khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kesehatan & Pengobatan » Petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam Pengobatan Diri Sendiri

Petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam Pengobatan Diri Sendiri


Pengobatan Herbal Edited

بقلم

الإمام ابن قيم الجوزية رحمه الله

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan pengobatan terhadap diri beliau sendiri dan juga memerintahkan orang lain yang terkena penyakit, baik keluarganya atau para sahabatnya untuk melakukan pengobatan sendiri akan tetapi tidak terdapat petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula para shahabatnya dalam menggunakan obat-obatan kimiawi yang dinamakan dengan أَقْرَابَاذِين (Aqrabadzin) [1].

Akan tetapi mereka terbiasa mengobati diri sendiri (non kimiawi), terkadang makanan sehat itu mereka campurkan dengan zat lain sebagai pengemulsi  atau sekedar untuk menghilangkan bentuk asalnya saja. Cara seperti inilah yang biasa dilakukan dalam pengobatan secara umum baik dari kalangan; (1) Bangsa Arab, (2) Turki atau, (3) Kalangan Arab Badui dan yang lainnya secara keseluruhan. Hanya saja bangsa Romawi dan Yunani gemar menggunakan obat-obatan kimiawi dan sementara itu kebanyakan orang-orang India menggunakan obat-obatan alami (non kimiawi).

Para Ahli Medis telah sepakat bahwa selama mengkonsumsi makanan sehat sudah cukup digunakan dalam pengobatan, tidak perlu menggunakan obat, dan selama bisa menggunakan obat-obatan alami (sederhana) maka tidak perlu menggunakan obat-obatan kimia. Mereka menegaskan:

وكلُّ دَاءٍ قُدر على دفعه الأغذية والحمية لم يحاوَلْ دفعهُ بالأدوية، قالوا؛ ولا ينبغى للطبيب أن يولَعَ بسقى الأدوية فإن الدواء إذا لم يجد في البدن داء يحلله، أو وجد داء لا يوافقه فزادت كميتهُ عليه أو كيفيتهٌ تشبث بالصحة وعبث بها  

“Setiap penyakit yang masih bisa dihilangkan dengan mengkonsumsi makanan sehat dan pencegahan maka tidak perlu dihilangkan dengan obat-obatan [2].” mereka pun menegaskan kembali: “Seorang dokter tidak boleh ketagihan menggunakan obat, karena obat apabila tidak menemukan (penyakit) pada tubuh atau menemukan penyakit itu akan tetapi dosis penggunaan obatnya tidak sesuai maka hal itu akan mengganggu dan merusak kesehatan tubuh.”

Para pakar kedokteran malah terbiasa berobat dengan makanan sehat, mereka masuk dalam salah satu dari tiga golongan ahli medis yang ada. Dan hasil penelitian tentang hal itu adalah: “Bahwa pada dasarnya obat-obatan itu juga makanan”. Bangsa atau kelompok masyarakat yang membiasakan diri dalam mengkonsumsi makanan-makanan sehat, sangat sedikit sekali yang terkena penyakit dan pengobatannya pun cukup dengan pola makanan sehat. Akan tetapi penduduk kota kebanyakan makanan yang mereka konsumsi adalah makanan variatif sehinga obat yang harus mereka konsumsi juga obat-obatan kimia. Karena  penyakit yang mereka derita pada umumnya juga mengandung komplikasi, sehingga obat-obatan kimia lebih sesuai terhadap penyakit mereka. Adapun penyakit yang diderita oleh orang-orang desa dan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyakit sederhana, sehingga obatnya cukup berupa makanan sehat, ini adalah merupakan bukti nyata menurut ilmu kedokteran.

Kami (Imam Ibnu Qayyim rahimahullah) tegaskan:

Ada hal lain dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bila dibandingkan dengan ilmu kedokteran pada umumnya, seperti perbandingan dengan ilmu kedokteran dengan ilmu pengobatan orang-orang awam. Hal ini sudah diakui oleh kalangan orang pandai dan tokoh-tokoh ilmu kedokteran yang ada. Sebagian di antara mereka menyatakan bahwa ilmu kedokteran yang mereka miliki adalah analogiAda juga yang berpendapat bahwa ilmu kedokteran mereka adalah hasil eksperimen (uji coba). Ada juga yang berani mengatakan bahwa ilmu kedokteran mereka adalah ilham dan prediksi yang tepat. Ada juga yang menyatakan bahwa banyak dari ilmu kedokteran diadopsi dari hewan ternak. Seperti yang kita lihat bahwa kucing-kucing hutan apabila sempat memakan binatang-binatang beracun segera mendekati pelita dan menjilati minyaknya untuk mengobati dirinya. Kita juga bisa melihat ular yang baru keluar dari tanah kalau pandangan matanya kabur, segera mendekati daun الرازيانج (razyanaj) lalu mengelebatkan matanya di depan daun tersebut. Sebagaimana seekor burung yang suhu tubuhnya terlalu panas segera menyeburkan diri ke dalam air laut. dan banyak lagi contoh lain yang disebutkan dalam dasar-dasar ilmu kedokteran.

Bagaimana mungkin semua teori kedokteran semacam itu bisa dibandingkan dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan apa yang bermanfaat dan mendatangkan bahaya !!!

Perbandingan ilmu kedokteran yang mereka miliki dengan wahyu seperti perbandingan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para Nabi. Bahkan ajaran para nabi mengandung unsur pengobatan terhadap banyak penyakit yang belum bisa diungkap oleh otak para pakar ilmu kedokteran terhebat sekalipun. Belum bisa dicapai oleh pengetahuan, eksperimen dan analogi mereka. Yakni pengobatan penyakit hati dan penyakit ruhani, memperkuat ketahanan jiwa, rasa bersandar dan tawakkal kepada Allah ta’ala, kembali kepada hukum-Nya, tunduk dan pasrah di hadapan-Nya, merendahkan diri di depan-Nya, selalu bersedekah, berdoa, bertaubat istighfar, berbuat baik kepada sesama, menolong orang susah, menghilangkan kesulitan orang lain dan lain sebagainya. Semua bentuk pengobatan semacam ini telah dicoba oleh berbagai bangsa dan segala jenis agama mereka, ternyata mereka mendapatkan bentuk-bentuk pengobatan semacam itu memiliki pengaruh untuk kesembuhan dalam batas yang tidak pernah dicapai oleh pengetahuan medis di kalangan dokter dengan segala eksperimen dan qiyas (analogi) mereka.

Kami (Imam Ibnu Qayyim rahimahullah) telah mencoba bentuk pengobatan ini demikian juga selain kami telah mencobanya dalam banyak kasus penyakit. Ternyata ia dapat berfungsi lebih dari yang bisa dilakukan dengan obat-obatana biasa. Bahkan bila dibandingkan dengannya, obat-obatan kimia itu ibarat ramuan-ramuan obat sederhana di mata para dokter. Itu berlaku dalam tatanan hukum hikmah Ilahi, tidka keluar dari tatanan hukum itu sedikitpun. Akan tetapi faktor kesembuhan itu juga bermacam-macam. Kalau hati sudah terikat dengan Rabb dari sekalian makhluk, Pencipta dari segala obat dan penyakit, Pengatur yang mengurus segala sesuatu sesuai kehendak-Nya sendiri, pasti hati tersebut memiliki berbagai macam obat yang tidak dimiliki oleh hati yang jauh dan berpaling dari Allah ta’ala. Kalau hati nurani kuat, maka tabiat dan jiwa manusianya juga menjadi kuat. Tabiat dan jiwa seseorang akan saling mendukung dalam menyingkirkan dan mengatasi penyakit. Tidak dapat dipungkiri bahwa obat yang paling mujarab itu dimiliki oleh orang yang tabiat dan jiwanya kuat, yang selalu merasa senang dan tentram karena menjadi dekat dengan Penciptanya, merasa suka dan nikmat berdzikir kepada Allah, seluruh kekuatan tertuju hanya kepada Allah, selalu memohon pertolongan dan bertawakal kepada Allah ta’ala.

Kekuatan yang ada pada dirinya dapat menghilangkan rasa sakit secara menyeluruhhal ini tidak dapat dipungkiri kecuali oleh sebodoh-bodohnya manusia, oleh orang yang paling batu otaknya, paling kusam jiwanya dan paling jauh dari Allah ta’ala serta dari hakikatnya sebagai manusia. Berikut ini akan kami paparkanfaktor penyebab hilangnya penyakit karena sengatan binatang berbisa dengan membaca surat Al-Fatihah sebagai ruqyah (pengobatan), sehingga orang yang tersengat itu bisa sembuh tanpa mengerang-erang kesakitan lagi. Itulah dua macam pengobatan nabawiyah dengan bersandar pada kekuatan Allah ta’ala.[3]

Demikianlah penjelasan Imam Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah seorang pakar dan ahli pengobatan jasmani dan ruhani terutama karena kepiawaian beliau rahimahullah tidak diragukan lagi dalam terapi-terapi pengobatan hati sehingga jikalau kita membaca karya-karya beliau tentang penyakit hati dan metode terapinya  – بإذن الله تعالى – akan sembuh baik dari penyakit kegalauan, kegundahan, kehampaan, kebimbangan maupun demam atau penyakit badan lainnya.

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

تم هذه الرسالة و كتبه الإمام ابن قيم الجوزية
وكتابة من جديد بقلم يودا عبد الغني

____________________

  1. Demikianlah dinamakannya dalam Zaadul Ma’ad yaitu Aqrabadzin.
  2. Yakni ketika menderita penyakit tertentu, ia harus menggunakan obat yang sesuai tanpa berlebihan dalam dosisnya. Karena setiap obat itu ibarat senjata bermata dua, di satu sisi ia bermanfaat menyingkirkan penyakit, namun jika berlebihan dosis atau takarannya atau terlalu sering digunakan bisa jadi akan menyebabkan sakit pada salah satu organ tubuh yang tadinya sehat. Bahkan banyak penyakit yang pengobatannya hanya membutuhkan istirahat total saja atau hanya membutuhkan pengurangan konsumsi makanan (diet) khusus saja.
  3. Dinukil dari Kitab Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 5-8) Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq: Abdul Ghani Abdul Khaliq, Ta’liq: Dr. Adil Al-Azhari, takhrij:  Mahmud Farraj Al-Uqdah. cet. Darul Fikr.

2 Komentar

  1. Abdurrazaq mengatakan:

    Jazakallah khair

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: