khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Perilaku & Akhlak Jahiliyyah (Part: 2)

Perilaku & Akhlak Jahiliyyah (Part: 2)


Perilaku dan Akhlak Jahiliyyah @65.000

RESENSI BUKU ISLAM

Judul: Perilaku & Akhlak Jahiliyyah Judul: Perilaku & Akhlak Jahiliyyah Penulis: Al-Imam Al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah Pensyarah: Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah Penerbit: Pustaka Sumayyah Halaman: 312 Harga: Rp. 65.000,- (belum termasuk ongkos kirim & Discount 25 %) Pemesanan: Contact us khazanahilmu@rocketmail.com

—oOo—

LANJUTAN 

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam serta keberkahan Allah semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam keluarganya dan para sahabatnya.

—oOo—

Adapun bangsa Arab terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Kelompok yang mengikuti agama-agama sebelumnya, seperti agama Yahudi, Nashrani dan Majusi
  2. Kelomopok yang masih berada di atas agama yang lurus (tauhid) yaitu, agama Ibrahi dan Ismail, tidak terkecuali di Hijaz di bumi Makkah Al-Mukarramah.

Sampai munculnya seorang laki-laki bernama ‘Amr bin Luhay Al-Khuza’i, seorang raja dari Hijaz yang pada awalnya menampakkan pengorbanan, ibadah dan kebaikan. Kemudian pada suatu hari ia pergi ke negeri Syam untuk berobat. Di sana ia mendapati penduduk Syam menyembah patung berhala dan dia menganggapnya itu adalah kebaikan. Selanjutnya ia pulang dari negeri Syam dengan membawa patung berhala tersebut. Dia pun berusaha menggali patung berhala yang terkubur di dalam tanah miliki kaum Nabi Nuh ‘alaihissalaam. Patung berhala tersebut merupakan jelmaan orang-orang shalih pada masa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalaam, seperti Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, dan yang lainnya, yang telah diporak-porandakan oleh angin topan sehingga terkuburlah patung berhala tersebut. Kemudian datanglah setan membimbing ‘Amr dan menunjukkan tempat di mana patung berhala itu terkubur, lalu ia menggali dan mengeluarkannya, setelah itu dia membagi dan menyebarkan patung berhala tersebut kepada kabilah-kabilah Arab. Dia memerintahkan agar patung berhala tersebut diibadahi atau dijadikan sebagai sesembahan selain Allah ta’ala. Maka mereka pun menerima seruan dan ajakan sesat dan menyesatkan itu. Sehingga dengan ini, masuklah kesyirikan dan peribadatan kepada patung berhala ke negeri Hijaz dan selainnya dari negeri-negeri Arab dan dirubahlah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. ‘Amr telah membuat berbagai macam kekejian dengan membuat patung berhala dari binatang ternak. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya di neraka jahanam dalam keadaan ususnya terburai.[2] Maka keadaan alam semesta ketika sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalam kesesatan yang nyata. Baik Ahli Kitab, orang-orang ummiy maupun selain mereka, bahkan seluruh penduduk. Keculai sebagian yang tersisa dari Ahli Kitab yang masih berada di atas agama yang benar. Akan tetapi mereka telah punah sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga terjadilah kegelapan yang pekat di muka bumi ini.

Disebutkan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi dan Dia murka (baik) kepada bangsa Arab maupun ajam-nya (non Arab), kecuali sebagian yang tersisa dari Ahli Kitab.”

Di dalam kegelapan yang pekat ini, keadaan jahiliyyah yang sudah menjadi hukum dan menghancurkan berbagai jalan, pelajaran dan peninggalan risalah samawiyyah dalam keadaan yang demikian parahnya. Allah ta’ala mengutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. sebagaimana firman Allah ta’ala:

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيہِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَڪِّيہِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِڪۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)

Makna “Dan sesungguhnya mereka sebelum itu” adalah sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua perkara yang disandarkan kepada kejahiliyahan maka perkara itu tercela.

Allah berfirman:

وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَـٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarujnya kaum jahiiyyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Allah ta’ala melarang semua istri Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari bertabaruj. Yaitu menampakkan perhiasan di pasar-pasar dan di depan manusia. Karena kebiasaan istri-istri orang jahiliyyah adalah bertabaruj, bahkan sampai membuka aurat, sebagaimana ketika mereka melakukan thawaf. Mereka berpendapat bahwa hal ini adalah bagian dari kebanggaan.

Allah berfirman:

إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَـٰهِلِيَّةِ

“Ingatlah ketika Dia menjadikan orang-orang kafir di dalam hati-hati mereka ada semangat, yaitu semangat jahiliyyah.” (QS. Al-Fath: 26)

dan semangat kejahiliyahan itu merupakan perkara yang tercela. Sehingga ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang dari kaum Anshar yang sedang bertikai dengan seorang dari kaum Muhajirin di sebuah peperangan berteriak, “Wahai kaum Anshar!” Dan orang-orang Muhajirin berteriak, “Wahai kaum Muhajirin!” Setiap orang dari mereka menyeru kaumnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبِدَعْوَيَ الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ ؟ دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مِنْتِنَةٌ

“Apakah dengan seruan jahiliyyah ini kalian saling memanggil, sedangkan aku masih berada di tengah-tengah kalain ?

Tinggalkan seruan itu, karena sesungguhnya ini adalah seruan yang buruk.” [3]

Maknanya adalah berbangga diri dengan kabilah (suku). Karena semua mukmin itu bersaudara, tidak ada perbedaan antara Anshar dan Muhajirin dan tidak pula antara kabilah ini dan itu. Mereka bersaudara dalam satu keimanan seperti satu jasad dan bangunan yang sebagainnya menopang sebagian yang lain. Kewajiban ini (wajib dilakukan) oleh semua kaum muslimin. Tidak ada perbedaan antara bangsa Arab atau non Arab, antara kulit hitam dan kulit putih kecuali dengan ketakwaan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diiantara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Bangga dengan nasab dan kabilah (suku) adalah sebagian dari perkara-perkara kejahiliyahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنَقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati sedang dia belum berbaiat (kepada penguasa kaum muslimin), niscaya ia mati dalam keadaan jahiliyah.” [4]

Karena orang-orang jahilyyah adalah para pembangkang dan tidak pernah mau tunduk kepada penguasa dan pemimpin. Demikianlah keadaan orang-orang jahiliyyah.

—oOo—

disalin dari buku Perilaku dan Akhlak Jahiliyyah (halaman. 6-9) cetakan Pustaka Sumayyah.

Insya Allah bersambung pada halaman berikutnya.

________________________

Footnote:

2. Di dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat ‘Amr bin Amir Al-Khuza’i menari ususnya di dalam neraka. Dialah orang pertama yang mencetuskan syariat sa’ibah.” diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3521) dan Muslim (no. 2865). [Keterangan: Sa’ibah adalah keyakinan orang-orang jahiliyyah bahwa bila seekor unta melahirkan sepuluh anak betina, maka induknya disebut sa’ibah. Sehingga tidak boleh dinaiki punggungnya dan tidak boleh diambil bulunya, dan tidak boleh diminum susunya.-ed]

3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3518, 4905, dan 4907) dan Muslim (no. 2548) 4. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 1805).


Penulis: Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan 
Penerbit: Pustaka Sumayyah
Harga: Rp. 65.000,-
Discount: 20%

keranjang belanja


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: