khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Ibadah » Kesempurnaan Islam (TQS. Al-Maa`idah: 3)

Kesempurnaan Islam (TQS. Al-Maa`idah: 3)


Kesempurnaan Islam

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya, amma ba’du:

Firman Allah ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu… ” (QS. Al-Maa`idah: 3)

Dari ‘Ali bin Abi Thalhah:

قال على بن أبي طالحة عن ابن عباس، قوله { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} وهو الإسلام، أخبر الله نبيه صلى الله عليه وسلم والمؤمنين أنه قد أكمل لهم الإيمان فلا يحتاجون إلى زيادة أبدًا، وقد أتمه الله فلا ينقصه أبدًا وقد رضيه الله فلا يسخطه أبدًا، {تفسير القرآن العظيم للإمام الحافظ ابن كثير، ج:3 ص:22-23. دار الكتاب العلمية}

‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman-Nya: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ (Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu) adalah Agama Islam, Allah telah memberitahukan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, oleh karena itu Islam tidak membutuhkan tambahan lagi selama-lamanya. Dia telah ridha kepadanya maka Dia tidak akan membenci selama-lamanya.[1]

Imam Malik bin Anas rahimahullah menuturkan:

فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا، فَلاَ يَكُونُ الْيَوْمَ دِيْنًا

Maka apa-apa yang tidak menjadi ajaran Agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran Agama pada hari ini.[2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan:

Ini (ayat di atas) adalah nikmat Allah yang paling besar bagi ummat ini (Islam) karena Allah ta’ala telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, mereka tidak memerlukan lagi agama lain, tidak pula memerlukan Nabi selain Nabi mereka, semoga shalawat dan salam terlimpah kepadanya. Karena itulah Allah ta’ala menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi  yang diutus-Nya untuk manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal selain apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama kecuali apa yang disyariatkannya. Dan setiap segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah haq (benar) dan tidak ada kedustaan dan kebohongan padanya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil” (QS. Al-An’am: 115)

Yakni benar dalam beritanya, serta adil dalam perintah dan larangannya. Setelah Allah menyempurnakan bagi mereka agama mereka berarti telah cukuplah kenikmatan yang mereka terima dari-Nya, oleh sebab itulah disebutkan dalam firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu… ” (QS. Al-Maa`idah: 3)

Artinya terimalah oleh kalian dengan ridha Islam sebagai agama kalian, karena sesungguhnya Islam adalah agama yang dicintai dan diridhai Allah dan Dia telah mengutus yang paling utama dan mulia sebagai pembawanya dan Dia menurunkan kepadanya Kitab-Nya yang paling mulia. [3]

Hal di atas senada dengan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ مَعْشَرَ الْيَهُودِ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا قَالَ وَأَيُّ آيَةٍ قَالَ {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا} فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ. {صحيح مسلم في كتاب التفسير برقم: 3017 (5) دار طيبة}

“Pada suatu hari, datang seorang lelaki Yahudi yang mendatangi Umar bin Khaththab sambil berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya dalam kitab sucimu ada satu ayat yang seandainya ayat tersebut turun kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya akan kami jadikan hari tersebut sebagai hari raya.’ Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Ayat apakah itu hai orang Yahudi.” Orang Yahudi tersebut berkata, “Yaitu “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu dan telah Aku relakan Islam sebagai agamamu”. Lalu Umar pun berkata, “Sungguh saya lebih mengetahui hari dan tempat turunnya ayat tersebut. Ayat itu diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di padang Arafah pada hari Jum’at.” [4]

Faidah Ayat:
 
Dari ayat ini telah jelas dengan sejelas-jelasnya bahwasanya Allah telah menyempurnakan syariat-Nya dan tidak membutuhkan kepada syariat selain-Nya, oleh karenanya jika seseorang menambahkan syariat baru dalam ajaran Agama Islam berarti dia telah menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhianat dalam membawakan risalahnya maksudnya ialah Nabi Muhammad belum menyelesaikan tugasnya sebagai rasul sebab masih ada syariat yang kurang –waliya’udzubillah– begitu pula dia telah berani menyatakan bahwa Allah ta’ala belum sempurna dalam menetapkan syariat-Nya sehingga butuh penambahan di sana dan di sini –Maha Suci Allah dari prasangka mereka (ahli bid’ah) –

Dengan demikian sangat tercela-lah perbuatan bid’ah dan ahlinya sebab para ahli bid’ah itu menganggap Allah belum menyempurnakan Agama-Nya dan menuduh Rasulullah belum menyelesaikan tugasnya sebagai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengadakan kebid’ahan dalam agama.

 

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Akhir kalimat Wallahu a’lam bish-Shawwab wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 06/06/2013, Tangerang Selatan. Yudha Abdul Ghani – edisi revisi dengan penambahan keterangan pada tanggal 05/09/2013]

_______________________________

  1.  Tafsiir Al-Qur’aanil ‘Azhiim (3/22-23) cet. 1 Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, th. 1419 H / 1998 M.
  2. Al-I’tisham (1/62) Imam Asy-Syaathibi, tahqiq: Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, cet. Maktabah At-Tauhid
  3. Tafsiir Al-Qur’aanil ‘Azhiim (3/22) cet. 1 Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, th. 1419 H / 1998 M.
  4. HR. Bukhari lihat Fathul Baari, (1/192, no. 45) Daar Thayyibah & Muslim dalam Kitab Tafsir (no. 3017 (5) – Syarhu Muslim bi-Syarhin Nawawi (8/202, no. 3017) Muasasah Qurthubah.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: