khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Puasa (Shaum) » Bagaimanakah Cara Mengqadha’ Puasa Ramadhan ?

Bagaimanakah Cara Mengqadha’ Puasa Ramadhan ?


tanya jawab

Tanya:

Riati Humairah; Assalamualaikum, Afwan ana mau bertanya tentang mengganti puasa ramadhan, bagaimana yang seharusnya ?? bolehkah dikerjakn 1 bulan penuh?

Jawab:

Wa’alaikumussalaam

Tidak wajib mengqadha puasa secara berurutan dan berkesinambungan karena sifat qadha’ tidak harus sama dengan sifat pelaksanaan, yang demikian itu sesuai dengan firman Allah ta’ala:
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“…Maka berpuasalah pada hari-hari yang lain…” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
لابأس به أن يفرق
Tidak mengapa untuk mengqadha’ puasa secara terpisah. [1]
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
يواتره إن شاء
Jika mau, dia boleh mengqadha secara berselang-selang. [2]

Adapun hadits yang menyebutkan, “Barangsiapa yang mempunyai hutang puasa Ramadhan, hendaklah ia mengerjakannya secara berurutan dan tidak memutusnya.” maka hadits tersebut dha’if

Ad-Daruquthni berkata: “Abdurrahman bin Ibrahim adalah seorang yang dha’if. Al-Baihaqi mengemukakan: Dinilai dha’if oleh Ibnu Ma’in, An-Nasaa-i, dan Ad-Daruquthni. Dan di dalam Kitab Talkhiishul Habiir (2/206) Ibnu Hajar menukil dari Ibnu Abi Hatim bahwa ia menolak hadits itu karena, ‘Abdurrahman.[3]

Dengan demikian Jika mau ia boleh mengqadha’ puasa secara terpisah dan jika ia mau dia boleh mengqadha’ secara berurutan, demikianlah pendapat Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah.[4] Wallahu a’lam

—oOo—

Akhukum Fillah Yudha ‘Abdul Ghani.

[Dinukil dari kitab Shifatu Shaumin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Ramadhaan, (hlm. 74-75), Syaikh Ali Hasan Al-Halabi & Syaikh Salim ‘Ied Al-Hilali, cet. 2 Al-Maktabah Al-Islamiyyah, th. 1409 H]

________________________

1. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq (4/189) dan disebutkan sanadnya oleh Abdurrazzaq, Ad-Daruquthni dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih, lihat juga kitab Taghliiqut Ta’liiq (3/186).

2. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (4/95)

3. Shifatu Shaumin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Ramadhaan, (hlm. 75), Tentang kedha’ifan hadits ini telah diuraikan dengan terperinci oleh Imam Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah di dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil (no. 93).

4. Abu Dawud di dalam Masaa-il-nya (hlm. 95) berkata: “Aku pernah mendengar Ahmad ditanya tentang qadha’ puasa Ramadhan, maka ia menjawab;…… -sudah disebutkan di atas-


1 Komentar

  1. umminyanak2 mengatakan:

    Syukran…izin share

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: