khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » ALLAH BERSEMAYAM (ISTIWA’) DI ATAS ARSY

ALLAH BERSEMAYAM (ISTIWA’) DI ATAS ARSY


Istiwa_261x261

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

PENGERTIAN ISTIWA’ (BERSEMAYAM)

Istiwa’ menurut bahasa adalah:

يُطلق على معانٍ تدور على الكمال والانتهاء

Dimutlakan (beberapa makna yang berkisar) atas kesempurnaan dan akhir sesuatu. [1]

Hal ini sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dengan tiga bentuk:

  1. 1.      Mutlak seperti firman-Nya:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى

“Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya…” (QS. Al-Qashash: 14) yakni: sempurna

  1. 2.      Muqayyad (terkait) dengan (إلى) seperti firman-Nya:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ

“… Dan kemudian dia berkehendak menuju langit…” (QS. Al-Baqarah: 29) yakni: menuju dengan kehendak sempurna

  1. 3.      Muqayyad (terkait) dengan (على) seperti firman-Nya:

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ

“Supaya kalian duduk di atas punggungnya…” (QS. Az-Zukhruf: 13) maknanya: Tinggi dan menetap

Al-‘Allamah Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Dengan demikian makna istiwa’ Allah di atas Arsy-Nya berarti ketinggian dan ketetapan-Nya di atasnya yang layak dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Istiwa merupakan sifat fi’liyah (sifat yang berupa perbuatan) yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ (consensus). Dalil tentang hal ini adalah firman Allah ta’ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Adapun dalil dari As-Sunnah ialah diriwayatkan dari Qatadah bin Nu’am radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ، اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ

“Ketika Allah telah selesai menciptakan, Dia bersemayam di atas Arsy-Nya.”[2][3]

Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

أمّا الإستواء فمَعْنَاهُ كَمَا فسره السلف؛ العُلُو، والإِسْتِقْرَارُ وَالصُّعُوْدُ وَالإِرْتِفَاع

“Adapun Istiwa maknanya sebagaimana ditafsirkan oleh As-Salaf yaitu Al-‘Uluw (Tinggi), Al-Istiqrar (Berdiam), Ash-Shu’ud (Naik), dan Al-Irtifa` (di atas). Ini adalah tafsir para salaf terhadap kata Istiwa’ di atas Arsy. Adapun orang-orang sesat maka mereka menafsirkannya dengan الإستيلاء (menguasai). Tafsir tersebut tidak memiliki sisi pembenaran dalam bahasa, tidak pula dikenal di kalangan pemilik bahasa.[4]

PENGERTIAN ARSY

Arsy menurut bahasa adalah:

السرير الذي يجلس عليه الماك، لكن عر الله جلّ وعلا لابتصور ولا بتخيل، عظَمه وسعته

“Singgasana raja, akan tetapi Arsy Allah jalla wa a’la tidak mungkin bisa digambarkan dan tidak pula dikhayalkan kebesaran dan keluasannya.”

Allah ta’ala telah menyebutkan Arsy ini dalam beberapa ayat dan menyatakan bahwa ia memang besar. Firman Allah ta’ala:

رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Rabb dari Arsy yang agung” (QS. At-Taubah: 129)

Firman-Nya:

رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Rabb dari Arsy yang mulia.”(QS. Al-Mu’minun: 116)

Dan firman-Nya:

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

“Pemilik Arsy yang mulia.” (QS. Al-Buruj: 15)

Arsy adalah makhluk yang agung, ia adalah makhluk yang paling tinggi di bawahnya adalah Surga Firdaus, karena atap Surga Firdaus ini adalah Arsy Allah Yang Maha Pengasih. [5]

PERKATAAN PARA ULAMA SALAF TENTANG ISTIWA’ ALLAH DI ATAS ARSY

  • Kisah Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu: dari Zaid bin Aslam, dia berkata,

مر ابن عمر براع فقال هل من جزرة فقال ليس هاهنا ربها قال ابن عمر تقول له أكلها الذئب  قال فرفع رأسه إلى السماء وقال فأين الله فقال ابن عمر أنا والله أحق أن أقول أين الله واشترى الراعي والغنم فأعتقه وأعطاه الغنم

“(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata,  “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lantas mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lalu di manakah Allah?” Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.” Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut.­[6]

Dari hal tersebut dapat dipahami bahwa penggembala yang jujur itu mengetahui bahwasanya Allah berada di atas langit dan secara fitrah manusia ketika ditanyakan di mana Rabb (tuhan) kalian niscaya tiap orang akan berkata Rabb kami berada di atas langit sebagaimana Allah ta’ala firmankan: Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang berada di atas langit bahwa Dia tidak membuat kalian ditelan bumi.” (QS. Al-Mulk: 16). Maka hanyalah orang-orang yang berpegang teguh kepada hawa nafsunyalah yang mengatakan Allah ta’ala ada dimana-mana atau ada tanpa tempat karena Allah ta’ala dan Rasul-Nya sendiri yang telah mengabarkan kepada para hamba-Nya melalui Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib mengimaninya sebagaimana datangnya ayat tersebut dan kita tidak boleh menanyakan kaifiyat (bentuk / ilustrasi) tidak pula menyerupakan-Nya dengan mahkhluk dan tidak pula memalingkan maknanya kepada makna yang tidak ada landasannya dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

  • Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (th. 118 H-181 H) berkata:

أخبرنا أبو عبد الله الحفظ، أخبرنا أبو بكر محمد بن دواد الزاهد، أخبرنا محمد ابن عبد الرحمن السامي، حدثني عبد الله بن أحمد بن شبوية المروزي سمعت علي بن الحسن بن شقيق يقول: سمعت عبد الله بن المبارك يقول؛ نعرف ربنا فوق سبع سموات، على العرش استوى، بَائِنًا منه خلقه، ولا نقول كما قالت الجهمية: إنه ها هنا – وأشار إلى الأرض

Abu Abdillah Al-Hafizh telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Muhammad bin Dawud Az-Zahid telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdirrahman As-Saami telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad Syabawaih Al-Marwazi telah mengabarkan ia berkata: aku telah mendengar Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq, ia berkata: Abdullah bin Al-Mubarak ia berakata: “Kami mengetahui Rabb kami berada di atas tujuh langit (istiwa) di atas Arsy, terpisah dari makhluknya. Kita tidak akan mengatakan sebagaimana dinyatakan oleh Jahmiyyah: “Bahwa sesungguhnya Allah di sini” Kemudian beliau mengisyaratkan ke bumi. [7]

  • Imam Isma’il bin Abdirrahman Ash-Shabuni rahimahullah (th. 373 H – 449H) berkata:

ويعتقد أصحاب الحديث ويشهدون أّنَّ الله سبحانه فوق سبع سمواته على عرشه كما نطق به كتابه في قوله عز وجل في سورة يونس:{ إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ} وقوله في سورة  الرعد: { اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ}  وقوله في سورة  الفرقان: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا} وقوله في سورة  السجدة: { اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} وقوله في سورة  فاطر: { إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ} وقوله: { يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ} سورة  السجدة:5، وقوله: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ} (سورة الملك: 16) وأخبر الله سبحانه عن فرعون اللعين أنه قال لهامان: { ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأسْبَابَ ٍ أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا} (غافر: 36-37) وقال ذلك؛ لأنه سمع موسى عليه السلام يذكر أن ربّه في السماء، ألا ترى إلى قوله: { وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا} يعني في قوله: إن في السماء إلَهًا

Ash-habul Hadits (Ahlussunnah) meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala istiwa’ di atas langit-Nya yang tujuh, di atas Arsy-Nya. Sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan dalam Kitab-Nya dalam Surat (Yunus: 3): “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ di atas Arsy. Dia mengatur seluruh urusan. Tidak ada satupun yang bisa memberikan syafaat kecuali setelah (mendapatkan) izin-Nya.” Dan firman-Nya dalam surat (Ar-Ra’d: 2): “Allah yang telah mengangkat langit-langit tanpa tiang yang kalian menyaksikannya, kemudian Dia istiwa’ di atas Arsy” Dan Firman-Nya dalam surat (Al-Furqan: 59): “Kemudian Ar-Rahman istiwa’ di atas Arsy, maka tanyalah tentang Dia (Allah) kepada yang bisa mengabarkan (Muhammad).” Dan firman-Nya dalam surat (As-Sajadah: 4): “Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia istiwa’ di atas Arsy.” Dan firman-Nya dalam surat (Fathir: 10): “Hanya kepada-Nya naik kalimat yang baik.” Dan firman-Nya dalam surat (Al-Mulk: 16): “Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang berada di atas langit bahwa Dia tidak membuat kalian ditelan bumi.” Dan Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang fir’aun yang terlaknat bahwa dia berkata kepada Haaman: “Buatkanlah untukku bangunan yang tinggi agar aku bisa mencapai pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, agar aku bisa melihat kepada sesembahannya Musa. Dan sesungguhnya aku menyangka Musa berdusta.” (QS. Ghaafir / Al-Mu’min: 36-37) fir’aun berkata begitu karena mendengar Musa ‘alaihissalaam menyebutkan bahwa Rabbnya di atas langit. Tidakkah engkau melihat kepada firman Allah: “Dan sesungguhnya aku menyangka Musa berdusta” maksudnya: pada perkataan Nabi Musa bahwa di langit ada Ilah (Tuhan).

Kemdian beliau rahimahullah berkata:

و علماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمهم الله – لَم يختلفوا في أن الله على عرشه، وعرشه فوق سمواته، يثبتون من ذلك ما أثبته الله تعالى، ويؤمنون به، ويصدقون الرّب عز وجل في خيره، ويطلقون ما أطلقه سبحانه وتعالى من استوائه على العرش، ويُمرُّونه على ظاهره، ويَكِلُونَ علمه إلى الله، ويقولون: {آمَنَّا بِهِ كُلِّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُو الألْبَابِ} (آل عمران: 7) كما أخبر الله تعالى عن الراسخين في العلم أنَّهم يقولون ذلك ورضيه منهم فأثنى عليهم به

Dan ulama umat dan para imam dari kalangan salaf – rahimahumullah – tidak berselisih bahwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan perkara yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala dan beriman dengannya. Mereka membenarkan perkara yang dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla, mereka menetapkan secara mutlak perkara yang telah ditetapkan-Nya secara mutlak, bahwa Allah ta’ala istiwa’ di atas Arsy. Mereka memberlakukan sesuai zhahirnya, dan mereka mengembalikan kepada Allah dan berkata: “Kami mengimaninya (Al-Qur’an) semuanya dari sisi Rabb kami. Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7) sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan tentang perihal orang-orang yang kokoh ilmunya bahwa mereka mengatakan demikian dan Allah ta’ala meridhai mereka dan memuji mereka karenanya.[8]

  • Imam Malik bin Anas rahimahullah (93 H – 179 H) berkata:

أخبرنا أبو محمد المخْلدي حدثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن مسلم الإسفِرايِينِي حدثنا أبو الحسين علي بن الحسن، حدثنا سلمة بن شبيب حدثنا مهدي بن جعفر بن  ميمون الرملي، عن جعفر بن عبد الله قال؛ “جاء رجل إلى مالك ابن أنس يعني: يسأله عن قوله {الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى} (طه: 5) كَيْفَ اسْتَوَى؟ قال: فما رأيته وَجَدَ من شيء كَوَجدِهِ من مقالته، وعَلاهُ الرُّحَضَاءُ، وأَطْرَقَ القوم فجعلوا ينتظرون الأمر به، ثم سُرِّي عن مالك فقال: الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُول، والإِسْتِوَاء غَيْرُ مَجْهُول، والإِيمَانُ بِهِ وَاجِب، والسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَة، وإني لأخاف أن تكون ضَالاًّ، ثم أُمر به فأُخْرِج.

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Al-Makhladi, ia berkata; Abu Bakr Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al-Isfiraayiini, dia berkata: Abul Husain Ali bin Al-Hasan, dia berkata: Salamah bin Syabib, dia berkata: Mahdi bin Ja’far bin Maimun Ar-Ramli dari Ja’far telah mengabarkan kepada kami, dari Ja’far bin Abdillah, dia berkata: “Seseorang datang kepada Malik bin Anas dan bertanya kepadanya tentang firman Allah, Ar-Rahman istiwa di atas Arsy” (Thaha: 5) bagaimanakah cara Dia beristiwa’?, dia (Ja’far bin Abdillah) berkata: Maka aku tidak melihat beliau (Imam Malik) marah karena sesuatu seperti marahnya beliau karena ucapan orang tersebut. Beliau pun berkeringat, sedangkan orang-orang menundukkan pandangan mereka, menunggu apa yang akan beliau perintahkan terhadap penanya tersebut. Ketika kemarahan beliau sudah mereda beliau pun berkata: “Kaifiyyah (cara bagaimana dan bentuknya) tidaklah difahami, dan Istiwa’ bukanlah sesuatu yang tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah, dan sungguh aku takut engkau akan menjadi orang yang sesat.”[9]

PENJELASAN PERKATAAN IMAM MALIK

  1. Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Ucapannya: الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُول (cara bagaimana atau bentuknya tidak diketahui oleh akal) maknanya: kita tidak bisa memvisualisaskan cara istiwa’ Allah di atas Arsy-Nya dengan akal kita, akan tetapi jalan untuk mengetahuinya adalah melalui wahyu sedangkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) tidak pernah menyebutkan kaifiyyahnya. Jika akal tidak menjangkau dan wahyu tidak menyebutkannya maka hal tersebut majhuul (tidak diketahui) dan wajib untuk tidak membahasnya.

Ucapannya:   والإِسْتِوَاء غَيْرُ مَجْهُول (istiwa bukanlah sesuatu hal yang tidak diketahui) yaitu: ghairu majhuul dalam bahasa adapun maknanya adalah tinggi dan menetap.

Ucapannya: والإِيمَانُ بِهِ وَاجِب (mengimaninya adalah wajib) maknanya: bahwa mengimani istiwa’ Allah di atas Arsy-Nya dengan cara yang benar adalah wajib, karena Allah mengabarkannya tentang diri-Nya  maka wajib untuk membenarkannya dan mengimaninya.

Ucapannya: والسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَة (menanyakannya adalah bid’ah) maknanya: bahwa mempertanyakan kaifiyyah (visualisasi) istiwa’ adalah bid’ah karena tidak dikenal pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. [10]

  1. Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

Ucapannya: الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُول (cara bagaimana atau bentuknya tidak diketahui oleh akal) yaitu kita tidak terjangkau oleh akal kita dan bukanlah hakmu untuk bertanya kepada kami tentang kaifiyyahnya, karena kami tidak mampu menjawabnya, akal kami tidak menjangkaunya.

Ucapannya:   والإِسْتِوَاء غَيْرُ مَجْهُول (istiwa bukanlah sesuatu hal yang tidak diketahui) yaitu sudah diketahui maknanya akan tetapi laki-laki tersebut tidak bertanya tentang makna akan tetapi dia malah bertanya tentang kaifiyyahnya, dia berkata “(كَيْفَ اسْتَوَى؟)” bagaimana Allah beristiwa’?” dan Imam Malik rahimahullah pun berkata bahwa kami hanya berhak mengucapkan maknanya saja, maknanya kita ketahui bersama segala puji bagi Allah maknanya diketahui selama maknanya diketahui inilah yang dimaksud oleh lafazh tersebut, yaitu maknanya sudah diketahui.

Ucapannya: والإِيمَانُ بِهِ وَاجِب (mengimaninya adalah wajib) yaitu beriman terhadap istiwa’ sesuai dengan maknanya tanpa mempertanyakan kaifiyyah adalah sesuatu yang wajib bagi setiap muslim, dia harus menerima dan tunduk.

Ucapannya: والسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَة (menanyakannya adalah bid’ah) yaitu tentang kaifiyyahnya karena si penanya itu bertanya tentan kaifiyyah (ini perbuatan bid’ah). Para ahli dhalal (sesat) berkata: “Maknanya wajib diserahkan kepada-Nya.” Ini adalah bathil karena Imam Malik tidak berkata demikian, akan tetapi mereka telah berdusta atas nama Imam Malik. Imam Malik rahimahullah menjelaskan dengan gamblang dengan berkata: “الإِسْتِوَاء غَيْرُ مَجْهُول”  (istiwa’ sudah diketahui) sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana caranya tidak diketahui oleh akal dan tidak boleh bertanya tentang hal itu. Beriman terhadap yakani Istiwa’ baik secara lafazh maupun makna adalah wajib. [11]

  • Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf Al-Barbahari rahimahullah (wafat th. 329 H) berkata:

ربَّنَا أوَّلٌ بلا مَتَى، وآخر بلا ممنتهى، يعلم السرَّ وأخفى، وعلى عرشه استوى، وعلمه بكلِّ مكان، لايخلو من علمه مكان ْ ولا يقل في صفات الرَّب؛ كيف ؟ ولِمَ ؟ إلاَّ شَكٌ في الله تبارك وتعالى

Rabb kami Yang Paling Pertama tanpa ada pertanyaan “kapan”, dan Yang Paling Akhir tanpa ada kesudahan, mengetahui yang rahasia dan yang Nampak, di atas Arsy-Nya beristiwa’, dan ilmu-Nya meliputi setiap tempat dan tidak ada tempat yang terlepas dari ilmu-Nya * Dan tidaklah dia mengatakan dalam masalah shifat Rabb; Bagaimana (kaifiyyah)? Dan Kenapa? Melainkan (orang itu) meragukan tentang Allah ta’ala.[12]

  • Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani rahimahullah (471 H – 561 H) berkata:

وينبغي إطلاق صفت الإستواء من غير تأويلٍ، وأنه استواء الذَّات على العرش، لا على معنى القعود  والمُمَارَسَه؛ كما قالت المُجَسِّمَةُ والكَرَامِيَّة، ولا على معنى العُلُوِّ والرِّفْعَة؛ كما قالت الأَشْعَرِيَّةِ ، ولا على معنى الإسْتِيْلاَءِ والغَلبَة؛ كما قالت المعتَزِلَةُ، لأن الشرْعَ لم يرد بذلك، ولا نُقِلَ عن أحدٍ من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث، بل المنْقُول عنهم حمله على الإطْلاَقِ {الغنية للجيلاني: 1/56} وقال أيضا: وكونه عَزَّ وجَلَّ على العرش مذكورًا في كلّ كتاب أنزل على كلّ نبيٍ أرسل، بلا كيف؛ لأنَّ الله لم يزل موصوفًا بالعلو والقدرة، والإِسْتِيلَاءِ والغَلَبَةِ على جميع خلقه؛ من العرش وغيره؛ فلا يحمل الإستواء على ذلك؛ فالإستواء من صفات الذَّات، بعد ما أخبرنا به، ونص عليه، وأكَدَّهُ في سبع آياَتٍ من كتا به والسنَّة المأْثُورة به، وهو صفاتُ لازِمَةٌ له، ولائقة به، كالْيَدِ والوجه، والعين، والسمع، والبصر والحياة والقدرة. {الغنية للجيلاني: 1/57}

“Wajib hukumnya untuk memutlakkan sifat Istiwa’ (bersemayam) bagi Allah, tanpa takwil, dengan meyakini bahwa Dzat Allah bersemayam di atas Arsy, dan bukan dengan makna duduk dan mumarasah (kebiasaan); sebagaimana yang telah diucapkan oleh kaum Mujasimmah (yang mensifati Allah dengan jism/tubuh) dan Karamiyah, dan juga bukan dengan makna ketinggian martabat sebagaimana yang telah diucapkan oleh kaum Asy’ariyyah, dan bukan dengan makna Istila’ (kekuasaan) dan Ghalabah (mengalahkan yang lain) sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Muktazilah, karena tidak dalil atas hal tersebut dari syariat. Dan juga tidak pernah dinukil dari keterangan para Shahabat dan Tabi’in dari kalangan Salafush Shalih dari para ulama Ash-habul Hadits, bahkan sebaliknya bahwa yang telah dinukil keterangannya dari mereka (salafush shalih dan ash-habul hadits) adalah memahami ayat-ayat dan hadits sifat secara mutlak. (Al-Ghunyah: 1/56) Beliau juga berkata: “Keterangan yang menyebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla bersemayam (istiwa’) di atas Arsy telah disebutkan di setiap kitab yang Allah turunkan kepada setiap Nabi yang pernah di utus. Tanpa Kaifiyyah (cara bagaimana dan bentuknya) karena Allah akan tetap memiliki sifat ketinggian (‘uluw) dan kemampuan (qudrah), menguasai (istila’) dan mengalahkan (ghalabah) atas segenap makhluk-Nya seperti Arsy dan yang lainnya. Maka tidak boleh mengartikan Istiwa’ (bersemayam) dengan hal-hal tersebut, karena sifat Istiwa’ merupakan sifat dzatiyyah (bagi Allah) sebagaimana Allah telah mengabarkan sendiri tentang hal itu dan Allah memperjelas lagi hal ini dalam tujuh ayat yang terdapat di dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) dan As-Sunnah yang datang dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini adalah sifat yang terus menerus ada bagi-Nya seperti halnya dengan sifat Tangan, Wajah, Mata, Pendengaran, Penglihatan, Hidup, Kemampuan (qudrah). (Al-Ghunyah: 1/57).[13]

KESIMPULAN

Dari pengertian dan ucapan para Imam di atas tersebut sebagai tolak ukur secara umum bagi seluruh sifat yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam. Sesungguhnya maknanya telah diketahui sifat istiwa’ maknanya adalah istiwa,sifat ‘uluw (ketinggian) maknanya adalah ‘uluw, dan hal ini tidak bisa dipalingkan (ditahrif) maknanya atau pun dirubah kepada makna yang lain kecuali terdapat dalil (keterangan) dari Allah dan Rasul-Nya. Kalau kita memaknai istiwa’ lantas dikatakan mujassimah atau musyabbihah maka apa buktinya !? padahal Allah ta’ala sendiri yang mengabarkan bahwa Dia beristiwa di atas Arsy-Nya dan kita pun tidak menyerupakan-Nya dan tidak pula membayangkan kaifiyyah-Nya karena memang Allah ta’ala tidak menerangkan hal tersebut dan kita hanya mengimani apa-apa yang datang dari Allah ta’ala tanpa tahrif, ta’thil, dan tasybih.

Imam Isma’il bin Abdirrahman Ash-Shabuni rahimahullah (th. 373 H – 449H) berkata:

AQIIDATUS SALAF WA ASH-HAABUL HADIITS AU RISAALATU FII I'TIQAADI AHLISSUNNAH WA ASH-HAABIL HADIITSI WAL A-IMMAH_460x162

Perbedaan antara Ahlussunnah dengan ahlul bid’ah bahwa ahlul bid’ah apabila mereka mendengar hadits tentang shifat-shifat Allah mereka langsung menolaknya dan tidak menerimanya atau mereka menerima zhahirnya kemudian mereka memalingkan maknanya dengan tujuan untuk menghilangkan makna hadits yang sebenarnya. Mereka menggunakan tipu daya akal dan pemikiran mereka dalam hal tersebut. Mereka mengetahui benar-benar dan sepenuh keyakinan bahwa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang sebenarnya. Karena beliau mengenal Rabbnya ‘azza wa jalla daripada yang lainnya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan tentang Allah kecuali (berupa) kebenaran, kejujuran dan wahyu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah Muhammad berbicara dengan hawa nafsunya, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)[14]

 

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Akhir kalimat Wallahu a’lam bish-Shawwab wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 29/05/2013, Tangerang Selatan. Yudha Abdul Ghani]

_______________

  1. Fathu Rabbil Bariyyah bi-Talkhishil Hamawiyyah (hlm. 39) Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Darul Ibnul Jauzi, th. 1427 H.
  2. Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam kitab As-Sunnah dengan sanad yang shahih sesuai syarat Bukhari, dan disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah (hlm. 34)
  3. Fathu Rabbil Bariyyah bi-Talkhishil Hamawiyyah (hlm. 39) Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Darul Ibnul Jauzi, th. 1427 H.
  4. Syarhu Lum’atil I`tiqaadi Al-Haadii ilaa Sabiilir Rasyaad (hlm. 91) Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan, KSA.
  5. Ibid
  6. Mukhtashar Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffar (no. 95, hal. 127). Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. 1, Al-Maktab Al-Islami, th. 1401 H / 1981 M. Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid dan rijalnya tsiqat yaitu rijal syaikhain kecuali Abdullah bin Al-Harits.
  7. Diriwayatkan dalam Aqiidatis Salafi Wa Ash-habul Hadiits (hlm. 46-47), Syaikhul Islam Abu Utsman Isma’il bin Abdirrahman Ash-Shaabuuni, tahqiq: Abul Yamin Al-Manshuri, cet.1, Darul Minhaj, th. 1423 H / 2003 M. Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah (no. 67 hlm.39-40) Imam ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, tahqiq: Badr Al-Badr, cet.1, Daar As-Salafiyyah, th.1405 H / 1985 M. Al-‘Uluw Lil-‘Aliyyil Ghaffar (no. 361 & 362, hlm. 413-414) Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi, tahqiq: Hasan bin ‘Ali As-Saqqaf, cet.3 Darul Imam Ar-Rawas, th.1428 H / 2007 M.
  8. Aqiidatus Salafi  wa Ash-haabul Hadiits (hlm. 44)
  9. Diriwayatkan dalam Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah (no. 104, hlm.55-56) Imam ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, tahqiq: Badr Al-Badr, cet.1, Daar As-Salafiyyah, th.1405 H / 1985 M. Aqiidatis Salafi Wa Ash-habul Hadiits (hlm. 45-46), Syaikhul Islam Abu Utsman Isma’il bin Abdirrahman Ash-Shaabuuni, tahqiq: Abul Yamin Al-Manshuri, cet.1, Darul Minhaj, th. 1423 H / 2003 M. Hilyatul Aulia wa Thabaqat Al-Ashfiyaa` (6/325-326) Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashfahani, cet. Darul Fikr, th. 1416 H / 1997 M. Syarhu Ushuulil I’tiqaad Ahlissunnah (no. 664, 1/398) Imam Abul Qasim Hibatullah bin Al-Hasan bin Manshur Ath-Thabari Al-Lalika’i tahqiq: Ahmad Sa’id Hamdan Al-Ghamidi. cet.1, Daar Thayyibah, th. 1412 H / 1992 M. Lum’atul I’tiqaad (hlm. 14-15) Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, cet. 4 Al-Maktab Al-Islami, th. 1395 H. Al-‘Uluw Lil-‘Aliyyil Ghaffar (no. 342, hlm. 398). Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi, tahqiq: Hasan bin ‘Ali As-Saqqaf, cet.3 Darul Imam Ar-Rawas, th.1428 H / 2007 M.
  10. Fathu Rabbil Bariyyah bi-Talkhishil Hamawiyyah (hlm. 40-41) Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Daar Ibnul Jauzi, th. 1427 H. Lum’atul I’tiqaadil Haadi ilaa Sabiiilir Rasyaad wa Syarhuhu Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (hlm. 69) tahqiq & takhrij: Asyraf bin Abdul Maqshuud bin Abdirrahman, cet. 3 Maktabah Daar Thabariyyah, th. 1415 H / 1995 M.
  11. Syarhu Lum’atil I’tiqaadi Haadi ilaa Sabiiilir Rasyaad (hlm. 103-104) Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan, KSA
  12. Syarhus Sunnah (no. 14 & 15, hlm. 71) Imam Al-Barbahari, tahqiq: Abu Yasir Khalid bin Qasim Ar-Radadi, cet.1 Maktabah Al-Ghuraba Al-Atsariyyah, th. 1414 H / 1993 M.
  13. Syaikh Abdul Qadir Jailani Wa Araahul I’tiqadiyyah (hlm. 194-196) Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali Wahf Al-Qahthani.
  14. Aqiidatis Salafi Wa Ash-habul Hadiits (hlm. 48-49), Syaikhul Islam Abu Utsman Isma’il bin Abdirrahman Ash-Shaabuuni, tahqiq: Abul Yamin Al-Manshuri, cet.1, Darul Minhaj, th. 1423 H / 2003 M.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: