khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Ibadah » ILMU & PERIHALNYA

ILMU & PERIHALNYA


Ilmu dan Keutamaannya_460x340

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

PENGANTAR

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya, amma ba’du:

Imam Al-Bukhari rahimahullaah berkata:

العلم قبل القول والعمل

Ilmu (didahulukan) sebelum perkataan dan perbuatan

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullaah mengutip perkataan Ibnul Munayyir, ia berkata:

“Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan mensahkan niat, dan  niat adalah yang men-sahkan amal.” [1]

Belakangan ini cukup banyak sekali orang yang melakukan sesuatu tanpa mengetahuinya dengan pasti lalu ia berbicara atau beramal dengan pengetahuan yang tidak pasti dan hal ini tentunya sangat berbahaya bagi dirinya karena Allah ta’ala melarang hal tersebut:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa`: 36)

Dengan demikian pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Ilmu dan perihal yang berkaitan dengannya.

DEFINISI ILMU

Ilmu menurut bahasa ialah:

العلم نقيض الجهل

Ilmu adalah lawan dari kebodohan [2]

Ilmu secara istilah:

Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan dari al-jahl (kebodohan). Menurut ulama lainnya ilmu itu lebih jelas dari apa yang diketahui. [3]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan;

العلم هو إدراك الشيء على ما هو عليه إدركًا جازمًا

“Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan pengetahuan yang sebenarnya.”[4]

TINGKATAN ILMU

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan; Tingkatan Ilmu Pada Seseorang Ada Enam Tingkatan yaitu:

Pertama: Al-‘Ilmu yakni mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang pasti dan yang sebenarnya dengan pengetahuan.

Kedua: Al-Jahlul basith yakni tidak mengetahui sesuatu sama sekali.

Ketiga: Al-Jahlul murakkab yakni mengetahui sesuatu tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Disebut murakkab karena pada orang tersebut ada dua kebodohan sekaligus, yaitu bodoh karena ia tidak mengetahui yang sebenarnya dan bodoh karena beranggapan bahwa dirinya tahu padahal sebenarnya ia tidak tahu.

Keempat: Al-Wahm yakni mengetahui sesuatu dengan kemungkinan salah lebih besar daripada benarnya.

Kelima: Asy-Syakk yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar atau salahnya sama.

Keenam: Azh-Zhann yakni mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar daripada salahnya.

Dan Ilmu Itu Terbagi Menjadi Dua: Dharuri Dan Nazhari.

Dharuri yaitu pengetahuan yang dapat diperoleh secara langsung tanpa memerlukan penelitian dan dalil, seperti pengetahuan bahwa api itu panas.

Nazhari yaitu pengetahuan yang hanya bisa diperoleh dengan cara melakukan penelitian dan dengan dalil, misalnya pengetahuan tentang wajibnya niat dalam berwudhu’.”[5]

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU

Saudaraku sekalian ketahuilah bahwasanya menuntut ilmu syar’i adalah suatu kewajiban dan hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim”[6]

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata:

Apabila seorang anak kecil sudah mencapai usia baligh (mukallaf) maka yang pertama-tama harus dipelajarinya adalah dua kalimat syahadat dan memahami maknanya, meskipun tanpa mengetahui dalil dan menelaahnya. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada orang-orang Arab yang jahil, cukup dengan mempercayainya tanpa harus mempelajari dalilnya, inilah kewajiban pertama yang harus dilakukannya, kemudian setelah itu adalah kewajiban menelaah dan mempelajari dalilnya.[7]

Beliau rahimahullah juga berkata:

Anjuran menuntut ilmu (syar’i) adalah termasuk fardhu ‘ain. Yaitu agar orang-orang mengerti akan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukannya.[8]

Dengan demikian setiap muslimin wajib untuk menuntut ilmu syar’i dan lebih diutamakan daripada ilmu selainnya hal ini demi kebaikan dirinya sendiri, sebagaimana seseorang yang hendak berdagang di sebuah negara yang tersebar sistem Riba, maka wajib baginya untuk mengerti tentang hukum Riba sehingga bisa berhati-hati darinya, begitu pula seseorang yang akan menunaikan Ibadah haji maka wajib baginya untuk mengetahui tentang tata cara, doa, dan hal-hal yang bersangkutan dengan ibadah haji. Dan yang paling utama adalah dia wajib untuk mempelajari Aqidah Tauhid yang benar terlebih dahulu dikarenakan lawan dari Tauhid adalah Syirik yaitu dosa yang paling besar dan akan membenamkan pelakunya ke dalam Neraka Jahannam selama-lamanya jika dia tidak sempat bertaubat sebelum wafat, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa`: 48)

Dan firman-Nya:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya, orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya ialah Neraka.” (QS. Al-Maa`idah: 72)

Imam Adz-Dzahabi menuturkan:

Hal ini dikarenakan barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah kemudian dia mati dalam keadaan musyrik, maka dia termasuk penduduk Neraka secara qath’i (pasti). Sebagaimana halnya orang yang beriman kepada Allah kemudian meninggal dalam keadaan seorang mu’min maka dia termasuk penduduk Surga, sekalipun dia (mungkin akan) di adzab (dahulu) di Neraka (karena dosa-dosa selain syirik yang pernah dilakukannya, pen-).[9]

Dengan demikian jelaslah sudah kewajiban menuntut ilmu adalah untuk kemaslahatan dirinya sendiri dan disamping itu pun suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi setiap muslim.

KEUTAMAAN ILMU & PERIHAL YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA

Sesungguhnya keutamaan menuntut ilmu sangat banyak, di antaranya ialah:

  • Diangkatnya derajat seorang ahli ilmu oleh Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaddilah: 11)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

العلماء درجات فوق المؤمنين بسبعمائه درجة، ما بين كل درجتين مسيرة خمسمائه عام وقال الله تعالى؛ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ل{فاطر: 28} ي

“Para ulama itu memiliki beberapa derajat lebih tinggi dari orang-orang yang beriman, sebanyak tujuh ratus derajat. Jarak antara kedua derajat tersebut sekitar lima ratus tahun. ِAllah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah adalah ulama (orang-orang ‘alim).” [QS. Fathir: 28]”[10]

  • Ahli ilmu lebih utama daripada ahli ibadah:

عن أبي أمامة قال: ذكر لرسول الله صلى الله عليه وسلم رجلان أحدهما: عابد، والآخر عالم، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ فضل العالم على العابد كفضلى على أدناكم، ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ إن الله وملائكته وأهل السماوات والأرض، حتى النملة في جحرها، وحتى الحوتَ لَيصلُّون على معلّمي الناس الخير

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata; Telah disebutkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua orang: yang pertama ‘abid (ahli ibadah) dan kedua ‘alim (ahli ilmu), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;Keutamaan seorang ahli ilmu daripada ahli ibadah bagaikan keutamaan diriku jika disbandingkan dengan orang yang terendah di antara kalian, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, semua penduduk langit dan penduduk bumi, hingga semut yang berada di lubangnya, juga ikan paus di lautan, selalu bershalawat (mendo’akan)  orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.[11]

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فضل العلم على خير من فضل العبادة، وخير دينكم الوَرَعُ

“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah dan sebaik-baik agama kalian adalah bersikap wara’.”[12]

  • Ahli ilmu dinaungi oleh malaikat

Dari dari jalan Shafwan bin ‘Asaal radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضًا بما يصنع

“Sesungguhnya para malaikat selalu mengepakkan sayap, menaungi para penuntut ilmu sebagai keridhaannya terhadap apa yang dicarinya.”[13]

Al-Khaththabi berkata:

Makna “selalu mengepakkan sayap, menaungi para penuntut ilmu” terdapat tiga makna yaitu: (1) Membentangkan sayapnya, (2) Merendahkan sayapnya untuk menghormati para penuntut ilmu, (3) Malaikat turun ke dalam majelis dan tidak terbang ketika terdapat sebuah majelis ilmu.[14]

  • Dimudahkan jalan menuju Surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهَّل الله له به طريقًا إلى الجنَّة

“Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu niscaya Allah memudahkan jalan ke surga baginya.”[15]

  • Keberadaan Ahli Ilmu memberikan manfaat bagi orang-orang disekitarnya:

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa’atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya”.[16]

NASEHAT PARA ULAMA SALAF DALAM MENUNTUT ILMU SYAR’I

  1. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata:

تعلَّموا العلم، فإن تعلَّمه لله خشية، وطلبه عبادة، ومدارسته تسبيح، والبحث عنه جهاد، وتعليمه لمن لا يعلمه صدقة، وبـذله لأهله قربة وهو الأنيس في الوحدة، والصاحب في الخلوة

“Tuntutlah ilmu, sesungguhnya belajar karena Allah dapat menimbulkan rasa takut, mempelajarinya termasuk ibadah, mengkajinya termasuk bertasbih, menelitinya termasuk berjihad, mengajarinya kepada yang tidak tahu termasuk sedekah, dan mengamalkannya kepada keluarga termasuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ilmu adalah pelipur kalbu di saat sendiri dan teman karib di saat sunyi.”[17]

  1. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم

“Kalaulah bukan karena para ulama niscaya tidak ada bedanya dengan binatang-binatang ternak.”[18]

  1. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berakata:

Seseorang yang menekuni suatu ilmu juga dianjurkan menjaga ilmunya dari setiap kemaksiatan. Jika tidak bisa menghindar dari kemaksiatan maka hafalannya akan hilang dan otaknya tidak lagi menyimpan ilmu-ilmu yang sebelumnya telah diserapnya yang didapatkannya pun harus dengan sesuatu yang baik baginya. Sebab usia seseorang itu terbatas untuk bisa mempelajari semua ilmu dia harus membulatkan tekadnya untuk memilih ilmu yang paling baik, yaitu ilmu yang berhubungan dengan akhirat yang dengan ilmu itu dapat diperoleh keyakinan seperti yang diperoleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kesaksian kepadanya lalu bersabda:

ما سبقكم أبو بكر بكثرة صوم ولاصلاة، ولكن بشىء وقر في صدره

Tidaklah Abu Bakar melebihi kalian dalam hal berpuasa dan shalatnya, akan tetapi lebih karena sesuatu (aqidah yang kuat) yang bersemayam di dalam dadanya.[19][20]

PENUTUP

اللهُمَّ إِنِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ، و مِنْ دُعَاءٍ لاَيُسْمَعُ، ومِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ، ومِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ هؤُلاَءِ الأَرْبَعِ

Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah merasa puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari keempat hal tersebut. [21]

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلاَّ أنت، أستغفرك وأتوب إليك

Mahasuci Engkau, Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu. [22]

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Akhir kalimat Wallahu a’lam bish-Shawwab wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 02/06/2013, Tangerang Selatan. Yudha Abdul Ghani]

__________________________

  1. Fathul Baari bi-Syarhi Shahiih Al-Bukhaari (1/283) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, cet. 1 Daar Thayyibah, th. 1426 H / 2005 M
  2. Lisaanul ‘Arab Li-Ibni Manzhuur (hlm. 3083) cet. Darul Ma’arif
  3. Kitaab Al-‘Ilmu (hlm. 2) Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, pdf- www.islamhouse.com
  4. Syarhu  Tsalaatsatil Ushuul (hlm. 18) Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, cet.2  Daar Ats-Tsurayya, th. 1462 H / 2005 M
  5. Syarhu  Tsalaatsatil Ushuul (hlm. 18-19) Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, cet.2  Daar Ats-Tsurayya, th. 1462 H / 2005 M
  6. Shahih: HR. Ibnu Majah dan Ahmad dalam kitab Al-‘Ilal dan dishahihkan dalam Shahiih Al-Jaami’ush Shaghiir wa Ziyaadatuhu (no. 3916, hlm. 727) dan Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib (no. 72, 1/140).
  7. Mukhatshar Minhaajul Qaashidiin (hlm. 16-17) Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, tahqiq: Sayyid Ibrahim, cet. Darul Hadits, Cairo. th. 1425 H / 2005 M.
  8. Ibid,  (hlm. 17)
  9. Lihat: Kitaab Al-Kabaa`ir (hlm. 13) Imam Adz-Dzahabi, tahqiq: Abdurrazzaq Al-Mahdi, cet. Darul Kitab Al-‘Arabi, th. 2012 M.
  10. Lihat: Mukhatshar Minhaajul Qaashidiin (hlm. 13).
  11. Hasan Lighairihi: HR. At-Tirmidzi Kitab Al-Ilmu (5/48-49), dihasankan di dalam kitab Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib (no. 81, 1/144). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. 1 Maktabah Al-Ma’aarif , th. 1421 H / 2000 M.
  12. Shahih Lighairihi: HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dan Al-Bazzar, lihat Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib (no. 68, 1/137). Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. 1 Maktabah Al-Ma’aarif , th. 1421 H / 2000 M.
  1. Shahih: HR. Tirmidzi di dalam kitab Da’wat, Bab Fadhlu Taubat wal Istighfar (no. 3536, 5/51), Ahmad dalam Al-Musnad (no.11, 18 – 4/24) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib (no. 85, 1/145) & Syaikh Sayyid Ibrahim dalam tahqiq Mukhtashar Minhajul Qashidin (footnote no: 1, hlm. 14) cet. Darul Hadits, Cairo. th. 1425 H / 2005 M.
  1. Mukhatshar Minhaajul Qaashidiin (hlm. 14).
  2. HR. Muslim dan Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad, lihat Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib (no. 69 & 84) dan tahqiq Mukhatshar Minhajul Qashidin (footnote no: 2, hlm. 14) cet. Darul Hadits.
  3. Muttafaq ‘alaihi. Lihat Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib (no. 76) & Mukhtashar Minhajul Qashidin (hlm. 15)
  4. Lihat: Mukhatshar Minhaajul Qaashidiin (hlm. 16).
  5. Ibid.
  6. Mukhatshar Minhaajul Qaashidiin (hlm. 23).
  7. Lihat: Al-Asraar Al-Marfu’ah lil-Qaari (no. 476). & Footnote no: 3, hlm. 23 – Mukhtashar Minhajul Qashidin.
  8. HR. At-Tirmidzi, An-Nasaa`I, Abu Dawud dan selainnya, Lihat Shahiih Al-Jaami’ Ash-Shaghiir (no. 1297, hlm. 278) cet. 3 Al-Maktab Al-Islami, th. 1408 H / 1988 M.
  9. Do’a kaffaaratul Majelis (do’a setelah majelis). HR. At-Tirmdizi (no.2433) An-Nasaa`I dalam ‘Amalul Yaum wa Lailah (no. 400).

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: