khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Sejarah & Kisah » Sejarah Kesyirikan Bangsa Arab Jahiliyyah (Kisah: Amru bin Luhay)

Sejarah Kesyirikan Bangsa Arab Jahiliyyah (Kisah: Amru bin Luhay)


Mayoritas bangsa Arab mengikuti dakwah Nabi Isma’il ‘alaihissalaam, yaitu tatkala beliau menyeru kepada agama bapaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Inti ajarannya ialah beribadah kepada Allah ta’ala, mentauhidkan-Nya (baca: mengesakan) dan memeluk agamanya.

Waktu bergulir sekian lama sehingga banyak di antara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. Meskipun demikian, masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syi`ar dari agama Ibrahim, hingga muncul Amru bin Luhay, seorang pemimpin Bani Khuza’ah. Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal suka berbuat kebajikan, mengeluarkan, sedekah dan peka terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani.

Suatu saat dia (Amru bin Luhay) mengadakan safar (perjalanan) ke Syam, di sana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan dia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik dan benar[1], karena menurutnya Syam adalah tempat para Rasul dan Kitab. Karena itu dia pulang sambil membawa berhala Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk berbuat kesyirikan terhadap Allah ta’ala. Orang-orang Hijaz pada akhirnya banyak yang mengikuti [2] penduduk Mekkah karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci.[3]

Berhala mereka yang tertua adalah Manat, yang ditempatkan di Musyallal di tepi Laut Merah di dekat Qudaid, kemudian mereka membuat (berhala) Lata di Tha’if dan Uzza di Wadi Nakhlah. Inilah tiga berhala yang paling besar. Setelah itu kesyirikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di setiap tempat di Hijaz.

Dikisahkan bahwa Amru bin Luhay mempunyai khadam (pembantu) dari bangsa Jin, dan Jin ini memberitahukan kepadanya bahwa berhala-berhala kaum Nabi Nuh ‘alaihissalaam terpendam di Jeddah.[4] Maka dia pun datang ke sana dan mengangkatnya kemudian membawanya ke Tihamah, setelah musim haji tiba, dia pun menyerahkan berhala-berhala itu kepada berbagai kabilah. [5]

Akhirnya berhala-berhala itu kembali ke tempat asalnya masing-masing, dengan demikian di setiap kabilah dan di setiap rumah hampir bisa dipastikan ada berhalanya. Selain itu, mereka memenuhi Masjidil Haram dengan berbagai macam berhala dan patung. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah, di sekitar Ka’bah terdapat 360 berhala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghancurkan berhala-berhala itu hingga runtuh semua, kemudian beliau memerintahkan agar berhala-berhala tersebut dikeluarkan dari masjid dan dibakar. [6]

Demikianlah kisah kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala yang menjadi fenomena terbesar dari agama orang-orang Jahiliyah yang menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim. Mereka juga memiliki
beberapa tradisi dan upacara penyembahan berhala yang mayoritasnya adalah kreasi Amru bin Luhay. Orang-orang mengira apa yang dikreasikan oleh Amru bin Luhay itu merupakan sesuatu yang baru dan baik serta tidak merubah agama Ibrahim.[7]

[Sabtu, 22 Jumadi Tsani 1434 H / 3 Mei 2013 M, (11:00 pm), Disarikan dari Kitab Ar-Rahiiqul Makhtuum Bahtsun Fis Siraatin Nabawiyyati ‘ala Shahibiha Afdhalush Shalati wa Sallam, karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri]

________________________
1. Bid’ah yang merbak di masa kini pun diawali karena menurut pendapat manusia itu baik lagi benar padahal tidak terdapat tuntunan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ Salaf, hal ini sebagaimana Amru bin Luhay yang telah berbuat bid’ah terhadap ajaran Nabi Ismail ‘alaihissalaam yang sebelumnya dianut.

2. Perbuatan Penduduk Hijaz yang mengikuti perbuatan penduduk Mekkah, Inilah perbuatan taklid buta; yaitu mengikuti sesuatu tanpa ilmu, mengikuti sesuatu yang dianggapnya benar tanpa timbangan Syariat Allah ta’ala.

Firman Allah ta’ala:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya
. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya
.”
(Surat Al Isra ayat 36 )

3. Lihat: Mukhtashar Siratur Rasul, Syaikhul Islam Muhammad At-Tamimi (hlm. 12).

4. Yaitu; Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, inilah berhala-berhala yang disembah oleh kaum musyrikin di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalaam.

5. Lihat: Shahih Al-Bukhari (1/222).

6. Lihat: Shahih Al-Bukhari (1/13, 50-52, dan 54).

7. Semoga kisah ini dapat dijadikan pelajaran bagi saya (khususnya) dan pembaca sekalian, dan semoga terbuka pemikiran-pemikiran yang tersaput oleh syubhat para pelaku bid’ah utamanya yang terjadi di masa kini. Pentingnya mengetahui perilaku kaum Jahiliyyah adalah agar kita tidak terjerembab ke dalam perilaku jahiliyyah tersebut, perhatikanlah hadits berikut dengan baik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ

Ada empat perkara jahiliyah yang ada pada umatku, yang mereka tidak meninggalkannya ; yaitu
(1) Mencaci keturunan,
(2) Membanggakan kedudukan,
(3) Meratapi orang mayat, serta
(4) Mengaitkan turunnya hujan dengan bintang-bintang.”[HR Bukhari dan Muslim, dan lafazh dari Muslim no. 934]


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: