khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Tanda – Tanda Ahli Bid’ah

Tanda – Tanda Ahli Bid’ah


alamat ahli bid'ah

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Mengingat adanya penyimpangan maksud dan pengertian tentang bagaimanakah ciri-ciri atau tanda-tanda ahlul bid’ah maka pada kesempatan kali ini saya akan mengulas tentang tanda-tanda ahli bid’ah yang sebenarnya yang saya nukil dari para Ulama Salaf min Ahlissunnah Wal Jama’ah.

PERKATAAN PARA ULAMA SALAF TENTANG CIRI-CIRI AHLI BID’AH:

  • Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdurrahman Ash-Shabuni rahimahullah berkata:

Ciri-ciri ahlul bid’ah tampak jelas pada pelakunya dan ciri yang paling nampak dari mereka adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap ulama pembawa khabar (hadits) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, merendahkan mereka dan menganggap enteng mereka serta memberikan gelar (julukan) kepada mereka dengan Hasywiyyah, Orang-orang bodoh, Zhahiriyyah, Musyabbihah. Dikarenakan apa yang mereka yakini bahwa akhbar (hadits-hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh dari ilmu. Adapun ilmu menurut mereka adalah apa-apa yang dilemparkan syaithan kepada mereka, berupa hasil pemikiran yang rusak (tidak selaras dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah,-pent), rasa was-was dalam hati mereka yang gelap, lintasan-lintasan hati mereka yang kosong dari kebaikan, kalimat-kalimat dan hujjah-hujjah (argumentasi) mereka yang tidak berguna, dan bahkan syubhat-syubhat (kerancuan) mereka yang membinasakan lagi bathil. Allah ta’ala berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 23).

dan juga firman-Nya:

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

“Dan barangsiapa yang dihinakan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memuliakannya, sesungguhnya Allah mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Hajj: 18).[1]

Benarlah apa yang Imam Ash-Shabuni rahimhahullah katakan dan Fenomena inilah yang kini sering terjadi yaitu Imam Ahlissunnah yang memegang teguh manhaj salafush shalih dan berpijak diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah malah dihina, dicaci, dan dirusak nama baiknya dan disebut-sebut sebagai ulama suu’ dan bahkan dicari-cari titik kesalahannya hingga tak tersisa kebaikan darinya melainkan keburukan. Maka mereka itulah ciri-ciri Ahli Bid’ah yang sebenarnya dan merasa lebih pintar daripada Ulama Rabbani di antaranya: Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah padahal hafalan mereka hanya mengandalkan laptop atau hasil kutipan dari kitab yang diringkas isinya (no. Hadits, Juz, Halaman, dst). Silahkan anda saksikan sendiri hasil dialog mereka yang sering di-upload di youtube ketika mereka sedang berdebat, diantaranya Idrus Ramli yang mengandalkan laptop di hadapannya ketika sedang berada di forum debatnya, yang hobbinya menjuluki Ahlussunnah dengan Wahhabi. Demikianlah ciri-ciri Ahli Bid’ah yang hobbinya mencerca Ahlussunnah yang berpegang teguh kepada Ash-habul Hadits dan Manhaj Salafuna Shalih.

  • Saya (Imam Isma’il Ash-Shabuni) telah mendengar Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafizh berkata; saya mendengar Abu Ali Al-Husain berkata bin ‘Ali Al-Hafizh berkata; saya mendengar Ja’far bin Ahmad bin Sinan Al-Washiti berkata; saya mendengar Ahmad bin Sinan Al-Qahthan rahimahullah berkata:

ليس في الدنيا مبتدع إلاَّ وهو يبغض أهل الحديث، فإذا ابتدع الرجل نُزِعَت حلاوة الحديث من قلبه

“Tidaklah ada seorang pun dari ahli bid’ah di dunia ini melainkan dia pasti membenci ahli hadits, apabila seseorang melakukan sebuah bid’ah maka dicabutlah kelezatan hadits dari hatinya.”[2]

Perkataan Beliau: “dicabutlah kelezatan hadits dari hatinya” menunjukkan barangsiapa yang melakukan suatu kebid’ahan pasti dia akan meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang serupa maka hilanglah sudah kelezatan sunnah yang semestinya ia kerjakan dan diganti dengan bid’ah yang dia ada-adakan. Wallahu a’lam.

  • Saya (Imam Isma’il Ash-Shabuni) mendengar Al-Hakim berkata; saya mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad Al-Hanzhali di Baghdad, dia berkata; saya mendengar Muhammad bin Isma’il At-Tirmidzi berkata; dulu saya dan Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidzi berada di sisi Imamnya Agama ini (yaitu) Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal maka Ahmad bin Al-Hasan berkata kepada beliau:

يا أبا عبد الله! ذكروا لإبن أبي قُتَيْلَةَ بمكة أصحاب الحديث، فقال: أصحاب الحديث قوم سوء، فقام أحمد بن حنبل وهو ينفض ثوبه ويقول: زنديق! زنديق! زنديق! حتى دخل البيت

Wahai Abu Abdillah! mereka menyebut Ash-habul Hadits (ahli hadits) di hadapan Ibnu Quthailah di Makkah, maka dia (Ibnu Quthailah) berkata: “Ash-habul Hadits adalah kaum yang jelek.” Maka Imam Ahmad bin Hanbal berdiri sambil mengibaskan bajunya dan berkata; “(orang itu) Zindiq! Zindiq! Zindiq![1] sampai beliau masuk kedalam rumahnya.[3]

Perkataan beliau rahimahullah yaitu Zindiq maksudnya adalah seseorang yang tidak beriman kepada hari Akhirat dan mencerca agama [Lisanul Arab (1/51)] dan [Al-Misbaahul Muniir (1/256)]. dan dia ialah orang munafiq. Wallahu a’lam.

  • Saya (Imam Isma’il Ash-Shabuni) telah mendengar Al-Hakim berkata; saya mendengar Abu Nashr Ahmad bin Sahl di Bukhara berkata; saya mendengar Abu Nashr bin Sallam Al-Faqih berkata:

ليس شيء أثقل على أهل الإلحاد، ولا أبغض إليهم من سماع الحديث، وروايته بإسناده

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi orang yang menyimpang dan tidak pula sesuatu yang lebih mereka benci daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkan dengan sanadnya.”[4]

Hal ini dikarenakan mereka mengikuti hawa nafsunya. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18). Islam datang dengan aturan-aturan yang terpelihara dari perubahan, dan itu yang wajib dan harus diikuti, dan tidak ada lawannya kecuali hawa nafsu, oleh karenanya orang yang mengikuti hawa nafsu akan merasa berat ketika menemui sebuah hadits shahih yang tidak sesuai dengan manhaj hawa nafsunya. Wallahu a’lam.

  • Saya (Imam Isma’il Ash-Shabuni) telah mendengar Al-Hakim berkata; saya mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub Al-Faqih dan beliau sementara mendebat seseorang, maka Asy-Syaikh Abu Bakr berkata:

حدثنا فلان، فقال له الرجل: دعنا من حدثنا إلى متى حدثنا؟ فقال الشيخ له؛ قم يا كافر يحل لك أن تدخل داري بعد هذا أبدًا! ثم التفت إلينا وقال؛ ما قلت لأحد قط ما تدخل داري إلاَّ هذا.

“fulan telah mengabarkan kepada kami.” Maka lelaki tersebut berkata: “Tinggalkan haddatsana, sampai kapan haddatsana?” Maka Syaikh berkata kepadanya: “Berdirilah Wahai Kafir! Tidak halal bagimu untuk masuk ke dalam rumahku setelah ini selama-lamanya!” Kemudian Beliau menoleh kepada kami dan berkata: “Saya tidak pernah mengatakan kepada seorang pun agar jangan masuk ke rumahku kecuali kali ini.”[5]

Salah satu ciri ahli bid’ah adalah tidak mau kembali kepada Hadits tsabit dikarenakan tidak sesuai dengan manhaj & madzhab hawa nafsunya oleh karena itu jika telah datang hadits yang tsabit (tetap) maka kita menerimanya dan mengamalkannya. Wallahu a’lam.

  • Saya (Imam Isma’il Ash-Shabuni) telah mendengar Al-Ustadz Abu Manshur Muhammad bin Abdillah bin Hamsyad Al-‘Alim Az-Zahid berkata; saya mendengar Abu Al-Qasim Ja’far bin Ahmad Al-Muqri Ar-Razi berkata; telah dibacakan di hadapan Abdurrahman bin Abu Hatim Ar-Razi -dan saya mendengarkan- ; saya mendengar bapakku berkata -yang beliau maksudkan adalah Imam di negerinya, yaitu ayahnya Abu Hatim Muhammad bin Idris Al-Hanzhali Ar-Razi, berkata;

علامات أهل البدع؛ الوَقيعَةُ في أهل الأثر
وعلامات الزنادقة؛ تسميتهم أهل الأثر حَشْوِيَّة، يريد بذلك إبطال الأثر
وعلامات القدرية؛ تسميتهم أهل السنَّة مُجَبِّرة
وعلامات الجهمية؛ تسميتهم أهل السنَّة مُشَبِّهة
وعلامات الرَّافِضة؛ تسميتهم أهل الأثر نابتة و ناصبة

Tanda-tanda Ahli Bid’ah; adalah mencerca Ahlul Atsar (Hadits)
Tanda-tanda Kaum Zindiq; adalah mereka menamakan Ahlul Atsar  dengan Hasyawiyyah dan yang mereka inginkan dari hal itu untuk menghancurkan atsar (hadits).
Tanda-tanda Kaum Qadariyyah; adalah mereka menamakan Ahlussunnah dengan Mujabbirah
Tanda-tanda Kaum Jahmiyyah; adalah mereka menamakan Ahlussunnah dengan Musyabbihah
Tanda-tanda Rafidhah (Syi’ah); adalah mereka menamakan Ahlul Atsar (hadits) dengan Naabitah dan Naashibah.[6]

Imam Ash-Shabuni rahimahullah (periwayat ini) berkata;

Saya melihat para ahli bid’ah yang  menyematkan nama-nama ini kepada Ahlussunnah dan tidak satu pun dari nama-nama itu dapat merusak citra ahlussunnah karena keutamaan dan anugerah Allah – dan bahwa mereka (para ahli bid’ah)lah yang menempuh jalannya orang-orang musyrikin- semoga Allah melaknat mereka- dalam menyikapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena orang-orang musyrikin telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbagai tuduhan keji. Mereka (kaum musyrikin) menjuluki beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ساحرًا (tukang sihir), sebagiannya lagi menjuluki beliau dengan كاهنًا (dukun) dan sebagiannya lagi menjuluki beliau dengan شاعرًا (penyair) dan sebagiannya lagi dengan مجنونًا (orang gila), dan sebagiannya lagi dengan مفتونًا (orang yang terfitnah) dan sebagiannya lagi dengan مُفْتَرِيًا و مختلقًا كذَّابًا (orang yang mengada-ada dan pendusta) akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah jauh dan berlepas diri dari aib-aib tersebut. Tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallm kecuali seorang Rasul yang terpilih dan seorang Nabi. Allah ta’ala berfirman:

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأمْثَالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلا
“Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).” (QS. Al-Furqan: 9)

Begitulah ahli bid’ah -semoga Allah menghinakan mereka-, mereka menuduh dengan berbagai tuduhan kepada para pembawa hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mengikuti hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang yang mengambil petunjuk dengan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang dikenal dengan Ash-habul Hadits. Sebagian ahli bid’ah menjuluki Ahlussunnah dengan hasyawiyyah, sebagiannya lagi menjuluki dengan Musyabbihah, sebagiannya lagi dengan Nabitah, sebagiannya lagi dengan Naashibah, dan sebagiannya lagi dengan Jabariyyah. Namun Ash-habul Hadits (Ahlussunnah) terjaga dari aib-aib ini dalam keadaan berlepas diri, bersih lagi suci dan tidaklah mereka melainkan Ahlussunnah yang bercahaya yang menempuh jalan yang diridhai dan lurus dan hujjah-hujjahnya mendalam lagi kokoh.[7]

  • Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata:

 واعلم أن لأهل البدع علامات يعرفون بها فعلامة أهل البدعة الوقيعة في أهل الأثر – يعني السلف – و علامات الزنادقة تسمية أهل الأثر بالحشوية ويريدون إبطال الآثار و علامات القدرية تسمية أهل الأثر مجبِّرة و علامات الجهمية تسمية أهل السنة مشبِّهة و علامات الرَّافضة تسميتهم أهل الأثر ناصبة، وكلّ ذلك عصبية وغياظ لأهل السنة ولا اسم لهم إلاَّ اسم واحد هو أصحاب الحديث ولا يلتصق بهم ما لقَّبهم به أهل البدع كما لم يلتصق بالنبي صلى الله عليه وسلم تسمية كافر مكة له ساحرًا وشاعرًا ومجنونًا و مفتونًا وكاهنًا ولم يكن اسمه عند الله وعند ملائكته وعند إنسه وجنِّه وسائر خلقه إلاَّ رسولاً نبيًّا بريئًا من العاهات كلها

Ketahuilah bahwa Ahli Bid’ah memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali tentangnya dan tanda-tanda ahli bid’ah adalah mencela Ahli Atsar – yaitu kaum salaf- dan tanda-tanda orang-orang zindiq adalah menamakan Ahli Atsar denga Hasywiyyah yang maksudnya untuk membatalkan (merusak) atsar (hadits-hadits) dan tanda-tanda Qadariyyah menamakan Ahli Atsar dengan Mujabbirah dan tanda-tanda Al-Jahmiyyah adalah menamakan Ahli Sunnah dengan Musyabbihah, dan tanda-tanda Rafidhah adalah menamakan Ahli Atsar dengan Naashibah, dan semuanya itu fanatik dan memusuhi Ahli Sunnah. Dan tidaklah nama itu disematkan bagi mereka melainkan mengarah kepada satu nama yaitu Ash-habul Hadits  dan tidaklah benar gelar yang diberikan oleh ahli bid’ah kepada Ahlissunnah itu sebagaimana tidaklah benar nama-nama yang diberikan oleh orang Kafir Mekkah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau adalah seorang penyihir, penyair, orang gila, pembuat fitnah, dan dukun, padahal tidak ada nama baginya di sisi Allah ta’ala dan malaikat-Nya, manusia dan jin-Nya serta semua makhluk kecuali seorang Rasul dan Nabi yang terlepas dari semua tuduhan itu .[8]

Perkataan Syaikh rahimahullah ini semakna dengan atsar yang dibawakan oleh Imam Ash-Shaabuuni dengan sanadnya di atas dan perkataan beliau yang menurut saya menukil dari Imam sebelumnya semakin memperkuat atsar yang dibawakan oleh Imam Ash-Shaabuuni sebagai bukti dari tanda-tanda ahli bid’ah yang sebenarnya dan atas bahaya ahli bid’ah yang sejatinya hal ini bertujuan agar kaum muslimin jangan salah dalam memilih seorang guru atau salah dalam menuntut ilmu, karena terlebih lagi di zaman sekarang yang dunia telah penuh dengan berbagai fitnah dan syubhat serta pemikiran-pemikiran para filsafat yang sangat membahayakan aqidah kaum muslimin, maka para Imam terdahulu telah menjelaskan agar diketahui siapa Ahlissunnah wal Jama’ah dan siapa sejatinya Ahli Bid’ah Wal Jama’ah. Dan perlu diingat berjama’ah (bersatu) bukanlah di atas kebid’ahan tapi di atas manhaj Nabawiyyah dan Salafush Shalih. Wallahu a’lam.

Mujabbirah / Jabbariyyah: yaitu dari Al-Jabr adalah menafikan perbuatan secara hakikat dari seorang hamba dan menyandarkannya kepada Allah semata. Maka Allah-lah yang telah menciptakan dan menghendaki bagi segala sesuatu ada. Oleh karena itu mereka mengatakan -pimpinan mereka- adalah Jahm bin Shafwan, berkata; “Sesungguhnya seorang manusia dipaksa untuk melakukan perbuatan-perbuatan, tidak ada kesanggupan, keinginan dan kemampuan untuk melakukan sesuatu.” Dan mereka terpecah menjadi beberapa kelompok.[9]

Al-Qadariyyahyaitu mereka adalah firqah (kelompok) yang dipimpin oleh Ma’bad Al-Juhani. Mereka berpendapat; “Tidak ada takdir dan perkara itu kosong, manusia menciptakan sendiri perbuatan-perbuatan mereka, dan Allah tidak mengetahuinya kecuali setelah terjadinya. Di antara mereka ada yang berpendapat; “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan makhluk terjadi tanpa dikehendaki oleh Allah dan tanpa kemampuan Allah, bersamaan dengan ilmu Allah yang mengetahui perbuatan makhluk.[10]

Naabitah: artinya yang tumbuh dari segala sesuatu, yang lunak, ketika dia tumbuh dalam keadaan kecil.[11]

Naashibah: Mereka adalah orang yang menancapkan permusuhan terhadap ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Ahlul Bait. Bahkan mereka menganggap hal ini adalah agama yang mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan cara tersebut. Mereka berpendapat: “Barangsiapa yang memberikan loyalitas kepada Abu Bakr dan Umar maka Ali menancapkan permusuhan padanya.[12]

Hasyawiyyah: berasal dari al-Hasyw yaitu penyisipan, pemasangan dan kemasukan. Nama ini diberikan kepada orang-orang yang menerima dan mempercayai semua hadist yang dibawa masuk ke dalam Islam oleh orang-orang munafiq. Hal ini sama maksudnya dengan musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Wallahu a’lam.

Jahimiyyah: adalah sebuah nisbat kepada Jahm bin Shafwan dia adalah seorang penduduk Khurasan yang berguru kepada Ja’ad bin Dirham [13] dan menjadi sekertaris Al-Harits bin Suraij yang melancarkan fitnah kepada kaum muslimin di Khurasan. Jahm membaca sirah (sejarah)nya dan meminta perwaliannya dan membujuk manusia agar memberontak bersamanya pada tahun 128 H terjadi peperangan antara Raja Khurasan dan tentara Al-Harits bin Suraij yang mana Jahm ikut dalam barisannya, lalu dia ditikam pada mulutnya oleh seorang laki-laki lalu dibunuh. Dia adalah seorang mutakkalimin (ahli kalam), cerdas dan pandai berdebat.[14]  saya katakan; hanya saja kepandaiannya ia gunakan untuk mendebat dan menyesatkan manusia dari jalan Allah ta’ala dan kecerdasaannya ia gunakan untuk memenuhi hawa nafsunya karena ia telah berpaling dari Al-Kitab dan As-Sunnah menuju ilmu kalam (teologi) para filsafat yang sesat lagi menyesatkan, Allahul musta’aan.

Al-Karamiyyah: mereka adalah pengikut Muhammad bin Karam As-Sajistani yang meninggal tahun 255 H, mereka terdiri dari kelompok-kelompok yang banyak dari kalangan orang-orang yang menetapkan adanya nama dan shifat Allah ta’ala yang kebanyakan mereka menganut aliran Murji’ah dalam keimanan, menyerupakan sifat Allah ta’ala dengan sifat manusia, dan mereka juga mempunyai khurafat-khurafat (takhayul) yang banyak. [15]

Demikianlah ciri-ciri ahli bid’ah yang sejatinya bukan sebagaimana yang mereka tuduhkan kepada orang-orang yang memegang teguh manhaj (metodologi) salafush shalih yang berpijak di atas khabar (hadits) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti pemahaman para salafush shalih. Dan semoga Allah ta’ala menjaga kita (ahlussunah) untuk tetap istiqamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahmi salafish shalih dan menambahkan hidayah dan taufiq kepada kita serta menjaga kita dari keburukan dan syubhat-syubhat para ahli bid’ah. آمين

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Akhir kalimat Wallahu a’lam bish-Shawwab wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 30/05/2013, Tangerang Selatan. Yudha Abdul Ghani]

____________________________

  1. Aqiidatus Salaf Wa Ash-Haabul Hadiits Au Risaalatu Fii I’tiqaadi Ahlissunnah Wa Ash-Haabil Hadiitsi Wal A-Immah (hlm. 109), Abu Utsman Isma’il bin Abdirrahman Ash-Shaabuuni, tahqiq: Abul Yamin Al-Manshuri, cet.1, Darul Minhaj, th. 1423 H / 2003 M.
  2. Ibid
  3. Ibid
  4. Ibid (hlm. 109-110)
  5. Ibid (hlm. 110)
  6. Ibid
  7. Ibid (hlm. 111)
  8. Lihat Al-Ghunyah Lil-Jailani (1/80), dan Syaikh Abdul Qadir Jailani Wa Araahul I’tiqadiyyah (hlm. 62-63) Syaikh Dr. Sa’id bin Misfir Al-Qahthani, cet. 1, Fihrisatu Maktabati Al-Mulk Fahd Al-Wathaniyah Atsnaa` An-Nasyr, th. 1418 H / 1997 M.
  9. Lihat Al-Milal Wan Nihal  karya Asy-Syihristani (1/97) dan Al-Fadhl fil Milal (3/33).
  10. Lihat Al-Milal Wan Nihal  karya Asy-Syihristani (1/41) dan Al-Farqu bainal Firaq (hlm. 24). dan Qadariyyah ini adalah lawan dari Jabriyyah karena mereka berbuat bid’ah dalam urusan qadar dan tidak mengimaninya sebagaimana ulama salaf rahimahullah ajma’in.
  11. Lisaanul ‘Arab (3/563).
  12. Tartib Qamus Al-Muhith  (4/379)
  13. Orang pertama yang dikenal melakukan ta’athil (mengingkari apa yang diwajibkan bagi Allah berupa Asma’ dan Shifat-Nya) pada ummat ini adalah Ja’d bin Dirham. Lihat: Fathu Rabbil Bariyyah bi-Talkhishil Hamawiyyah (hlm. 17) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Darul Ibnul Jauzi, th. 1427 H.
  14. Lihat Siyaru A’laami An-Nubalaa (6/26) Adz-Dzahabi dan Al-Kaamil (4/292) Ibnul Atsir.
  15. Lihat Al-Milal Wan Nihal (1/108).

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: