khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kesehatan & Pengobatan » Pengobatan Luka Berdarah

Pengobatan Luka Berdarah


Pengobatan Luka Dengan Abu 1_460x306

Diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari – Muslim) dari Abu Hazm bahwa ia pernah mendengar Sahl bin Sa’ad ditanya tentang cara pengobatan luka yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika perang Uhud. Ia mengisahkan bahwa pada perang itu beliau terluka wajahnya dan tulang pipinya retak, bahkan topi besinya pun pecah.

Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuci darah beliau, sementara Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuangkan air ke atasny dan tameng. Ketika Fatimah radhiyallahu ‘anha melihat bahwa darah pada tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru semakin bertambah banyak mengalir, ia pun mengambil sepotong kain dan membakarnya. Setelah menjadi abu, Fatimah menempelkan abu itu pada luka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Darah pun berhenti mengalir. [1]

Hal itu karena abu kain yang dibuat dari merang. Ternyata abu itu amat berkhasiat menghentikan darah pada luka, karena mengandung unsur pengering yang kuat namun tidak panas menggigit, karena obat pengering luka yang menggigit justru akan menguras darah. Bila abu tersebut dicampur dengan cuka dan disemburkan hidung orang yang terkena mimisan, darahnya juga akan berhenti.

Penulis Al-Qanun menegaskan: “Merang (abu dari kain yang dibakar) amat berguna mengeringkan luka dan mengobati luka yang masih basah sehingga mengering. Kertas Mesir pada zaman dahulu dibuat dari bahan ini. Komposisi ini bersifat dingin dan kering, sementara abunya berguna mengobati sariawan serta menghentikan darah yang mengalir pada luka bahkan bisa mencegah infeksi pada luka akibat infeksi. [2]

__________________________

  1. HR. Bukhari & Muslim, dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaa`i, Ibnu Majah dan Ahmad.
  2. Dinukil dari Kitab Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 38) Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq: Abdul Ghani Abdul Khaliq, Ta’liq: Dr. Adil Al-Azhari, takhrij:  Mahmud Farraj Al-Uqdah. cet. Darul Fikr.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: