khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Adab & Akhlak » Adab Menamai Anak

Adab Menamai Anak


Yang Berhak Menamai Anak

Ketahuilah bahwa seorang ayah lebih berhak untuk memberikan nama kepada anak yang baru lahir, dan seorang ibu tidak berhak untuk menentangnya hal ini karena sebagai keutamaan suami, namu lebih utama lagi apabila suami-istri itu bermusyawarah dan keduanya ridha atas hasil musyawarah penamaan anaknya itu, akan tetapi apabila keduanya saling bertentangan maka yang lebih berhak adalah suami.

Memilih Nama

Seorang ayah wajib memilih nama yang baik untuk anaknya baik dalam sisi lafazh (text) maupun makna (arti) dengan pertimbangan makna yang baik menurut Dien (agama) dan Bahasa Arab. Nama yang baik adalah nama-nama yang memiliki arti yang mulia dan menunjukkan sifat yang benar serta tidak termasuk nama-nama yang diharamkan dien.

Di antara nama-nama yang baik adalah:

1. ‘Abdullah dan Abdurrahman

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” [HR. Muslim no. 2132]

Karena nama tersebut adalah nama terbaik, bahkan di kalangan para sahabat banyak yang bernama Abdullah, Semisal;

Abdullah bin Abu Aufa (wafat 86 H)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abu Aufa Al-Aslami, dijuluki dengan Abu Muawiah. Sahabat yang ikut dalam Perdamaian Hudaibiah dan peristiwa-peristiwa lainnya ini, berdomisili di Kota Madinah sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. wafat, setelah itu beliau pindah ke Kota Kufah. Dialah sahabat yang terakhir meninggal di sana.

Abdullah bin Amru bin Haram (wafat 3 H/ 635 M)

Seorang sahabat yang terpandang di kalangan peserta baiat Akabah dan perang Badar, di mana beliau ini termasuk pimpinannya. Beliau meninggal dalam perang Uhud. Diriwayatkan bahwa malaikat membayang-bayangi jenazahnya di saat kematiannya

Abdullah bin Jakfar (wafat 80 H)

Abdullah bin Jakfar bin Abu Thalib yang dijuluki dengan Abu Jakfar ini adalah seorang sahabat yang pertama lahir di Abessina pada masa awal Islam. Dia datang ke Kota Madinah bersama ayahnya dan banyak menghafal serta meriwayatkan hadis langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau wafat di Kota Madinah.

Abdullah bin Mughaffal (wafat 57 H.).

Abdullah bin Mughaffal Al-Mazani, adalah seorang sahabat yang sempat ikut dalam Baiatus Syajarah (sumpah prasetia di bawah sebatang pohon) dalam peristiwa Baiat Ridwan. Beliau masuk kelompok orang-orang yang diutus Khalifah Umar bin Khattab mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada kaum muslimin di Kota Basrah, kemudian beliau menetap di kota tersebut dan meninggal dunia di sana.

Abdullah bin Rawahah (wafat 8 H)

Sahabat asal Ansar dari suku Khajraj ini termasuk orang yang memeluk agama Islam dari sejak dini yang merupakan salah seorang pimpinan dalam baiat Akabah. Berliau ini sempat mengikuti perang Badar dan peperangan-peperangan sesudah itu, akhirnya beliau meninggal dalam perang Muktah.

Abdullah bin Salam (wafat 43 H)

Sahabat yang sebelumnya penganut Yahudi ini memasuki Islam segera setelah kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam hijrah ke Madinah. Beliau mengikuti perang penaklukan Baitulmakdis bersama Umar bin Khattab dan akhirnya beliau meninggal di Madinah.

Abdullah bin Umar bin Khattab (wafat 73 H)

Sahabat pemuka Quraisy ini memeluk Islam bersama ayahnya semasa kecil dan mengikuti hijrah bersama ayahnya ke Madinah. Beliau termasuk pemuka, ilmuan dan juru fatwa kaum muslimin. Beliau mengikuti penaklukan kota Mekah, perang Yarmuk dan penaklukan Mesir. Dia meninggal di Mekah.

Abdullah bin Ummi Maktum (wafat 14 H)

Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau meninggal dalam perang Qadisiah membawahi sebuah brigade.

Abdullah bin Zaid (wafat 32 H)

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Zaid bin Tsalabah Al- Anshari Al-Khajraji, dijuluki dengan Abu Muhammad. Sahabat ini berdomisili di Kota Madinah, beliaulah orang yang pernah memimpikan bunyi azan dikumandangkan.

Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshari (7-63 H)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Zaid bin Ashim bin Kaab An-Naggari Al-Anshari, dijuluki Abu Muhammad. Sahabat ini berdomisili di Kota Madinah dan sempat mengikuti Perang Badar. Beliaulah yang membunuh Musailamatul Kazzab di waktu Perang Yamamah. Beliau meriwayatkan 48 buah hadis dan gugur dalam peristiwa Harrah tahun 63 H/683 M.

Abdullah bin Zam’ah (wafat 35 H)

Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Zam’ah bin Aswad Al-Qurasyi Al-Asadi, seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau hidup dan meninggal dunia di Kota Madinah.

Abdullah bin Zubair (wafat 73 H)

Beliau ini adalah putra pasangan Zubair bin Awam dan Asma binti Abu Bakar. Dia ikut serta dalam berbagai penaklukan, dia ikut berjuang di barisan Aisyah dalam perang Jamal. Beliau minta bela atas penguasa Umaiah di Hijaz, beliau mengklaim dirinya sebagai khalifah sepeninggal Yazid bin Muawiah dengan membuat kota Madinah sebaga pusat pemerintahan. Kekuasaannya berkelanjutan selama sembilan tahun akhirnya ditumbangkan oleh Hajjaj As Tsaqafi dalam suatu peperangan di Mekah.

Dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan disini.

2. Nama-nama yang diawali dengan kata ‘Abdu yangg disandarkan kepada Asmaa`ul Husnaa.

Contoh:
‘Abdu Al-Aziz (Abdul Aziz)
‘Abdu Al-Latif (Abdul Latif)
‘Abdu Al-Karim (Abdul Karim)

3. Nama-nama para Nabi & Rasul dan Nama-nama orang shalih dari kalangan kaum muslimin yang diawali dengan nama para shahabat

Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” [HR. Muslim no. 2135 & At-Tirmidzi no. 3155]

Di antara nama-nama yang diharamkan adalah:

1. Nama yang diawali kata ‘Abdu (hamba) dan disambungkan kepada selain Allah.

Contoh:
Abdusy Syam (Hamba Matahari)
Abdur Rasul (Hamba Rasul)
Abdul Husain (Hamba Husain)

2. Memberi Nama-nama khusus milik Allah tanpa disertai ‘Abdu (hamba).

Contoh:
Ar-Rahman
Al-Khaliq
Al-Aziz

3. Memberi nama dengan nama yang khusus bagi orang kafir.

Contoh:
Fir’aun
Siwa
Frankenstein

4. Memberi nama dengan nama Malikul Amlak (Rajadiraja), Sulthanus Salathin dan Syahin Syah.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَغْيَظُ رَجُلٍ عَلَى اللهِ يَومَ الْقِيَامَتِ وَ أَخْبَثُهُ وَ أَغْيَظُهُ عَلَيْهِ رَجُلٌ كَانَ يُسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ لاَ مَلِكَ إِلاَّ اللَّهِ

“Manusia yang paling dimurkai Allah nanti pada hari kiamat yang paling keji dan yang paling dibenci-Nya adalah laki-laki yang bernama Malikul Amlak. Sesungguhnya tiada raja yang haq selain Allah subhanahu wa ta’ala.” [HR. Muslim]

Wallahu a’lam.

Tangerang, 21 Jumadil Tsani 1434 H / 2 Mei 2013 M

Yudha Abdul Ghani


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: