khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kesehatan & Pengobatan » RAHASIA PENYAKIT DEMAM (PART. 2)

RAHASIA PENYAKIT DEMAM (PART. 2)


Mengobati Demam - Copy_257x196

—oOo—
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد
—oOo—

Alhamdulillah, setelah kami selesai menuturkan perihal metode pengobatan demam dan macam-macamnya pada bagian pertama maka dalam bagian kedua ini adalah sebagai lanjutan dan penutup dari artikel Rahasia Penyakit Demam.

Diantara rahasia-rahasia penyakit demam adalah demam itu menghapuskan kesalahan (dosa) anak Adam hal ini sebagaimana telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara shahih:

  • Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:

إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.”[1]

  • Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:

أن رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيهِ وسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمّ السَّائِبِ أَو أُمّ المُسَيِّبِ فَقَالَ؛ مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi Ummu Saa`ib atau Ummu Musayyab  seraya berkata, “Ya Ummu Saa`ib atau Ummu Musayyab apa yang membuatmu menggigil?” Ummu Saa`ib menjawab, “Demam! Semoga Allah tidak memberkahinya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu mencela sakit demam (panas). karena dia dapat menghilangkan kesalahan (dosa-dosa) anak Adam, seperti halnya kir (alat peniup atau penyala api) dapat membersihkan karat-karat besi.”[2]

  • Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

 مَا مِنْ مَرَضٍ يُصِيبُنِي أَحَبّ إلَيّ مِنْ الْحُمّى لِأَنّهَا تَدْخُلُ فِي كُلّ عُضْوٍ مِنّي وَإِنّ اللّهَ سُبْحَانَهُ يُعْطِي كُلّ عُضْوٍ حَظَّهُ مِنْ الْأَجْرِ 

“Tidak ada penyakit yang menimpaku yang lebih aku sukai daripada demam karena demam merasuki seluruh organ tubuhku, sementara Allah ta’ala akan memberikan pahala pada setiap organ tubuh yang terkena demam.”[3]

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan:

Apabila seseorang demam maka ia perlu meninggalkan berbagai jenis makanan buruk, lalu mengkonsumsi berbagai jenis makanan dan obat yang bermanfaat, hal itu sangat membantu untuk membersihkan tubuh, membuang berbagai kotoran dan kelebihan yang tidak berguna, dan menghilangakan unsur-unsur makanan yang buruk. Sehingga prosesnya mirip dengan fungsi api terhadap besi dalam menghilangkan karatnya dan inti besi. Proses semacam ini sudah amat dikenal di kalangan medis.

Adapun pembersihan hati dari segala noda dan kotorannya serta proses mengeluarkan berbagai zat berbahaya dari hati, juga hal yang sudah dikenal di kalangan dokter jiwa. Dan realita yang mereka dapatkan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya saja bedanya, apabila penyakit hati itu sudah sulit diharapkan kesembuhannya, maka obat ini pun sudah tidak bermanfaat lagi untuk mengobatinya.

Sesungguhnya demam itu sangat bermanfaat bagi tubuh dan kalbu (hati) sehingga mencaci penyakit demam adalah merupakan perbuatan zhalim dan sikap memusuhi (sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,-pent).

Suatu hari ketika aku (Imam Ibnu Qayyim) pernah terserang demam lalu aku teringat ucapan salah seorang penyair:

زَارَتْ مُكَفّرَةُ الذّنُوبِ وَوَدّعَت ** تَبّا لَهَا مِنْ زَائِرٍ وَمُوَدّعِ
قَالَتْ وَقَدْ عَزَمْت عَلَى تَرْحَالِهَا ** مَاذَا تُرِيدُ فَقُلْتُ أَنْ لَا تَرْجِعِي
فَقُلْت: تَبّا لَهُ إذْ سَبّ مَا نَهَى رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَنْ سَبّهِ وَلَوْ قَالَ:
زَارَتْ مُكَفّرَةُ الذّنُوبِ لِصَبّهَا ** أَهْلًا بِهَا مِنْ زَائِرٍ وَمُوَدّع
قَالَتْ وَقَدْ عَزَمَتْ عَلَى تَرْحَالِهَا ** مَاذَا تُرِيدُ فَقُلْت: أَنْ لَا تُقْلِعِي

Telah tiba sang penghapus dosa, dan ia hendak pergi ** celakalah dia (penghapus dosa) yang datang dan pergi
Ia berkata: di saat ia hendak meninggalkannya**apa yang engkau inginkan? Maka aku berkata: Jangan sekali-kali datang lagi.
Maka aku (penghapus dosa) berkata: celakahlah dia: yang mencaci apa yang telah dilarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dicaci dan seharusnya ia berakta:
Telah tiba sang penghapus dosa untuk menghapuskan dosa** selamat datang wahai penghapus dosa yang datang dan pergi
Ia (penghapus dosa) berkata: di saat ia hendak meninggalkannya**apa yang engkau inginkan? Maka aku berkata: janganlah engkau pergi.

Akan tetapi di awal ia tidak mengatakan “janganlah engkau pergi” maka sang penhapus dosa itu pun pergi dengan cepat.[4]

Demikianlah penjelasan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, dengan begitu terkadang ada suatu hikmah yang memang diberitahukan kepada kita dan yang tersembunyi dari kita sebagaimana penyakit demam ini mengandung banyak hikmah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk mengatasi penyakit demam ini dengan mengkompresnya dengan air dingin sebab demam itu berasal dari uap Neraka Jahannam dan inilah hikmah yang diberitahukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan benarlah apa yang disabdakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita sebagai pengikut beliau sudah tentu membenarkan pula apa yang disabdakannya namun kendati demikian apabila panasnya itu meningkat dan tak kunjung sembuh maka sesungguhnya Allah ta’ala semata yang menyembuhkan segala macam penyakit oleh karenanya kita tidak bersandar kepada sebuah upaya tanpa tawakkal (berserah diri) kepada-Nya. Dan sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama untuk mengobati penyakit demam ini apabila diperlukan maka datanglah kepada ahli pengobatan (medis) sebagai bentuk upaya mengobati dan Allah ta’ala sematalah yang menyembuhkan segala macam penyakit.

Adapun ketika kita ditimpa penyakit demam adalah upaya terbaik adalah bersabar atas takdir Allah ta’ala karena dengan adanya penyakit tersebut terhapuslah dosa-dosa kita dan sungguh benarlah apa yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. Memang kesabaran  adalah sebuah hal yang tidak menyenangkan bagi manusia padahal fungsi kesabaran itu bagi dirinya sangatlah bermanfaat sekali dan bahkan seorang penyair berkata terhadap seseorang yang ingin mengobati penyakit hasadnya, ia berkata:

قال أبو تمام؛ إِصْبِرْ عَلَى مَرَضِ الحَسُودِ فَإِنَّ صَبْرَكَ قَاتِلُهُ

 Abu Tamam berkata: “Bersabarlah terhdap penyakit hasad karena sesunguhnya kesabaranmu itu yang akan membunuhnya”

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Semoga apa yang kami uraikan disni bermanfaat bagi kami dan keluarga (khususnya) dan pembaca sekalian, dan akhir kalimat Wallahu a’lam wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 23/05/2013, Tangerang Selatan. (16:46)]

___________________

  1. HR. Al-Bukhari kitab al-maradha, bab: 16 (no. 5667)
  2. HR. Muslim kitab al-birr wash shilah wal ‘adab, bab: 14 (no. 2575)
  3. Ath-Thibbun Nabawi (hlm. 24) Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq: Abdul Ghani Abdul Khaliq, Ta’liq: Dr. Adil Al-Azhari, takhrij:  Mahmud Farraj Al-Uqdah. cet. Darul Fikr.
  4. Ath-Thibbun Nabawi (hlm. 23)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: