khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Al-Masaa-il » Tipu Daya Setan Terhadap Dirinya Sendiri !!!

Tipu Daya Setan Terhadap Dirinya Sendiri !!!


Tipu Daya Setan_1024x768

—oOo—
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد
—oOo—

Ketahuilah saudaraku sekalian, sebelum setan menipu kedua ibu bapak kita (Adam & Hawa) dia terlebih dahulu telah tertipu oleh dirinya sendiri, dia mendapatkan kemalangan, begitu pula anak cucunya, para pengikut setianya, dan siapa saja yang mentaatinya baik dari kalangan jin dan manusia.

Adapun bentuk tipu daya setan terhadap dirinya sendiri adalah bahwasanya ketika Allah ta’ala memerintahkannya bersujud kepada Adam ‘alaihissalaam, maka sebenarnya letak kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatannya adalah dalam mentaati dan menuruti perintah Allah ta’ala akan tetapi jiwanya yang bodoh dan zhalim itu membisikkan bahwa jika ia sampai bersujud kepada Adam, maka itu berarti melecehkan dan merendahkan dirinya. Hal itu berarti ia (setan) tunduk dan sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah sedangkan dia tercipta dari api dan menurutnya api itu lebih mulia daripada tanah dengan demikian makhluk yang tercipta dari api lebih baik daripada makhluk yang tercipta dari tanah, dan ketertundukan makhluk yang lebih utama terhadap makhluk yang lebih rendah itu berarti pelecehan terhadap dirinya dan derajatnya.

Ketika ketololan ini menghinggapi hatinya ditambah lagi munculnya hasad (rasa dengki) terhadap Adam yang ia ketahui bahwa Allah telah mengkhususkan Adam dengan berbagai kemuliaan – yaitu Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya dan meniupkannya dengan ruh-Nya dan menyuruh malaikat agar bersujud kepadanya, mengajarkan segala macam nama kepadanya yang tidak Dia ajarkan kepada malaikat sekalipun dan menempatkannya di Surga. Maka kedengkian yang besar dari musuh Allah ta’ala semakin menjadi-jadi, sehingga musuh Allah pun memandang rendah Adam sebagai makhluk yang tercipta dari tanah kering seperti tembikar dan ia pun merasa heran seraya berkata:

لأمرٍ عظيم قد خُلق هذا، ولئن سلّط عليّ لأعصِينّه، ولئن سلّطت عليه لأُهْلِكَنّه

“Apakah mulianya makhluk ini? Sekiranya dikuasakan atas diriku maka pasti akan aku durhakai dia, dan sekiranya aku dikuasakan atas dirinya maka pasti akan aku binasakan dia.”[1]

Nabi Adam ‘alaihissalaam diciptakan oleh Allah ta’ala dalam bentuk yang paling sempurna, paling baik dan paling indah, ditambah lagi dengan kebaikan-kebaikan batiniyah berupa ilmu (pengetahuan), kesabaran dan ketenangan. Allah ta’ala menangani penciptaannya dengan tangan-Nya sendiri sehingga menjadikan ciptaan yang terbaik dan bentuk yang paling sempurna. Tingginya enam puluh hasta [2] disandangi dengan pakaian yang indah dan bagus, dan para malaikat pun melihatnya sebagai pemandangan yang paling indah dan paling baik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Akhirnya para malaikat pun bersujud kepadanya atas perintah Rabb mereka yang Maha Mulia. Melihat hal demikian itu maka setan pun dikuasai oleh kedengkiannya yang menyebabkan penentangan terhadap nash berdasarkan akal pikirannya sendiri yang dilakukan oleh para aulia (wali) kebatilan dan ia berkata:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik daripada Adam, Engkau menciptakan diriku dari api sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Al-A’raaf: 12).

Setan berpaling dari nash yang jelas dan menggantinya dengan ra’yunya yang rusak dan buruk kemudian ia juga menentang Rabb Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana, padahal tiada akal yang waras yang mendapatkan tempat untuk menentang hikmah atau kebijaksanaan-Nya, dia berkata:

أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا

“Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.” (QS. Al-Israa’: 62)

Maksud dari perkataan tersebut adalah untuk membantah, dan makna: “Beritahukan kepadaku mengapa Engkau memuliakannya atas diriku” dengan perkataan seperti ini  bahwa Allah tidak berbuat bijaksana dan tidak benar. Adapun yang bijak itu justru Adamlah yang harus bersujud kepadaku karena sudah semestinya karena yang rendah itulah yang tunduk kepada yang utama karena yang demikian itu tidak melanggar kebijaksanaan (menurut pendapat syaithan,-pent).

Kemudian setan mengemukakan keutamaan dirinya atas diri Adam dengan mengatakan, أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ (aku lebih baik darinya) lalu ia pun mengemukakan hujjahnya yang bodoh yang menjelaskan tentang kelebih-utamaan materinya dan asal penciptaannya daripada materi dan asal penciptaan Adam ‘alaihissalaam, hal ini semua menghalanginya untuk melakukan sujud kepada Adam yang diperintahkan oleh Rabb itu dan ia pun durhaka kepada Rabb yang wajib disembah.

Setan itu telah menghimpun sifat kebodohan, kezhaliman, kesombongan,  kedengkian, kedurhakaan, dan penentangan nash berdasarkan akal pikirannya sendiri. Maka ia sendirilah yang mengrendahkan dirinya padahal ia bermaksud menganggungkannya, dan menjatuhkan martabatnya padahal ia bermaksud mengangkatnya, serta menghinakan dirinya padahal ia bermaksud memuliakannya. Apabila setan itu sudah tertipu oleh dirinya sendiri, lalu bagaimana bisa sampai ada manusia yang berakal mau mendengar dan menuruti kehendak setan itu?!

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Kahfi: 50). [3]

Demikianlah makar dan kebodohan setan terhadap dirinnya sendiri dan setelahnya ia lancarkan kepada bani Adam seluruhnya kecuali bagi orang-orang yang ikhlas sebagaimana Ikrar Iblis

فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“”Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad: 82-83)

Kita memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari makar setan yang terkutuk dan kita memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari kejahatan dan keburukan jiwa kita, aamiin. Semoga uraian singkat ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan keluarga dan antum sekalian.

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Akhir kalimat Wallahu a’lam wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 24/05/2013, Tangerang Selatan. akhukum fillah Yudha Abdul Ghani]

_________________________

  1. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya (no. 606) dan lihat juga Fawaa-idul Fawaa-id (hlm. 106) tahqiq: Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah.
  2. HR. Al-Bukhari (no. 6227) & Muslim (no. 2841) dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  3. Dinukil dari Ighaatsatul Lahfaan fii Mashaa-idisy Syaithaan (juz. 2 – hlm. 936-938) Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq: Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, cet. Daar Ibnul Jauzi.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: