khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Fiqih » SHIFAT SHALAT NABI (TATA CARA SHALAT NABI) [BAGIAN 1]

SHIFAT SHALAT NABI (TATA CARA SHALAT NABI) [BAGIAN 1]


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Firman Allah ta’ala:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, hendaklah mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 31)

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu‘anhu, bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة “.

“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” [HR. Muslim, dalam kitab al-iman]

Mengingat pentingnya masalah shalat dan tata caranya sekaligus merupakan Rukun Islam yang kedua dan yang paling kokoh serta kami diberikan wasiat dari guru kami al-Ustadz Karamah Abdullah agar memperhatikan hal-hal yang penting seperti pengertian shalat dan tata cara pelaksanaan shalat yang benar, berangkat dari situ kami akan mencoba membuat artikel Tata Cara Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Lihat Video Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


SHIFAT SHALAT NABI (TATA CARA SHALAT NABI)[1]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 631 & 6008 & 7246, Ad-Daarimiy no. 1235, Ibnu Khuzaimah no. 391, dan yang lainnya].

1. MENGHADAP KE ARAH KIBLAT (KA’BAH)

01
Wahai saudara-saudariku sesama Muslim, apabila engkau hendak berdiri untuk shalat maka menghadaplah ke arah kiblat di mana pun engkau berada, baik ketika shalat wajib maupun shalat sunnah. Karena hal ini termasuk salah satu Rukun Shalat yang jika ditinggalkan, maka shalat itu menjadi tidak sah (batal).

Namun kewajiban menghadap kiblat menjadi gugur apabila orang yang sedang berperang ketika melaksanakan shalat khauf (shalat dalam keadaan takut atau dalam kondisi peperangan yang dahsyat), begitu juga bagi orang yang tidak mampu melaksanakannya, seperti; Orang yang sakit atau ketika berada di atas perahu, mobil atau pesawat jika ia khawatir akan kehilangan waktu shalat. Jika bagir orang yang mengerjakan shalat sunnah atau witir ketika dalam kendaraan. Tetapi jika keadaannya memungkinkan, maka ia tetap disunnahkan menghadap kiblat ketika melaksanakan Takbiratul Ihram saja, kemudian menghadap ke mana arah tujuannya. hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا اخْتَلَطُوْا فَإِنَّمَا هُوَ التَّكْبِيْرُ وَاْلإِشَارَةُ بِالرَّأْسِ

“Apabila perang berkecamuk, cukuplah shalat dengan mengucapkan takbir dan berisyarat menggunakan kepala” [HR. Al-Baihaqi dengan sanad Ash-Shahihain]

Adapun orang yang berada di depan Ka’bah wajib untuk langsung menghadap kepadanya, dan bagi orang yang tidak berada di hadapan ka’bah maka dia menghadap ke arah yang di sana ada Ka’bah berada.

Dan perlu diperhatikan !! Shalat menghadap ke selain Ka’bah (arah Kiblat) adalah salah.

Jika seseorang melaksanakan shalat tidak menghadap ke arah kiblat disebabkan mendungnya awan atau selainnya, dan hal itu dilakukan setelah ber-ijtihad dan berusaha keras mencari arah Kiblat, maka shalatnya tadi sudah cukup (sah) dan ia tidak wajib mengulanginya hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Salah seorang shahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata;

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan atau dalam penyerangan. Lalu mendung yang gelap menyelimuti sehingga kami bimbang dan berselisih pendapat dalam menentukan arah kiblat. Setiap orang shalat mengikuti garis di depannya agar kami mengetahui perkiraan kami dalam menentukan arah kiblat. Maka di pagi harinya kami melihat garis itu ternyata shalat kami tidak menghadap kiblat, lalu kami menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan beliau bersabda:

قَدْ أَجْزَأَتْ صَلَاتُكُمْ

“Shalat kalian sudah cukup” [HR. Ad-Daruquthni, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan memiliki syawahid pada At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya, lihat Irwa’ul Ghalil (296)]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau sholat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang sholatnya salah:
 إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ اْلوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ
“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” [HR. Bukhari, Muslim dan As-Siraj, lihat Irwa’ul Ghalil (289)]
 
Berkenaan dengan hal ini telah turunlah firman Allah:

“Kemana saja kamu menghadapkan muka, disana ada wajah Allah.” (QS.Al-Baqarah : 115)
 

  • ARAH KIBLAT


Arah Kiblat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ المَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Antara timur dan barat adalah kiblat” [HR. Tirmidzi dan Al-Hakim, lihat Irwa’ul Ghalil (292)]

2. BERDIRI DALAM SHALAT

berdiri dalam shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menunaikan shalat dengan berdiri baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah, dalam rangka melaksanakan firman Allah:

وَقُومُوا لِلهِ قَانِتِينَ

“Berdirilah kamu dengan tenang karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 91)

Wajib shalat dengan berdiri, dan ini adalah rukun shalat, kecuali apabila:

  • Seseorang mengerjakan shalat khauf dan dalam peperangan yang sengit, maka dibolehkan baginya untuk mengerjakan shalat dengan berkendaraan.
  • Demikian juga orang sakit yang tidak mampu berdiri, maka ia boleh mengerjakannya dengan duduk jika mampu, dan jika tidak mampu maka ia boleh mengerjakannya dengan berbaring.
  • Dan orang yang mengerjakan shalat nafilah (sunnah), ia boleh melaksanakannya dengan berkendaraan (ketika safar) ataupun duduk jika ia mau, kemudian ruku’ dan sujud dengan cara berisyarat menggunakan kepalanya. begitu pula dengan orang yang sakit melakukan demikian, hanya saja ketika sujud kepalanya menunduk lebih rendah dibandingkan ruku’.
  • Shalat Wajib (lima waktu) boleh dikerjakan di atas perahu atau pesawat dan dibolehkan mengerjakan shalat dengan duduk jika takut terjatuh
  • Bagi orang yang sudah tua renta atau badannya lemah, maka dibolehkan bersandar pada tiang atau tongkat.

ts

  • SHALAT DENGAN MEMAKAI SANDAL DAN PERINTAH UNTUK MENGAMALKANNYA

Sandal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat dengan tanpa alas kaki, dan terkadang memakai sandal. [2]

Beliau membolehkan ummatnya untuk melakukan hal ini, sebagaimana sabdanya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَلَا يُؤْذِي بِهِمَا غَيْرَهُ

“Jika salah seorang diantara kalian shalat, maka hendaklah mengenakan sepasang sendalnya atau melepaskan keduanya diantara kedua kakinya dan janganlah sandalnya itu mengganggu orang lain.” [HR. Abu Dawud dan Al-Bazzar (53) dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkkan dengan sangat untuk melakukan hal demikian sebagaimana sabdanya:

Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصَلُّوا فِي نِعَالِكُمْ، فَإِنَّهُمْ لا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلا فِي خِفَافِهِمْ
Selisihilah orang-orang Yahudi dan shalatlah dengan sandal-sandal kalian, karena mereka tidak mau shalat dengan sandal-sandal mereka dan sepatu-sepatu mereka” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 652, Ibnu Hibbaan no. 2186, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 3480, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ hal. 707 no. 3790].

Terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan sandalnya ketika shalat lalu melanjutkan shalatnya sebagaimana cerita Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ، قَالَ: مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ؟ قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السلام أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا، أَوْ قَالَ: أَذًى، وَقَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا ”

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi waasallam shalat bersama para shahabatnya, tiba tiba beliau melepaskan kedua sandalnya lalu meletakkan keduanya di sebelah kiri beliau. Saat para shahabat melihat apa yang beliau lakukan tersebut, mereka pun ikut pula melepas sandal-sandal mereka. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah selesai shalat, beliau bersabda : “Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal-sandal kalian?”. Mereka menjawab: “Kami melihat engkau melepas sandal, sehingga kami pun melepaskan sandal-sandal kami”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Jibriil ‘alaihis-salaam mendatangiku dan mengkhabarkan kepadaku bahwa di kedua sandalku terdapat kotoran”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, hendaklah ia perhatikan. Apabila ia di kedua sandalnya najis atau kotoran, hendaklah ia bersihkan dan kemudian shalat dengan memakai kedua sandalnya tersebut” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 650, Ad-Daarimiy no. 1378, Ahmad no. 10769 & 11467, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud, 1/192].

  • SUTRAH (Pembatas di depan orang shalat) DAN KEWAJIBAN MENGAMALKANNYA

Sutrah
Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika shalat) berdiri dekat sutrah, dan jarak antara beliau dengan dinding tiga hasta.[3] dan jarak antara tempat sujud beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dinding adalah sebatas jalan yang cukup dilalui anak kambing.[4]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاتُصلِّ إلا إلى سُترةٍ،ولاتَدَعْأَحداًيَمُرُّبينَيَدَيْكَفإنْ أَبَى،فليُقاتِلْهُ،فإِنَّمَعَهُ القرين

“Jangalah kamu shalat melainkan menghadap sutrah (pembatas), dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depanmu, jika dia memaksa terus lewat di depanmu, perangilah dia karena bersamanya ada setan yang menemaninya.” [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (1/93/1) dengan sanad yang jayyid]

3. NIAT

Hendaknya seseorang yang shalat itu meniatkan dan memaksudkan dengan hatinya shalat apa yang akan dia kerjakan, seperti; shalat dzuhur atau ‘ashar atau shalat sunnah lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” [HR. ]

Niat adalah syarat atau rukun, adapun melafazhkannya dengan lisan tidak ada landasannya dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah serta Ijma’ Shahabat dengan demikian melafazhkan niat dalam shalat adalah perkara yang salah dan bahkan memberatkan orang yang hendak shalat tersebut yaitu harus menghafal setiap niat shalat (contoh: nawaitu ushalli fardhu… atau nawaitu ushallai sunnatan…,) padahal Agama ini mudah dan tidak memberatkan manusia dan pernah suatu ketika teman saya bertanya bagaimana lafazh niat shalat tahajjud? Maka saya katakan padanya tidak perlu cukup di hati saja bahwa kamu akan shalat tahajjud. Di samping itu pun akan ada berapa ratus lafazh niat dalam shalat, sedangkan shalat sunnah itu sangat banyak sekali, baik rawatib maupun gerhana, dan lain-lain. Wallahu a’lam.

4. TAKBIRATUL IHRAM

02

Memulai shalat dengan mengucapkan Takbiratul Ihram yaitu; اللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar). Hal ini pun termasuk dalam rukun shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مِفْتَـاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُوْرُ، وَتَحْرِيْمُهَـا التَّكْبِيْرُ، وَالتَّحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ.

“Kunci shalat adalah bersuci. Pengharamnya[5] adalah takbir dan penghalalnya adalah salam.”[HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, lihat Irwa’ul Ghalil (no.301)]

dan dalam sabdanya yang lain ialah:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ اْلوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ
“Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” [HR. Bukhari, Muslim dan As-Siraj, lihat Irwa’ul Ghalil (289)]

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN:

  1. Tidak mengeraskan suara takbir dalam shalat kecuali menjadi Imam shalat
  2. Dibolehkan bagi mua’dzin untuk mengeraskan takbiratul ihram (setelah imam mengucapkannya) agar dapat didengar oleh makmum jika memang diperlukan, seperti; Imamnya sedang sakit, suaranya lirih, atau karena banyaknya jumlah jama’ah shalat.[6]
  3. Makmum tidak boleh bertakbir sebelum imam selesai mengucapkan takbir.

4. MENGANGKAT KEDUA TANGAN DAN TELAPAK TANGAN

mengangkat kedua tangan

Mengangkat kedua tangan dilakukan ketika mengucapkan takbir dan boleh juga dikerjakan sebelum ataupun sesudahnya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir [7] dan terkadang pula setelah takbir [8]dan terkadang sebelum takbir[9]. dalam hal ini maka cukup diambil mana yang ringan bagi kita untuk dilaksanakannya.

Mengangkat kedua tangan dengan membuka jari-jemarinya (tidak merenggangkannya dan tidak pula menggenggamnya), [10] dan beliau menjadikan kedua tangan beliau sejajar dengan bahu [11] dan terkadang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan daun telinga.[12]

4. BERSEDEKAP (MELETAKKAN TANGAN KANAN DI ATAS TANGAN KIRI)

03

Setelah melakukan takbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangannya maka berikutnya adalah bersedekap atau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan ini termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cara meletakkannya adalah tangan kanan berada di atas punggung telapak tangan, pergelangan dan lengan bawah tangan kirinya.

sedekap

  sedekap - Copy

5. KHUSYU’ DAN MEMANDANG KE TEMPAT SUJUD

  • Wajib baginya khusyu’ dalam shalat dan menjauhkan perhiasan dan lukisan yang dapat melalaikannya. maka janganlah mengerjakan shalat di depan hidangan makanan yang membuatnya tertarik untuk makan, jangan pula mengerjakan shalat dalam keadaan menahan air kencing atau buang air besar.
  • Wajibnya memandang ke tempat sujud ketika berdiri
  • Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri karena menoleh adalah sambaran syaithan terhadap shalatnya seorang hamba.
  • Tidak boleh mengangkat pandangan ke arah langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرجِعُ إِلَيهِم

“Hendaklah orang-orang itu sungguh-sungguh menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit ketika dalam keadaan shalat, atau (mata mereka) tidak  kembali kepada mereka.” Dalam satu riwayat:

أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Atau sungguh-sungguh akan disambar pandangan-pandangan mereka.” (HR. Muslim no. 965, 966)

6. DO’A IFTITAH

Kemudian membaca do’a iftitah sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk do’a iftitah ini banyak sekali lafazhnya dan disini saya cukupkan dengan yang masyhur saja:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 776, An-Nasa‘i no. 899, dan selain keduanya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

atau do’a iftitah yang lebih panjang:
اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari noda. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, hujan es, dan air dingin.” (HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 1353, dari Abu Hurairah). Dan masih banyak lagi lafazh-lafazh do’a iftitah ini namun kami cukupkan dengan dua lafazh tersebut.

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين
جمعته : يودا بن عبدالغني بن عثمان باكسان

insya Allah bersambung ke bagian dua

[Alhamdulillah selesai disusun di Tengerang, 16 Mei 2013 M]

_______________________

  1. Pembahasan Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kami nukil dengan ringkas dari kitab: تلخيص صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم dan صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم karya Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.
  2. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan hadits ini mutawatir sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thahawi, lihat: Shifat Shalat Nabi (hlm. 80) Syaikh Al-Albani rahimahullah, cet. Maktabah Al-Ma’arif
  3. HR. Bukhari dan Ahmad, Shifat Shalat Nabi (hlm. 82) Maktabah Al-Ma’arif.
  4. HR. Bukhari dan Muslim, Shifat Shalat Nabi (hlm. 82) Maktabah Al-Ma’arif.
  5. Pengharamannya: maknanya ialah sebuah pengharaman dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah ta’ala di dalam shalat, demikian juga Penghalalannya maknanya ialah apa yang dihalalkan dari perbuatan orang yang tidak dalam keadaan shalat. Dari hadits tersebut menunjukkan bahwa pintu shalat itu tertutup dan kunci pembukanya adalah bersuci (wudhu’) serta menunjukkan pula bahwa shalat itu dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) dan ditutup (diakhiri) dengan salam. Wallahu a’lam.
  6. HR. Muslim dan An-Nasaa`i
  7. HR. Bukhari dan An-Nasaa`i, Shifat Shalat Nabi (hlm. 87) Maktabah Al-Ma’arif.
  8. Ibid
  9. HR. Bukhari dan Abu Dawud, Shifat Shalat Nabi (hlm. 87) Maktabah Al-Ma’arif.
  10. HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah (1/62/2, 1/64) dan Tamam serta Al-Hakim dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh Adz-Dzahabi.
  11. HR. Bukhari dan An-Nasaa`i,  Shifat Shalat Nabi (hlm. 87) Maktabah Al-Ma’arif.
  12. HR. Bukhari dan Abu Dawud.  Shifat Shalat Nabi (hlm. 87) Maktabah Al-Ma’arif.

Referensi Kitab:

  • تلخيص صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم karya: الإمام المحدث محمد ناصر الدين الألباني  – 1914 – 1999 cetakan: المكتب الإسلامي download kitab disini
  • صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم karya الإمام المحدث محمد ناصر الدين الألباني  – 1914 – 1999 cetakan: مكتبة المعارف للنشر والتوزيع download kitab disini

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: