.

Ismail Yusuf bin Maktum Al-Qaisi Asy-Syafi`i, w. 716 H.

Ayub bin Ni`mah Al-Kahal An-Nablusi Ad-Dimasyqi, w. 730 H.

Sulaiman bin Hamzah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali, Ahli Hadits dan Qadhi besar Syam, w. 715 H.

Syarafuddin Abdullah bin Abdul Halim bin Taimiyah An-Numairi, saudara Syaikhul Islam, w. 727 H.

Isa bin Abdurrahman Al-Mutha`im, Ahli Hadits di zamannya, w. 709 H.

Fatimah binti Syaikh Ibrahim bin Mahmud Al-Bathaihi Al-Ba`li, seorang wanita ahli hadits, w. 711 H.

Badr Ibnu Jama`ah: Muhammad bin Ibrahim bin Jama`ah Al-Kanani Asy-Syafi`I, seorang Imam yang termasyhur dan memiliki banyak karya tulis, w. 733 H.

Muhammad bin Abi Fath Al-Ba`albaki Al-Hanbali, beliau seorang ahli fiqih, bahasa, dan nahwu, w. 709 H.

Dzahabi: Muhammad bin Ahmad bin `Utsman Adz-Dzahabi, seorang ulama yang masyhur, ahli sejarah Islam, w. 748 H.

Muhammad Shafiyyudin bin Abdurrahim Al-Armawi Al-Hindi Asy-Syafi`i, seorang ahli fiqih dan ushul fiqih, w. 715 H.

Zamlakani: Muhammad bin Ali Al-Anshari Asy-Syafi`I putra Khatib Zamlaka lalu ia menerima jabatan Qadhi Aleppo. Ia menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, w. 727 H.

Ibnu Muflih: Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbali, w. 763 H.

Al-Mizzi: Yusuf bin Abdurrahman Al-Qadha`i Ad-Dimasyqi, yang dijuluki Imamul Muhadditsin (Imam para Ahli Hadits) dan Khatimul Huffazh (penutup para hafizh), w. 742 H.

MURID – MURIDNYA

Banyak orang yang berguru kepadanya – karena keimaman, keutamaan serta keilmuannya – yang kemudian menjadi ulama muktabar, di antaranya:

Putranya: Ibrahim, Burhanuddin bin Muhammad bin Abu Bakar Az-Zar`i, ia seorang yang sangat cerdas luar biasa, w. 756 H.

Ibnu Katsir: Ismail Imaduddin Abul Fida` bin Umar bin Katsir al-Quraisyi Asy-Syafi`i, seorang imam dan hafizh yang termasyhur, w. 774 H.

Ibnu Rajab: Abdurrahman bin Ahmad Al-Hanbali, penulis banyak buku yang bermanfaat, w. 795 H.

As – Subki: Ali bin Abdul Kafi As-Subki, w. 756 H.

Adz – Dzahabi: ia juga merupakan gurunya, jadi masing-masing saling berguru.

Ibnu Abdil Hadi: Muhammad Syamsuddin bin Ahmad bin Abdul Hadi Al-Maqdisi, Ash-Shalihi Al-Hanbali, seorang hafizh dan kritikus, seorang imam yang cukup popular, w. 797 H.

An-Nablusi: Muhammad bin Abdul Qadir An-Nablusi Al-Hanbali, popular dengan Al-Jinnah, w. 797 H.

Al-Ghazzi: Muhammad bin Muhammad bin Khudhar Al-Ghazzi Asy-Syafi`i w. 808 H.

Al-Fairuz Abadi: Muhammad bin Yaqub Abu Thahir Asy-Syafi`i, penulis Al-Qamus Al-Muhith dan memiliki banyak karya tulis lainnya, w. 817

Muhammad bin Muhammad bin Abu Bakar Al-Quraisyi Al-Muqari At-Tilmisani, w. 759 H.

Dan tak terhitung murid-muridnya yang lain.

KARYA TULISNYA

Ibnu Qayyim rahimahullah, otaknya tajam pena-nya mengalir. Karena itu, banyak karya tulisnya dan ia termasuk jago di bidang ini, selain itu, ia seorang yang jujur dan amanah, karena itu Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Semua karya tulisnya digemari para pembaca dari berbagai kelompok.” Jumlah buku yang ditulisnya mencapai seratus, di antaranya sebagai berikut:

1.      Al – Ijtihadu wa Taqlid

2.      Ijtima`ul Juyusy Al-Islamiyyah `ala Ghazwil Mu`aththilah wal Jahmiyyah

3.      Ahkamu Ahlidz Dzimmah

4.      Asma`u Mu`allafati Ibni Taimiyyah.

5.      Ushulut Tafsir

6.      Al-I`lamu bit-tisa`I Thu

14.  Bada`i-ul Fawaa-id

15.  Buthlanul Kimiya`I min Arba`in Wajhan

16.  Bayanul Istidlali `ala Isytirathi Muhallilis Sibaqi wan Nidhal.

17.  At-Tibyanu fii Aqsami Qur`an

18.  At-Tahbir lima Yahillu wa Yahrumu min Libasil Harir

19.  At-Tuhfatul Makiyyah

20.  Tuhfatul Maududi fii Ahkamil Maulud

21.  Tuhfatun Nazilin bi Jiwari Rabbil `alamin

22.  Tadribur Ri`asah fil Qawa`idil Hukmiyyah bidz-Dzaka`I wal Qarihah

23.  At-Ta`liqu `alal Ahkam

24.  Tafdhilu Makkah `alal Madinah

25.  Tahdzibu Mukhtasari Sunnan Abi Dawud

26.  Al-Jami` Bainas Sunani wal Atsari

27.  Jala`ul Afhami Fish Shalati was Salami `alal Khairil Anami

28.  Jawabtu `Abidish Shalbani wa Anna maa hum `alaihi Diinusy Syaithaan.

29.  Al-Jawaabusy Syaafi liman sa`ala `an Tsamaratid Du`a-I Idzaa Kaana maa Qad Quddira Waaqi`.

30.  Haadil Arwaahi ilaa Bilaadil Afraahi

31.  Al-Haamilu Hal Tahiidhu Am Laa?

32.  Al-Haawii.

33.  Hirmatus Simaa`i.

34.  Hukmu Taarikhish Shalaah

35.  Hukmu Ighmaami Hilaalil Ramadhaan

36.  Hukmu Tafdhiili Ba`dhil Aulaadi `ala Ba`dhin fil `Athiyyah

37.  Ad-Daa`u Wad Dawaa`u yaitu yang popular dengan judul: Al-Jawaabul Kaafi liman sa`ala `anid Dawaa`isy Syaafi

38.  Dwaa`ul Quluub

39.  Rabii`ul Abraari fish Shalaati `alan Nabiyil Mukhtaar

40.  Ar-Risaalah Al-Halabiyyah fith Thariiqah Al-Muhammadiyyah

41.  Ar-Risaalah Asy-Syaafiyah fii Ahkaamil Mu`awwidzatain.

42.  Risaalatu Ibnil Qayyim ilaa Ahadi Ikhwaanih

43.  Ar-Risaalah At-Tabuukiyyah

44.  Raf`ut Tanzil

45.  Raf`ul Yadain fish Shalaah

46.  Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaaqin

47.  Ar-Ruuh

48.  Ar-Ruuh wan Nafs

49.  Zaadul Musaafirin ilaa Manaazilis Su`ada`I fi Hadyi Khaatimuil Anbiyaa

50.  Zaadul Ma`aad fii Hadyi Khairil `Ibaad

51.  As-Sunnah wal Bid’ah

52.  Syarhul Asma`il Kitaabil `Aziz

53.  Syarhul Asma`il Husnaa

54.  Syifaa`ul `Aliil fii Masaa`ilil Qadhaa`i Wal Qadari wal Hikmati wa Ta`liil

55.  Ash-Shabru wa Sakan

56.  Ash-Shiraathul Mustaqiim fii Ahkaami ahlil Jahiim

57.  Ash-Shwaa`iqul Munazzalah `alal Jahmiyyah wal Mu`aththilah

58.  Ath-Thaa`uun

59.  Thibbul Quluub

60.  Thariiqul Hijratain wa Baabus Sa`aadatain

61.  Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah fis Siyaasah Asy-Syar`iyyah

62.  Thariiqatul Basha`ir ilaa Hadiiqatis Saraa`ir fii Nuzhumil Kabaa`-ir

63.  Thalaaqul Haa`idh

64.  `Uddatush Shaabiriin Wa Dzakhiiratusys Syaakiriin

65.  `Aqdu Muhkamil Ahibbaa`i bainal Kalimith Thayyib wal `Amalish Shaalih al-Marfuu`i ilaa Rabbis Samaa-i

66.  Al-Fataawaa

67.  Al-Fathul Qudsiy

68.  Al-Fathul Makkiy

69.  Al-Farqu banal Khullah wal Mahabbah

70.  Al-Furuusiyyah

71.  Al-Furuusiyyah Asy-Syar`iyyah

72.  Fadhlul `Ilmi wa Ahlihi

73.  Fawaa-idu fi Kalaami `alaa Haditsil Ghamaamah wa Haditsil Ghazaalah wadh Dhabb

74.  Al-Fawaa-id

75.  Qurratu `Uyuunil Muhibbin wa Raudhatu Quluubil `Aarifin

76.  Al-Kaafiyatusy Syaafiyatu fin Nahwi

77.  Al-Kaafiyatusy Syaafiyatu fl Intishaari lil Firqatin Naajiyah

78.  Al-Kabaa-ir

79.  Kasyful Ghithaa`I `an hukmi Simaa`il Ghinaa`i

80.  Al-Kalimuth Thayyibu wal `Amalush Shaalihu

81.  Al-Lamhah fir Raddi `alaa Ibni Thalhah.

82.  Madaarijus Saalikiin baina Manaazili: Iyyaaka Na`budu wa Iyyaaka Nasta`in

83.  Al-Masaa`iluth Tharabluusiyyah

84.  Ma`aanil Adawaati wal huruufi

85.  Miftaahu Daaris Sa`aadati wa Mansyuuru Alwiyatil `Ilmi wal Iraadah

86.  Muqtadhas Siyaasati fi Syarhi Nukatil Hamaasah

87.  Al-Manaarul Muniifu fiish Shahiihi wadh Dha`iifi

88.  Manaaqibu Ishaaqi Ibni Raahuyah

89.  Al-Mauridush Shaafi wazh Zhillul Waafi

90.  Maulidun Nabiyyi Shallallahu `alaihi wa sallam

91.  Al-Mahdiy

92.  Al-Muhadzdzab

93.  Naqdul Manquuli wal Mahkul Mumayyizi bainal Maqbuul wal Marduud

94.  Nikaahul Muhrim

95.  Nuurul Mu`min wa

Mungkin ada yang bertanya, mengapa banyak buku karya Ibnu Qayyim yang hilang, begitu pula karya – karya gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah?

Jawabannya:
Ibnu Qayyim rahimahullah menghadapi permusuhan yang sengit semasa hidupnya dan setelah wafatnya masih terdapat orang-orang yang tidak suka jika pandangan cemerlang Ibnu Qayyim tetap bertahan. Akibatnya buku-buku karyanya dan karya gurunya, Syaikhul Islam dikumpulkan dan dibakar oleh musuh-musuh dakwah kepada manhaj salaf ini.

Salah seorang yang berperan besar dalam pembakaran buku-buku tersebut adalah Amir Abdul Qadir bin Muhyidin Al-Husaini Al-Jazairi, w. 1300 H, ketika ia bermukim di Damaskus.

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan dalam “Muqaddimah Al-Kalimatuth Thayyib”: “Salah seorang amir yang tinggal di Damaskus pada abad lalu, seorang yang memiliki kekuasaan dan harta cukup besar, mengumpulkan buku-buku karya Syaikhul Islam dan muridnya, Ibnu Qayyim, lalu membakarnya. Jika ia tidak berhasil meyakinkan pemiliknya supaya membakar buku tersebut, maka ia membelinya atau memintanya. Kadang-kadang ia menggunakan cara lain untuk memusnahkannya, karena pembelaannya terhadap madzhab huluul dan ittihaad (wihdatul wujud). Pandangan ini telah dibongkar kepalsuannya oleh Ibnu Qayyim dengan hujjah-hujjah dari Allah yang sangat kuat.” Hal itu dikarenakan “sang amir” menganut madzhab ini.”

PUJIAN ULAMA KEPADANYA

Sebagian pujian tersebut telah dikemukakan dalam pembicaraan mengenai ilmu seperti pujian dan penjelasan mengenai kedudukan dan derajat keilmuannya yang agung.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata mengenainya: “Aku tidak pernah melihat orang yang

Al-Alusi berkata: “Ia seorang pakar di bidang Tafsir, Nahwu, Ushul dan Kalam”

Maraghi berkata: “Ia seorang ahli Ushul, Hadits Nahwu, dan Sastra juga seorang juru nasihat dan khatib.”

Telah dikemukakan pula komentar Ibnu Rajab: “… ia menguasai berbagai bidang ilmu keislaman. Ia memiliki pengetahuan Tafsir yang tak tertandingi, tentang ushuluddin yang paripurna, juga tentang hadits berikut makna, fiqih, dan detail persoalan pengambilan kesimpulan darinya yang tiada dikuasai oleh orang lain. Begitu pula tentang fiqih dan Ushul Fiqh, Bahasa Arabnya luas, begitu pula ilmu kalam, nahwu, dan sebagainya. Ia mengerti ilmu Suluk (Tasawuf) serta ucapan, isyarat dan seluk-beluk ahli tasawwuf. Ia memiliki wawasan luas dalam berbagai bidang ilmu.”

WAFATNYA

Beliau rahimahullah wafat pada malam Kamis, 13 Rajab ketika adzan Isya` tahun 751 H. dengan demikian usianya genap 60 tahun.

Esok harinya ia dishalatkan di Masjid Jami` Umawi, selepas shalat Dzuhur, kemudian di Masjid Jami` Jarah. Para hadirin yang mengantar jenazahnya penuh sesak.

Ibnu Katsir berkata, “Penguburan jenazahnya sangat ramai, disaksikan oleh para qadhi`, tokoh dan orang-orang shalih biak dari kalangan elit maupun awwam. Orang-orang berdesakkkan untuk memikul kerandanya.”

Ia dimakamkan di Damaskus di Pemakaman Bab Shagir, berdampingan dengan ibunya, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada keduanya.

[Disadur dari Kitab Ighasatul Lahfan min Mashaa-idisy Syaithan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, tahqiq: Khalid Abdul Lathif As-Saba` Al-`Alami, cetakan.1, Darul Kitab Al-Araby, Beirut, edisi terjemahan: Ighasatul Lahfan Menyelamatkan Hati dari TIpu Daya Setan “Edisi Lengkap” Cetakan. IV (Edisi Lengkap Revisi), Desember 2011 M, Pustaka Al-Qowam.]


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: