khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Al-Masaa-il » KISAH SYAIKH SA’ID MUSFIR AL-QAHTHANI SEPUTAR MAULID NABI

KISAH SYAIKH SA’ID MUSFIR AL-QAHTHANI SEPUTAR MAULID NABI


maulid nabi_226x199Berikut ini adalah kisah menarik dari seorang Ulama Ahlussunnah ketika beliau diajak diskusi seputar Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh seorang pembesar ulama di suatu negeri setelah diadakan Muktamar, Asy-Syaikh hafizhahullah menuturkan kisahnya:

—oOo—

Saya pernah berkunjung ke salah satu Negara Islam untuk mengikuti sebuah muktamar tentang kemukjizatan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara ilmiyah pada tahun 1415 H. Tiba-tiba pembesar ulama negeri itu mengajakku diskusi tentang bid’ah Maulid Nabi. Sebelumnya dia telah menuduhku bahwa saya tidak mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena saya tidak merayakan hari kelahirannya dengan ayah dan ibuku. Lalu saya katakan kepadanya bahwa satu hal yang menghalangiku untuk memperingati hari kelahiran Nabi adalah karena kecintaan saya kepada beliau, sebab kecintaan yang hakiki kepadanya adalah dengan mengikutinya dan melaksanakan perintahnya.

Kemudian saya bertanya kepadanya tentang perkumpulan (peringatan maulid) itu: “Apakah hal itu termasuk ketaatan kepada Allah atau kemaksiatan?”

Dia menjawab:  “Bahwasanya (maulid) itu adalah ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Alah dan mengharapkan pahalanya.”

Saya katakan kepadanya: “Apakah Rasulullah mengetahui ketaatan seperti ini ataukah tidak mengetahuinya?” Tentu saja dia tidak berani mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahuinya karena beliau adalah orang yang paling tahu tentang ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Maka dia berkata: “Bahkan Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengetahuinya”

Saya berkata: “Apakah beliau menyampaikan hal itu kepada umatnya ataukah menyembunyikannya?” Maka dia terdiam sejenak kebingungan tidak tahu harus menjawab apa.

Kemudian dia berkata: “Bahkan beliau menyampaikannya”

Maka saya memintanya tentang perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau menyuruh ummatnya agar memperingati hari kelahirannya. Kemudian saya katakan kepadanya: “Jika engkau tidak mampu menunjukkan (dalilnya) berarti engkau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan risalah dan tidak menyampaikannya.”

Dari situ akhirnya dia mengakui bahwa peringatan itu bukanlah ketaatan, kemudian dia mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah. Dan dia berjanji kepadaku untuk memerangi (peringatan maulid) itu. Dan kami memohon kepada Allah agar kami dan dia diberi hidayah.

—oOo—

[Disadur dari Kitab Syaikh Abdul Qadir Jailani Wa Araahul I’tiqadiyyah  (hlm. 420-421) Syaikh Dr. Sa’id bin Musfir Al-Qahthani, cet.1, Fihrisatu Maktabah Al-Mulk Al-Wathaniyah Atsnaa` Lin-Nasyr, th. 1418 H / 1997 M. Semoga kisah ini dapat dipetik manfaatnya- ]


2 Komentar

  1. Administrator mengatakan:

    Kok sepele sekali ya dialognya, seperti dibuat-buat saja.

    salam http://www.madinatuliman.com

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: