khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Filsafat dan Para Filosof

Filsafat dan Para Filosof


Filsafat_1280x720

 

Filsafat [1] adalah sebuah ideologi yang mencintai kebijaksanaan meskipun tidak bisa merealisasikan dengan sebenarnya
Pengertian Filsafat adalah مهبة الحكمة (mencintai kebijaksanaan)
Dan asal katanya adalah فيلاسُوفا (philasopa) yaitu: mencintai kebijaksanaan, sedangkan kata فيلا artinya الحبّ (cinta) dan kata سُوفا artinya kebijaksanaan.

Kebijaksanaan (hikmah) terbagi menjadi dua: perkataan dan perbuatan

Perkataan yang bijaksana adalah perkataan yang haq (benar) sedangkan perbuatan yang bijaksana adalah perbuatan yang tepat.

Setiap golongan dari golongan filsafat memegang kebijaksanaan yang mereka pegang dan golongan yang paling bijaksana dari mereka adalah yang kebijaksanaannya lebih dekat kepada hikmah para rasul yang berasal dari Allah ta’ala.

Allah ta’ala telah berfirman tentang Nabi Dawud ‘alaihissalaam:

وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ

“…Dan Kami berikan kepadanya hikmah  dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS. Shad: 20)

Allah berfirman tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran: 48)

Allah berfirman tentang Nabi Yahya ‘alaihissalaam:

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“…Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam: 12)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu.” (QS. An-Nisaa`: 113)

Dan firman-Nya:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Allah menganugrahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269).

Dan kepada keluarga Rasul-Nya, Allah berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu).” (QS. Al-Ahzab: 34).[2]

Hikmah (kebijaksanaan) yang dibawa oleh para rasul adalah Hikmah yang haq (benar) yang mencakup ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih, Hidayah dan Agama yang benar, serta pembenaran kebenaran, baik berupa keyakinan, perkataan, perbuatan. Hikmah ini dibedakan oleh Allah ta’ala di antara para nabi dan rasul-Nya, namun disatukan untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana pula Allah telah menyatukan untuk beliau segala kebaikan yang dibedakan oleh-Nya pada nabi-nabi sebelumnya. Dia menyatukan dalam kitab-Nya (Al-Qur’an) berbagai ilmu dan amalan yang Dia pisahkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Seandainya setiap kebijaksanaan yang benar yang ada di dunia ini dari setiap golongan yang ada itu dipadukan maka bila ditandingkan dengan hikmah yang diberikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalan merupakan satu bagian yang sangat kecil dan tidak berarti.

Adapun Definisi Filosof adalah:

إسم جنسٍ لِمَن يُحِبُّ الحِكْمةَ ويُؤْئِرُهَا

“Sebutan bagi setiap orang yang mencintai hikmah (kebijaksanaan) dan menghormatinya.”

Istilah (filosof) ini telah dirubah (dipalingkan maknanya) dalam adat-istiadat kebanyakan manusia, dan difahami secara khusus sebagai orang yang keluar dari agama para nabi dan tidak mengikuti kecuali apa-apa yang dibenarkan oleh akal-pikiran (rasio) dalam anggapannya.

Lebih khusus lagi tentang filosof dalam pengertian orang-orang belakangan, sebutan bagi pengikut Aristoteles. Mereka adalah orang-orang yang fahamnya diadopsi lalu dijabarkan dan dipertegas lagi oleh Ibnu Sina. Itulah filsafat yang mereka ketahui akan tetapi mereka tidak mengtahui filsafat selain itu dari kalangan muta’akhirin dan mutakallimin (ahli kalam).

Mereka adalah kelompok yang menyimpang dari kelompok filosof akan tetapi pemahaman mereka tetap satu dari pemahaman kaum filsafat. Bahkan ada yang berkata: “Di kalangan mereka tidak ada oran yang berpendapat mengenai keazalian jagat raya selain Aristoteles dan para pengikutnya. dia (Aristoteles) adalah orang pertama yang mengatakan keazalian alam semesta, sedangkan para ilmuan sebelumnya mengatakan kebaruannya, menetapkan adanya Pencipta, keterpisahan-Nya terhadap alam dan bahwa Dia berada di atas alam semesta dan Dia berada di atas langit dengan Dzat-Nya, seperti telah dituturkan dari mereka oleh salah seorang yang paling pintar di zamannya tentang pendapat-pendapat mereka itu yaitu Abul Walid Ibnu Rusyd dalam kitabnya Manaahij Al-‘Adillah, ia berkata [3]:

القول في الجهة؛ وأما هذه الصفة؛ فلم يزل أهل الشريعة – من أول الأمر – يُثبتونها لله سبحانه حتى نَفتها المعتزلة، ثم تبعهم على نفيها متأخرو الأشعرية كأبي المعالي ومن إقتدى بقوله – إلى أن قال؛
والشرائع كلها مبنيَّةٌ على أن الله في السماء وأنّ منه تنزل الملائكة بالوحي إلى النبيين، وأنّ من السماوات نزلت الكتب، وإليها كان الإسراء بالنبي صلى الله عليه وسلم حتى قّرُبَ من سِدرة المنتهى، وجميع الحكماء اتفقوا على أنّ الله و الملائكة في السماء كما اتفقت جميع الشرائع على ذلك

“Pendapat tentang Al-Jihah (arah); Adapun masalah shifat ini oleh pengikut syariat sejak awal diyakini adanya bagi Allah ta’ala, hingga ditolak oleh Mu’tazilah yang kemudian diikuti pula oleh kalangan akhir dari para pengikut Asy’ariyah seperti Abul Ma’aali dan dari siapa saja yang mengikuti perkataannya, – hingga ia berkata:

Seluruh Syariat dibangun di atas landasan bahwa Allah ta’ala berada di atas langit; dari langit itu  para malaikat turun membawa wahyu kepada para nabi, dan dari langit itu pula turunnya kitab-kitab, dan ke langit itu pula Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di-isra`kan sampai dekat kepada sidratul muntaha, seluruh ahli hikmah sepakat bahwa Allah dan para malaikat itu berada di langit, sebagaimana seluruh syariat yang ada menyatakan demikian.”

Kemudian ia (Ibnu Rusyd) menyebutkan dengan tegas hal itu secara rasional (بالمعقول) dan menjelaskan kebatilan syubhat yang menyebabkan kaum jahmiyah dan yang sependapat dengan mereka menafikan sifat tersebut. Ibnu Rusyd mengatakan:

فقد ظهر لك من هذا؛ أنّ إثبات الجهة واجبٌ بالشرع والعقل، وأنه الذي جاء به الشرع، وانبنى عليه، وأنّ إطال هذه القاعدة؛ إبطالٌ للشرائع فقد حكى لك هذا المطّلع على مقالات القوم.

“Sungguh telah jelas bagimu tentang hal ini; bahwa itsbatul jihah (menetapkan arah) adalah wajib berdasarkan syariat dan akal, itulah yang dibawa oleh syariat dan dibangun olehnya, dan bahwasanya membatalkan kaidah ini maka sungguh engkau telah membatalkan syariat dan ketetapan sebuah kaum.”

Ibnu Rusyd sebagai orang yang lebih tahu tentang filsafat daripada Ibnu Sina menyatakan bahwa Allah ta’ala itu berada di langit, di atas alam ini.

Sedangkan orang-orang yang masih kekanak-kanakan dan bodoh tentang hal tersebut tidak menyatakan demikian (bertolak belakang dengan pendapat ahli filsafat) entah karena kebodohan atau karena kesengajaan. Dan kebanyakan dari yang kami (Imam Ibnu Qayyim rahimahullah) lihat di antara orang-orang yang berbicara tentang faham dan pendapat mereka itu ternyata masih kekanak-kanakkan dan bodoh.

Dan begitu pula orang-orang yang pandai dari kalangan mereka (ahli filsafat) di zamannya telah sepakat dalam menetapkan shifat, af’al (perbuatan), dan kebaruan alam (حدوث العالم) serta sepakat dalam tegaknya af’al ikhtiyaariyah (الأفعال الاختيارية) pada Dzat Allah ta’la. Sebagaimana telah dikemukakan oleh para filosof islam di zamannya yaitu:

Abul Barakaat Al-Baghdaadii, beliau menegaskan dengan tegas dan berkata:

لا يستقيم كون الربّ سبحانه ربّ العالمين إلاَّ بذلك، وأن نفي هذه المسألة ينفي ربوبيته؛ قال؛ والإجلال من هذا الإجلال، والتنزيه من هذا التنزيه

Tidaklah terwujud bahwa  Rabb subhaanahu wa ta’ala adalah Rabbul ‘alamin kecuali dengan hal tersebut dan yang menolak masalah ini maka ia menolak rububiyah Allah: dan kemuliaan dari kemuliaan ini dan mensucikan nama Allah adalah yang utama.[4]

________________

  1. Diringkas dari kitab Ighaastul Lahfaani Fii Mashaa-idisy Syaithaani (2/1001-1003) Imam Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dengan takhrijul hadits: Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, dan tahqiq: Fadhilatusy Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi hafizhahullah, cet. Darul Ibnu Jauzi.
  2. (2/1001)
  3. (2/1002)
  4. (2/1003)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: