khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Al-Masaa-il » Pernikahan Pada Masa Jahiliyah

Pernikahan Pada Masa Jahiliyah


Jahiliyah

Pernikahan pada masa jahiliyyah terdiri dari empat macam:

Pertama:
Pernikahan sebagaimana pernikahan masa kini; yaitu seorang laki-laki mendatangi laki-laki yang lain dan melamar wanita yang di bawah perwaliannya atau anak perempuannya, kemudian dia menentukan maharnya dan menikahkannya.

Kedua:
Seorang laki-laki berkata kepada perempuannya (istri) ketika ia sudah suci dari haidhnya, “pergilah kepada si fula dan berjima’ (senggama) lah dengannya” kemudian setelah itu, ia tinggalkan dan tidak ia sentuh selamanya hingga tampak kehamilannya dari (hasil perbuatan) laki-laki tersebut. Dan bila tampak tanda kehamilanya, sedang suaminya masih berselera kepadanya maka dia akan menggaulinya. Hal tersebut ia lakukan agar mendapatkan seorang anak yang pintar. Pernikahan semacam ini disebut sebagai nikah al-Istibdha’.

Ketiga:
Sekelompok orang dalam jumlah yang kurang dari sepuluh berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya, jika wanita ini hamil dan melahirkan kemudian setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, dia mengutus kepada mereka yang dapat mengelak hingga semuanya berkumpul kembali dengannya, lalu si wanita ini berkata kepada mereka, “ kalian telah mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan aku sekarang telah melahirkan dan dia ini adalah anakmu wahai si fulan,” Dia menyebutkan nama laki-laki yang dia senangi dari mereka, maka anaknya dinasabkan kepadanya.

Keempat:
Sekelompok laki-laki mendatangi seorang wanita sedangkan si wanita ini tidak menolak sedikitpun siapapun yang mendatanginya. Mereka ini adalah para pelacur. Di pintu-pintu rumah mreka ditancapkan bendera yang menjadi symbol mereka dan siapapun yang menghendaki mreka maka dia bisa masuk. Jika dia hamil dan melahirkan, laki-laki yang pernah mendatanginya tersebut berkumpul lalu mengundang Al-Qafah (ahli pelacak) kemudian Al-Qafah ini menentukan nasab si anak tersebut kepada siapa yang mereka cocokkan ada kemiripannya dengan si anak kemudian dipanggilah anak tersebut sebagai anaknya. Dalam hal ini si laki-laki yang ditunjuk tidak boleh menyangkal.

Ketika Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun menghapus semua bentuk pernikahan kaum jahiliyyah tersebut dan menggantikan dengan pernikahan dengan cara Islam yang berlaku saat ini. [HR. Bukhari (5127) dan Abu Dawud (kitab nikah), dari jalan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Ar-Rahiiqul Makhtum (hlm. 39-40), Darussalam, Riyadh]


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: