khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Shalat » Pengertian Shalat

Pengertian Shalat


Pengertian SHalatDisusun oleh:

Yudha Abdul Ghani

 

  • PENGERTIAN SHALAT

Shalat menurut etimologi (bahasa) adalah الدُّعَاءُ (do’a)

Sebagaimana Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata; ini adalah pendapat kebanyakan dari kalangan ahli bahasa dan ahli fiqih, menggunakan do’a dengan menyebut shalat telah dikenal dalam bahasa Arab, hubungan antara do’a dan shalat bersifat parsial, karena do’a adalah bagian dari shalat dan shalat menjadi pelengkap dengan do’a tersebut.

Shalat menurut terminologi (Syariat) ialah

أَقوالٌ و أَفعالٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيرِ و مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيمِ مَعَ النِّية 

Adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) dan diakhiri dengan salam disertai niat (tanpa lafazh).

Dinamakan demikian karena mengandung do’a dan orang yang melakukan shalat tidak terlepas dari do’a ibadah, pujian dan permintaan, itulah sebabnya dinamakan shalat.

 

  • KEWAJIBAN SHALAT LIMA WAKTU

Shalat adalah rukun Islam yang paling kokoh setelah dua kalimat syahadat dan telah disyariatkan sebagai sesempurna dan sebaik-baiknya ibadah dan barangsiapa yang mengingkari (hukumnya) maka ia telah keluar dari agama Islam. Kewajiban shalat ini telah difardhukan (wajib) di malam Isra sebelum hijrah, yaitu shalat lima waktu dalam sehari semalam yang masing-masing dilaksanakan pada waktunya. Hal ini wajib atas setiap muslim yang terkena beban syariat.

Firman Allah ta’ala:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa`: 103)

Shalat fardhu dilaksanakan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkataan dan perbuatannya.

Firman Allah ta’ala:
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ
“Dan dirikanlah shalat…” (QS. Al-Baqarah: 43)

Dan juga firman-Nya:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, hendaklah mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 31)

 

Ada pun dalil dari hadits Nabi shallalhu ‘alaihi wasallam, diantaranya:

1. Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah Radhiyallahu anhu, ia menceritakan bahwa pernah seorang Arab Badui berambut acak-acakan mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku shalat apa yang diwajibkan Allah atasku.” Beliau menjawab:

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا.

“Shalat lima waktu, kecuali jika engkau ingin menambah sesuatu (dari shalat sunnah).” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/106 no. 46)], Shahiih Muslim (I/40 no. 11), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/53 no. 387), dan Sunan an-Nasa-i (IV/121).]

2.   Sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

Siapa yang mendengar adzan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali ada udzur. (HR Abu Dâwud dan Ibnu Mâjah. Hadits ini dinilai shahîh oleh Syaikh al-Albâni rahimahullâh dalam Misykatul-Mashâbih 1077 dan Irwâ’ al-Ghalîl no. 551)

2.  Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu yang diriwayatkan dalam Shahîh al-Bukhâri, bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya. Sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar lalu terkumpul, kemudian memerintahkan untuk shalat dan diadzankan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku pergi melihat orang-orang dan membakar rumah-rumah mereka. (HR al-Bukhâri)

3.  Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِيْ قَائِدٌ يَقُودُنِيْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku berjalan ke masjid. Lalu ia memohon kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam agar diberikan keringanan sehingga boleh shalat di rumahnya. Lalu beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau memanggilnya dan bertanya: “Apakah kamu mendengar adzan shalat?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau pun menyatakan: “Maka datangilah!” . (HR. Muslim)

 

LARANGAN MENINGGALKAN SHALAT LIMA WAKTU

Sesungguhnya kami masih mendapatkan sebagian kaum muslimin yang masih ringan meninggalkan shalat wajib lima waktu yang ia merupakan dari rukun Islam yang paling kokoh dan agung dan sebagai tiang agama, dengan keadaan demikian maka kami berusaha mengingatkan kepada kaum muslimin yang masih ringan meninggalkan shalat tanpa merasa berdosa karena mengangap entengnya shalat maka perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini;

1. Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.
“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [Shahiih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 2848)], Shahiih Muslim (I/88 no. 82), ini adalah lafazhnya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XII/436 no. 4653), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/125 no. 2751), dan Sunan Ibni Majah (I/342 no. 1078).]

2. Dari Buraidah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَتُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.
‘Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.’” [Shahih: Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 884)], Sunan Ibni Majah (I/342 no. 1079), Sunan an-Nasa-i (I/231), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/125 no. 2756).]

Hukum kufur (ingkar) di sini menurut para ulama adalah kufur shaghir (kecil) artinya tidak mengeluarkan seseorang dari keislamannya namun kendati demikian dosa dari meninggalkan shalat wajib adalah dosa besar kecuali ada udzur (alasan) syar’i (yang dibenarkan syariat). Wallahu a’lam bish-shawwab.

 

[Maraji’: Kitab Taisiirul ‘Allam Syarhi ‘Umdatil Ahkam karya Syaikh (hlm. 111) cetakan II, Daar Al-Mughni, th. 1427 H dan Al-Mulakhkhash Al-Fiqh karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan (hlm. 93-95) cetakan I, wakaf dari  Al-Buhuts Al-Islamiyyah wal Ifta`, KSA. th, 1423 H  ]

 

 


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: