khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Hadits » RAHASIA PENYAKIT DEMAM (PART. 1)

RAHASIA PENYAKIT DEMAM (PART. 1)


Uap Neraka Jahannam_318x159

 الحُمَّى مِنْ فَيحِ جَهَّمَ

DEMAM BERASAL DARI UAP JAHANNAM

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

 —oOo—

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam dan shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya serta para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya, Amma ba’du.

Sesungguhnya Risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan kesempurnaan yang tiada satu pun kekurangan di dalamnya yang perlu ditambahkan (bid’ah) dan tidak boleh pula dikurang-kurangi, sebagaimana dalam sebuah kaidah disebutkan:

 الدينُ جاءَ لسعادةِ البَشَرْ ولانتفاءِ الشرِّ عنهم والضَّرَرْ

“Agama hadir untuk kebahagiaan manusia dan (dalam rangka) meniadakan kejahatan serta keburukan dari mereka.” [1]

Dengan demikian keberadaan agama Islam ini sangatlah dibutuhkan oleh segenap manusia dalam setiap aspek kehidupannya baik dalam tatanan hukum, adab bermuamalah, ibadah, dan bahkan dalam Metode Pengobatan pun Islam telah mengajarkan hal demikian maka sungguh beruntunglah seorang muslim yang kembali (menelaah) agamanya (kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunah disertai pemahaman para shahabat). Berikut ini -insya Allah- akan saya coba uraikan masalah penyakit panas (demam) yang kami coba petik dari beberapa faidah kitab seorang Imam besar lagi terkemuka di zamannya Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah.

  • Metode Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Mengobati Penyakit Demam Dengan Air (dikompres):

Mengobati Demam_257x196

  • Hadits Pertama: Diriwayatkan dari Nafi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَطْفِئُوهَا بِالْمَاءِ قَالَ نَافِعٌ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقُولُ اكْشِفْ عَنَّا الرِّجْزَ

“Demam berasal dari uap neraka jahannam maka redakanlah dengan air” Nafi (periwayat hadits) berkata, Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata; Hindarkanlah kami dari adzab [2]

  • Hadits Kedua: Dari Fatimah binti Mundzir:

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَتْ إِذَا أُتِيَتْ بِالْمَرْأَةِ قَدْ حُمَّتْ تَدْعُو لَهَا أَخَذَتْ الْمَاءَ فَصَبَّتْهُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ جَيْبِهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَبْرُدَهَا بِالْمَاءِ

Bahwa Asma` binti Abu Bakar radliallahu ‘anhuma bahwa apabila didatangkan kepadanya seorang wanita yang menderita sakit demam, maka ia akan mengambil air, lalu ia menyemburkan pada bagian saku (dadanya). Kemudian dia berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami supaya mendinginkannya dengan air.”[3]

  • Adapun redaksi hadits dalam kitab Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 18), sebagai berikut:

إِنَّمَا الْحُمَّى أَوْ شِدَّةُ مِنْ فِيْهِ جَهَنَّمَ؛ فَأَبْرِدُوْا لَهَا بِالْمَاءِ

“Sesungguhnya demam itu atau panas matahari itu berasal dari uap neraka jahannam, maka dinginkanlah dengan air.”[4]

PENJELASAN HADITS

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata terkait hadits di atas beliau menuturkan;

Hadits ini terlihat rumit bagi kebanyakan kalangan medis yang bodoh. Hadits ini mereka anggap bertentangan dengan sistem terapi dan pengobatan terhadap demam. Berikut ini akan kami jelaskan -dengan daya dan kekuatan Allah- ditinjau dari sudut pemahaman fiqh dan argumentasinya, kami tegaskan: Konteks perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dua macam;

  1. Bersifat  umum untuk penduduk bumi
  2. Bersifat khusus untuk sebagian penduduk bumi saja.

Pertama: seperti sabda-sabda beliau pada umumnya

Kedua: seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ ولاَ بَولٍ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Janganlah kalian menghadap kiblat ketika kalian buang air kecil atau besar, jangan pula kalian membelakanginya, akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat” [5]

(Maksud) hadits ini bukanlah ditujukan kepada mereka yang tinggal di timur dan barat.[6] dan bukan pula kepada penduduk Iraq akan tetapi untuk penduduk Madinah dan yang searah dengannya seperti Syam dan selainnya. Begitu pula dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam;

ما بين المشرقِ والمغرب قبلةٌ

“Di antara timur dan barat adalah arah kiblat.” [7]

Bila hal ini telah difahami maka perlu diketahui bahwa sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu khusus untuk penduduk Hijaz dan sekitarnya. Karena kebanyakan penyakit demam yang terjadi di sana termasuk jenis demam yang dapat muncul sewaktu-waktu yang terjadi karena panasnya terik mentari. Demam semacam itu bisa di atasi dengan air dingin dengan cara diminum atau dibuat mandi.

Pengertian lafazh: الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ (demam itu berasal dari uap neraka jahanam) yaitu: panas demam yang sangat bergejolak sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya:

فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

“Panas matahari yang terik itu berasal dari uap neraka jahanam” [8]

Berkenaan dengan dua pengertian hadits tersebut ada dua pengertian:

Pertama: Yakni bahwa panas tersebut merupakan conth dan bagian kecil yang diambil dari Jahannam, agar para hamba Allah ta’ala menjadikannya sebagai indikasi Neraka dan menjadikannya sebagai pelajaran. Kemudian Allah mentakdirkan keberadaan uap Neraka Jahanam dengan beragam sebab yang menjadi penyebabnya. Sebagaimana jiwa, gembira, senang, serta nikmat adalah bagian dari kenikmatan Surga, yang Allah ta’ala perlihatkan dalam kehidupan dunia ini. Sebagai pelajaran dan indikator keberadaan surga itu sendiri. Allah mentakdirkan keberadaan surga itu dengan berbagai sebab yang menjadi konsekuensinya.

Kedua: Yang dimaksud dalam hadit itu adalah tamtsil (perumpamaan). Allah ta’ala mengumpamakan panas demam yang bergejolak seperti uap Jahannam. Allah juga mengumpamakan terik matahari dengan uap Jahanam sebagai peringatan bagi manusia akan panasnya siksa Neraka. Bahwa panas yang menyengat itu mendekatinya akan tersentuh oleh panas tersebut.

Pengertian lafazh:  بِالْمَاءِ (Dengan Air)

Hal ini dapat difahami dari dua sisi yaitu:

Pertama: Segala jenis air. Itulah pengertian yang benar.

Kedua: Air Zamzam. Mereka yang berpendapat demikian beralasan dengan hadits Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Jamrah Nashr bin Imran Adh-Dhuba`i bahwa ia meriwayatkan, “Aku pernah belajar kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di kota Mekkah, “Dinginkan dengan air zamzam. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya demam itu berasal dari uap neraka Jahanam, maka dinginkanlah dengan air.”  atau (ia berkata),”… dengan zamzam.”

Namun perawi hadits tersebut ragu-ragu. Kalau ia meriwayatkannya dengan tegas, tentu kesimpulannya adalah; bagi penduduk Mekkah, hendaknya menggunakan air zamzam, karena air zamzam itu melimpah bagi mereka. Tetapi bagi penduduk kota lain dengan air apa saja yang ada pada mereka. Demikianlah penjelasan dari Imam Ibnu Qayyim rahimahullah.

PENGERTIAN DEMAM (PANAS)

  • Pengertian demam dalam sudut pandang ulama Islam:

الحمى حرارة غريبة تشتعلُ بِالقلب، وتنبثُّ منه بتوسط الروح والدم في الشرايين والعروق إلى جميع البدن فتشتعلُ فيه اشتعالا يضر بالأفعال الطبيعية

“Demam adalah suhu panas yang unik yang menyala-nyala di jantung dan keluar darinya kemudian melalui energi tubuh (ruh) dan darah dalam arteri teralirkan ke seluruh tubuh, sehingga terasa membara dan bisa membahayakan aktivitas alamiah anggota tubuh tersebut.”[9]

  • Pengertian demam dalam sudut pandang ahli medis:

Fever is a rise in internal body temperature to levels that are considered to be above normal

“Demam adalah peningkatan suhu tubuh internal terhadap tingkat suhu yang dianggap di atas normal” [10]

MACAM-MACAM DEMAM

Demam terbagi menjadi dua macam [11] yaitu;

    1. Gejala Demam Biasa (common fever symptoms)  yakni akibat pembengkakan, aktivitas berlebihan, teriknya panas mentari, atau karena emosi [12] yang tidak terkendali dan lain sebagainya.
    2. Demam Penyakit. Demam jenis kedua ini terbagi menjadi tiga macam: demam jenis ini tidaklah berjangkit melainkan di dalam organ tubuh kemudian darinya menyebar ke seluruh tubuh.

1.1. Apabila sumbernya berkaitan dengan energi tubuh disebut dengan: حمى يوم (demam sehari) karena biasanya ia akan hilang dengan sendirinya dalam sehari dan paling lama biasanya tiga hari.

1.2. Apabila sumbernya berkaitan dengan kontaminasi lain yang disebut dengan عفنية (ufniyah) demam semacam ini terdapat empat variabel yaitu:

  1. صفراوية (yellow fever) Demam kuning
  2. سوداوية (black fever) Demam hitam
  3. بلغمية (boutonneuse fever) Demam diakibatkan oleh bakteri dari gigitan kutu.
  4. دموية (dengue fever) Demam berdarah

1.3. Apabila sumbernya berkaitan dari organ keras yang utama maka ia dinamakan Hectic fever dan masih banyak lagi macam-macam variabel penyakit demam.

FAIDAH DEMAM TERHADAP TUBUH

Demam juga dapat bermanfaat bagi tubuh dan bahkan melebihi daripada obat. Seringkali demam sehari dan demam ufniyah itu menjadi sebab pematangan berbagai unsur berat yang hanya bisa matang dengan demam tersebut [13], dan menjadi faktor pembuka sumbatan-sumbatan dalam tubuh yang tidak bisa diatasi dengan obat-obatan pelarut. Dan selain itu juga penyakit mata pada usia dini dan lanjut juga bisa disembuhkan secara ajaib dan cepat. Demam juga berguna mengatasi penurunan stamina dan konvulsi berat serta berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh kotoran-kotoran berat dalam tubuh.[14]

Segelintir pakar medis terkemuka menuturkan kepada Imam Ibnu Qayyim rahimahullah bahwa banyak sekali penyakit yang indikasi kesembuhannya bisa diketahui bila muncul demam, sehingga si sakit bisa berharap segera sembuh. Sehingga untuk penyakit yang bersangkutan bisa jadi demam itu lebih berguna daripada obat sekalipun. Karena demam berfungsi memanaskan berbagai racun dan unsur-unsur berbahaya dalam tubuh. Bila semua racun dan unsur-unsur tersebut sudah benar-benar matang, maka barulah obat dapat mengatasinya. Artinya, semua racun dan unsur tersebut sudah siap untuk dikeluarkan dari dalam tubuh sehingga mempercepat proses kesembuhan.[15]

Beliau rahimahullah menuturkan kembali:

Apabila kedua hal di atas itu sudah dapat difahami maka yang dimaksud dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah gejala Demam Biasa (common fever symptoms), demam semacam itu bisa diredakan segera dengan cara berendam dalam air dingin atau minum air dingin yang dicampur es. Maka pasien tidak perlu lagi melakukan pengobatan lain. Karena yang ada dalam tubhnya hanya sejenis unsur panas yang bersenyawa dalam energi tubuh. Demam itu sudah bisa hilang ketika unsur dingin sudah sampai ke dalam tubu. Unsur dingin itu bisa meredakan dan meredam panasnya yang bergejolak tanpa perlu mengeluarkan unsur tertentu dari dalam tubuh atau menunggu proses pematangannya. Namun bisa juga yang dimaksud dalam hadits di atas adalah segala macam penyakit demam. [16]

Seorang pakar kedokteran yang terkemuka yaitu جالينوس (Galinews) mengakui hal tersebut yaitu bahwa air dingin berguna mengatasi demam. Dalam makalah ke sepuluh dalam bukunya “حلية البرء” (kiat kesembuhan) ia menegaskan:

“Kalau seorang pemuda yang memiliki daging yang baik, bertubuh subur dalam keadaan marah atau dalam keadaan demam yang sangat, sementara tidak ada pembengkakan dalam tubuhnya, lalu ia mandi dengan air dingin atau berenang di air dingin, langkah itu tidak bermanfaat.” ia melanjutkan: “Dan kami menganjurkan hal itu tanpa henti-hentinya.”[17]

Ar-Raazi dalam kitabnya Al-Kabiir berkata:

إذا كانت القوة قوية والحمَّى حادة جداً – والنضجُ بَيِّنٌ، ولا وَرَمَ في الجوف، ولا فَتْقَ-: ينفع الماء البارد شربًا. و إن كان العليل خِصبَ البدن، والزمان حارٌّ، وكان معتادا لاستعمال الماء البارد من خارج فليؤذَن فيه

“Apabila energi tubuh kuat sementara demam yang terjadi juga sangat tinggi, proses pematangan jelas, dan tidak terdapat pembengkakakn atau luka dalam tubuh, maka air dingin sangat berguna bila diminum. Namun apabila ia bertubuh segar sementara suhu cuaca panas dan ia terbiasa mandi dengan air dingin maka itu juga dibolehkan.” [18]

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Alhamdulillah, selesai disusun pada tanggal 23/05/2013, Tangerang Selatan. bacalah juga Rahasia Penyaki Demam Part.2]

_____________________

    1. Lihat Manzhumah Ushuul Al-Fiqh (bait: 10) Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, baca online disini.
    2. HR. Al-Bukhari bab (28) Al-Humma min Faihi Jahannam (no. 5723), cet. II, Maktabah Ar-Rusyd, th. 1427 H. & Muslim bab (26) Likulli Daa`in Dawaa`un (no. [78] 2209), cet.I, Daar Thayyibah, th. 1427 H.
    3. HR. Al-Bukhari bab (28) Al-Humma min Faihi Jahannam (no. 5724), cet. II, Maktabah Ar-Rusyd, th. 1427 H. & Muslim  bab (26) Likulli Daa`in Dawaa`un (no. [82] 2211), cet.I, Daar Thayyibah,  th. 1427 H. Catatan: Hadits-hadits tentang ini banyak sekali dan kami mencukupkan dalam menukil dua hadits di atas.
    4. Demikanlah redaksi hadits dalam Kitab Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 18-19) Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq: Abdul Ghani Abdul Khaliq, Ta’liq: Dr. Adil Al-Azhari, takhrij:  Mahmud Farraj Al-Uqdah. cet. Darul Fikr. Keterangan: Imam Ibnu Qayyim rahimahullah hanya menyebutkan telah disebutkan dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) dan pentahqiq serta pentakhrij haditsnya pun tidak mencantumkan keterangan apapun, maka saya biarkan redaksi tersebut sebagaimana adanya di atas tanpa perubahan dan saya cukup membawakan redaksi haditsnya langsung dari kitab Shahihain yang saya miliki.
    5. HR. An-Nasaa`i (no. 21) dan At-Tirmidzi (no. 8), lafazh hadits miliki An-Nasaa`i.
    6. Disebutkan pula dalam Zaadul Ma’ad fi Hadyi khairil Ibaad, (hlm. 71)
    7. HR. At-Tirmidzi (no. 313)
    8. HR. Muslim kitab Al-Masaajid wa Muwaadha’ash Shalah, bab (31) auqaat ash-shalawatil khams (no. [610] 166), cet.I, Daar Thayyibah,  th. 1427 H.
    9. Lihat Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 19)
    10. Lihat Medicalnewstoday.com
    11. Ibid no. 9
    12. Dalam Kitab Ath-Thibb An-Nabawi halaman: 19 yang saya miliki. Text yang saya dapatkan tertulis القيظ dan saya tidak mengetahui artinya namun di jelaskan dalam footnote-nya yang dimaksud adalah text الغيظ (artinya: kemarahan atau emosi) dengan demikian saya kira yang lebih mendekati adalah  الغيظ (kemarahan atau emosi). Wallahu a’lam bish-shawwab
    13. Saya kira hal ini sebagaimana sebuah proses terhadap anak kecil yang apabila hendak mengalami peningkatan metabolisme tubuh; baik berupa akan tumbuh gigi atau hendak mampu berjalan kaki selalu didahului oleh penyakit demam sekitar sehari atau dua, tiga hari. Barangkali ini yang dimaksud oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. Wallahu a’lam.
    14. Lihat: Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 19-20)
    15. Beberapa penyakit menahun seperti reumatik persendian dimana sering menimbulkan kram persendian sehingga tidak mampu bergerak, atau penyakit shipilis menahun pada organ safar, sehingga seringkali kondisinya membaik bila panas tubuh meningkat yaitu ketika terjadi demam. Oleh sebab itu salah satu metode kedokteran dalam kondisi demikian adalah membuat semacam demam buatan yaitu menciptakan demam pada tubuh pasien dengan menyuntikkan bahan-bahan tertentu.
    16. Lihat: Ath-Thibb An-Nabawi (hlm. 20)
    17. Ibid
    18. Ibid (hlm. 21)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: