khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Bid'ah » Pengertian Bid’ah

Pengertian Bid’ah


MAKNA BID'AH

عنوان الكتاب: علم أصول البدع-دراسة تكميلية مهمة في علم أصول الفقه

الفصل الأول: مًعْنَى البِدْعَةِ

تأليف: علي بن حسن الحلبي

الناشر: دار الراية

الطبعة الأول: 1413 هــ – 1992 مـــ

—oOo—

Judul Kitab: ‘Ilmu Ushuul Bida’  –dirasah takmiliyah Muhimmah fii ‘Ilmi Ushuulil Fiqh-

Pasal Pertama: Makna Bid’ah

Penulis: Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi

Penerbit: Daar Ar-Raayah

Cetakan Pertama: 1413 H / 1992 M

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

—oOo—

Imam Ath-Thurthusyi dalam Al-Hawaditsu wal Bida`u [1] berkata:

أَصْلُ هَذه الكَلِمَةِ  مِنَ الْاخْتِرَاعِ ؛ وهو الشيءُ يُحْدَثُ مِن غَيْرِ أصلٍ سَبَقَ ولاَ مِثَالٍ احتُذِيَ، ولا أُلِفَ مِثْلُهُ

“Asal dari kata ini (bid’ah) adalah Al-Ikhtira’ [2] yaitu sesuatu yang terjadi tanpa ada asal sebelumnya, tidak pula ditulis sebelumnya.”

Firman Allah ta’ala:

بَدِيعُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ

“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 117)

dan Firman-Nya:

قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعً۬ا مِّنَ ٱلرُّسُلِ

“Katakanlah, ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (QS. Al-Ahqaf: 9)

Yaitu; aku bukanlah rasul yang pertama untuk penduduk bumi ini. Dan nama ini [3] juga termasuk ke dalam apa-apa yang diada-adakan oleh hati, lisan, dan perbuatan anggota badan. Makna tersebut dinukil oleh Abu Syaamah Al-Maqdisi dalam kitabnya Al-Baa’itsu ‘ala Inkaaril Bida’i wal Hawaaditsi, (hlm. 20). kemudian beliau berkata:

وقد غَلَبَ لفظ (البِدعةِ) على الحَدَثِ المكروهِ في الدِّينِ مهما أُطْلِقَ هذا اللفظُ، ومثلُه لفظُ (المُبْتَدِع) لا يكادُ يُستَعْمَلُ إِلاَّ فِي الذَّمِّ

Seringkali lafazh (bid’ah) berkonotasi makruh dalam agama, sama halnya dengan kata (Mubtadi’) hampir tidak digunakan melainkan dalam perihal celaan.

Adapun dalam asal-usul pengambilannya, kata bid’ah ini justru seringkali digunakan dalam hal-hal yang mengandung pujian dan maksud celaan. Sebab sebuah maksud merupakan sesuatu yang baru yang belum memiliki kesamaan sebelumnya, Karenanya dalam mengungkapkan sesuatu yang indah seringkali menggunakan ungkapan: مَا هُوَ إِلاَّ بِدْعَةٌ (tidaklah ia melainkan sesuatu yang bid’ah -indah-).

Al-Jauhari dalam kitabnya Shihahul Lughah [4], ia berkata: “البديعُ , المبتدع , dan البدعة adalah perkara dalam agama setelah sempurnanya agama. Maka Bid’ah [5] adalah:

عبارةٌ عن طريقٍ في الدَّينِ مُخْتَرَعَةٍ، تضاهي الشَّرعِيَّة، يُقْصَدُ بِالسُلُوكِ عَليها المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ لِلهِ سُبحَانَهُ

“Suatu thariqah (tata cara) dalam agama yang diada-adakan (baru), yang menyamai syariat dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.”

Demikian pula pandangan Imam Asy-Syathibi di dalam kitabnya Al-I’tishaam (1/37), dan ia merupakan pengertian yang menyeluruh dan paling komprehensif  dalam mendefinisikan bid’ah, kemudian beliau rahimahullah mensyarah (menjelaskan) pengertian (bid’ah) tersebut dengan panjang lebar, maka aku (Syaikh Ali Hasan Al-Halabi) meringkasnya maksud-maksud dari perkataannya, beliau rahimahullah berkata:

  • طريقةٌ فِي الدِّينِ  (Tata cara dalam Agama)

Thariqah (الطريقة والطريق والسبيلُ والسنَن) bermakna satu yaitu sesuatu yang digambarkan untuk berjalan di atasnya, adapun dikaitkannya thariqah (tata cara) itu dengan agama, karena bid’ah itu dibuat serta disandarkan oleh pelakunya kepada agama.

  • مُخْتَرَعَةٌ  (Yang diada-adakan)

Oleh karenanya ath-thariqah di dalam agama terbagi menjadi; (1) yang memiliki asal (landasan hukum) dalam Syariat dan (2) yang tidak mempunyai asal (landasan hukum)  dalam syariat, yang dimaksud dalam definisi ini yaitu bagian yang diada-adakan. Yaitu: Sebuah thariqah (cara) baru yang tidak ada contoh sebelumnya dari pembuat Syariat. [6] Karena bid’ah dikhususkan terhadap hal-hal yang keluar dari ketetapan syariat.

  • تضاهي الشرعيَّة  (Menyamai Syariat)

Maksudnya: (Bid’ah) itu menyerupai tata cara (yang dibuat) oleh Syariat yang sebenarnya hakikatnya tidak demikian, akan tetapi bid’ah itu sangat bertentangan sekali dengan syariat, ditinjau dari beberapa sisi:

1. Adanya ketentuan tata cara dan bentuk-bentuk tertentu tanpa izin dari Pembuat Syariat yaitu Allah ta’ala atas hal tersebut.

2. Adanya ketentuan ibadah-ibadah tertentu yang tidak ditemukan dalam syariat.

  • يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَليها المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُودِ لِلهِ تعالى  (dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’ala)

Inilah kesempurnaan makna Bid’ah karena ini adalah maksud diadakannya sebuah bid’ah. Oleh karenanya sumber masuknya bid’ah akan mendorong seseorang untuk beribadah kepada Allah ta’ala, karena Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56)

Demikianlah anggapan pelaku bid’ah bahwa maksud bid’ahnya itu berasal dari makna ayat ini, tanpa ia mencari keterangan bahwa syariat  telah menetapkan aturan-aturan tertentu yang mencukupi. namun pelaku bid’ah itu malah berlebih-lebihan, menambah-nambahkan, dan terus mengulanginya.

Aku (Syaikh Ali Hasan Al-Halabi) berkata:

Definisi lain yang dikatakan tentang bid’ah ialah perkara-perkara baru yang menyelisihi kebenaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ilmu atau amal atau kondisi (hal), dengan adanya penyerupaan atau anggapan baik dan dijadikan sebagai Dien (agama) yang tegak dan jalan yang lurus.[7]

Al-Fairuz Abadi berkata [di dalam Bashaa`iru Dzawit Tamyiizi (2/231)]:

البِدْعَةُ؛ الحَدَثُ فِي الدِّينِ بَعْدَ الإِكْمَالِ. وَقِيلَ؛ مَا استُحدث بعْدَه صلى الله عليه وسلّم مِنَ الأَقْوَالِ والأَعْمَالِ، والجمعُ بِدَعٌ. وَقِيلَ؛ البِدْعَةُ؛ إيرَادُ قَولٍ أو فعلٍ لم يستنَّ قائلُها أو فعلُها فيه بصاحبِ الشرعية وأماثلها المتقدِّمة وأصولها المقنَّنة

Bid’ah adalah suatu perkara baru dalam agama setelah agama sempurna, dikatakan pula: sesuatu yang baru setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan, dan bentuk jamaknya adalah Bida’. Dikatakan juga Bid’ah adalah suatu perkataan atau perbuatan yang pelakunya tidak mengikuti perkataan & perbuatan dari pemilik Syariat dan juga tidak ada contoh sebelumnya dan landasan-landasan (hukum) yang terjaga.

Dan pendapat selainnya juga terdapat dalam  Al-Qaamuus (hlm. 906):

“Dengan ketetapan-ketetapan sebelumnya maka dapat diketahui kekeliruan orang-orang yang mendefinisikan bid’ah sebagai sesuatu yang tidak pernah ada di kurun waktu tiga (generasi terbaik), dan tidak memiliki landasan dari landasan-landasan yang empat.” [8]

Uraian-uraian lebih lanjut tentang hal ini akan kami paparkan pada bagian yang akan datang, Insya Allah.

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

جمعته : يودا بن عبدالغني بن عثمان باكسان

[Disalin dari: ‘Ilmu Ushuulil Bida’ Dirasah Takmiliyah Muhimmah Fii ‘Ilmi Ushuulil Fiqh (hlm. 23 – 26) Daar Ar-Raayah]

s

s

_____________________

  1. [Hlm. 40 – dengan tahqiq dari saya (Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah)], Dipublikasikan oleh Daar Ibnil Jauzi, Damam.
  2. Lihat: Lisaanul ‘Arab (9/351), dan Maqaayisu Al-Lughah (1/209), dan Al-Qamuus Al-Muhith (hlm. 906).
  3. Maksudnya: Bid’ah
  4. Lihat: Mukhtaruhu (hlm. 44)
  5. Lihat: Al-Mi’yaarul Mu’rib… (1/352 dan 357) Al-Anwasyari
  6. Lihat: Mu’jamul Manaahi Al-Lafzhiyyah, (hlm. 304)
  7. Hal ini dikatakan oleh Asy-Syummani sebagaimana dinukil oleh Al-‘Adawi dalam Ushuulun Fil Bida’ (hlm. 26).
  8. Iqaamatul Hujjati ‘ala Annal Iktsaara minat Ta’abbudi Laisa bi-Bid’atin, (hlm. 12), Al-Laknawi.

 

 


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: