khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah


Tauhid

——–oOo——–

1. MUQADDIMAH

——–oOo——–

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-bena r takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang agung.”(QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

——oOo————

2. PENJELASAN TAUHID

——oOo————

1. Definisi Tauhid

Tauhid menurut bahasa adalah bentuk mashdar dari (وَحَّدَ- يُوَحِّدُ- تَوْحِيْدًا) Yakni: جعل الشيء واحدا (menjadikan sesuatu itu satu)

Tauhid menurut Syar’i adalah:

إفراد اللَّه سبحانه بما يختص به من

الربو بية ولأالو هية ولأ سماء والصفات

Mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, berupa Rububiyah, Uluhiyah, Nama-nama dan Shifat.

 

2. Macam-macam Tauhid

Tauhid terbagi menjadi Tiga Macam

1. Tauhid Rububiyah

2. Tauhid Uluhiyah

3. Tauhid Asma dan Shifat

 

Pertama: Tauhid Rububiyah

هو إفراد اللَّه عز وجل باخالق , والملك والتدبير

Adalah mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam hal Penciptaan, Kepemilikan, dan Pengurusan.

1.1.  Pengesaan Allah dalam Penciptaan:

 

أن يعتقد الإنسان أنه لاخالق إلا اللَّه

Adalah keyakinan manusia bahwa tidak ada pencipta selain Allah (semata),

Firman Allah Ta’ala:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah adalah hak Allah.” (Al-A’raaf:54)

kalimat ini mengharuskan pembatasan karena khabar-nya didahulukan. Sebab mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan berarti mengharuskan pembatasan, firman Allah Ta’ala:

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi” (Fathir: 3)

Ayat ini berfaidah sebagai pengkhususan penciptaan makhluk bagi Allah, adapun tentang disebutkannya penetapan pencipta selain Allah, sebagaimana firman-Nya,

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“maka Mahasuci Allah yang paling baik diantara para pencipta,” (Al-Mu’minuun:14)

begitu pula sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang membuat gambar bernyawa, lalu dikatakan kepada mereka:

أحيوا ما خلقتم

“Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan“ [Dari hadits Ibnu Umar, ditakhrij oleh Imam Bukhari dalam shahih-nya, Kitab al-Libas / Bab Adzab Al-Mushawwirin Yaumal Qiyamah (10/283), Muslim di dalam shahih-nya Kitab Al-Libas waz Zinah, Bab Tahrim Thaswir Shurah Al-Hayawan (3/1670)]

maka hal ini bukanlah penciptaan yang hakiki, dan bukan mengadakan setelah tidak ada, tetapi itu berarti mengubah dar satu keadaan ke keadaan lain (inovasi) dan itu pun tidak menyeluruh, tapi terbatas menurut kemampuan manusia, terbatas pada lingkup yang sempit dan tidak menafikan perkataan kami: Pengesaan Allah dalam mencipta.

 

2.1. Pengesaan Allah dalam Kepemilikan:

 

فأن نعتقد لا يملك الخلق إلا خالقهم

adalah kita meyakini bahwa tidak ada yang memiliki makhluk (ciptaan) kecuali yang menciptakan mereka, sebagaimana firman-Nya:

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit & bumi (Ali Imran: 189) katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu (Al-Mu’minun: 88)

Dan Tentang disebutkan penetapan kepemilikan bagi selain Allah, seperti firman-Nya:

“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal itu tiada tercela.” (Al-Mu’minun: 6)

Dan firman-Nya:

“Atau rumah yang kalian miliki kuncinya.” (An-Nur: 61)

Maka hal tersebut adalah kepemilikan yang mahdud (terbatas) tidak mencakup kecuali satu dua hal yang kecil dari makhluk-makhluk ini. Maka manusia hanya bisa memiliki apa yang ada di bawah tangannya, dan dia tidak memiliki apa yang ada ditangan orang lain. Itupun merupakan kepemilikan terbatas ditinjau dari sifatnya. Dan manusia pun tidak bisa memiliki atas apa yang dimilikinya dengan kepemilikan sempurna (baca: seutuhnya). Maka dari itu dia tidak boleh menggunakannya kecuali menurut cara yang diperbolehkan untuknya yang sesuai menurut syariat.

Contohnya:

Bila seseorang hendak membakar hartanya, atau menyiksa hewan (peliharaan)-nya.

Kami katakan: “(perbuatan itu, pen-) Tidak Boleh”

Sedangkan Allah memiliki segalanya dengan kepemilikan yang sempurna dan seluruhnya.

 

3.1. Pengesaan Allah dalam Pengurusan:

 

أن يعتقد الإنسان أنه لامدبر إلا اللَّه وحده

Adalah keyakinan manusia bahwa tidak ada yang mampu mengurusi kecuali Allah semata.

Adapun pengurusan manusia terbatas pada apa yang dibawah kemampuannya dan terbatas pada apa yang diizinkan baginya menurut syariat.

Dan jenis Tauhid ini tidak ditentang orang-orang musyrik yang kepada merekalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus bahkan mereka mengakui (tauhid jenis ini).

Firman-Nya:

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Az-Zukhruf: 9)

Mereka mengakui bahwa Allah-lah yang mengatur segala urusan dan di tangan-Nyalah kerajaan langit & bumi.

Dan tidak seorang pun dari keturunan Adam yang mengingkari hal ini. Tak seorang pun diantara diantara makhluk yang berkata: “Alam ini mempunyai dua pencipta yang sama”

Tak seorang pun mengingkari tauhid rububiyah, tidak dengan cara peniadaan dan tidak pula dengan cara penyekutuan, kecuali orang semacam fir’aun yang ia mengingkarinya (yakni: tauhid rububiyah) dengan cara peniadaan dan kesombongan, dia (fir’aun) meniadakan rububiyah Allah dan bahkan mengingkari wujud-Nya,

Firman-Nya:

“Dia (fir’aun) berkata, akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An-Nazi’at: 24)

“Aku tidak mengetahui tuhan bagi kalian kecuali aku.” (Al-Qashash: 38)

Inilah kesombongan dari Fir’aun, karena dia mengetahui bahwa tuhan adalah selainnya sebagaimana firman-Nya:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka).” (An-Naml: 14)

Allah berfirman tentang Musa, ketika ia berdialog dengan fir’aun:

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi.” (Al-Isra: 102) tapi jauh di dalam hatinya, fir’aun mengakui bahwa Rabb adalah Allah ‘azza wa jalla.

Dan yang mengingkari tauhid rububiyah dengan cara penyekutuan adalah orang-orang majusi, mereka berkata:

إن للعالم خالقين هما الظلمة و النور

“Alam ini punya dua pencipta: cahaya dan gelap.”

walaupun demikian mereka tidak menganggap dua pencipta ini sama.

Mereka (majusi) berkata: “Sesungguhnya cahaya lebih baik daripada gelap, karena ia menciptakan kebaikan, sedang kegelapan menciptakan keburukan. Yang menciptakan kebaikan lebih baik daripada yang menciptakan keburukan.”

Dan juga mengatakan: bahwa kegelapan merupakan ketiadaan yang tidak bisa menyinari, sedangkan cahaya merupakan wujud yang dapat menyinari, yang dzatnya lebih sempurna.

Mereka juga mengatakan jenis ketiga:

“Apakah cahaya lebih dahulu, menurut istilah para filosofis? Mereka saling berbeda pendapat tentang kegelapan, apakah ia sesuatu yang lama atau baru?

Ada dua pendapat tentang hal ini,

Dalil Aqli yang menyatakan bahwa pencipta itu hanya satu:

Firman Allah Ta’ala:

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain.” (Al-Mu’minun: 91)

Sebab jikalau kita menetapkan bahwa alam ini dua pencipta, tentunya setiap pencipta berambisi untuk menyendiri dengan apa-apa yang diciptakannya dan dia ingin berdiri sendiri seperti kebiasaan para penguasa (baca: raja). Tentunya dia pun tidak ridha kalau ada (tuhan) yang lain yang bersekutu dengannya.

Jika ia berdiri sendiri:

maka sesungguhnya ia pun menginginkan perkara lain, dan ia menginginkan kekuasaan untuknya yang tidak disertai seorang pun didalamnya.

Dalam kondisi seperti ini, jika masing-masing tuhan menginginkan kekuasaan, maka boleh jadi dia tidak mampu mengalahkan tuhan lain, atau boleh jadi dia mampu mengalahkannya. Jika satu tuhan dapat mengalahkan tuhan yang lain maka barulah ada pengakuan rububiyah baginya. Jika masing-masing tidak mampu mengalahkan yang lain maka rububiyah tidak layak diberikan kepada masing-masing (tuhan) karena siapa yang lemah tidak pantas dikatakan sebagai Rabb.

[Alhamdulillah, Risalah bag.1 ini telah selesai disusun pada hari Jum’at, 2 Sya’ban 1433 H / 22 Juni 2012 (09:00 WIB)]

Maraji:

Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Juz I, hal. 5-9 Cet. Daar al-’Ashimah.


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: