khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Sejarah & Kisah » Kekuatan Hafalan Abu Zur’ah Ar-Razi

Kekuatan Hafalan Abu Zur’ah Ar-Razi


kekuatan hafalan Abu Zur'ah Ar-Razi - khazanahilmublog
Wafatnya Abu Zur’ah yang mengharukan


Muhammad bin Muslim bin Warah berkata, “aku datang dengan Abu Hatim Ar-Razi ketika Abu Zur’ah dalam keadaan sakaratul maut. Aku katakan kepada Abu Hatim, “Mari kita talqin beliau dengan syahadat.” Abu Hatim menjawab, “Aku malu untuk menalqin Abu Zur’ah dengan syahadat, namun mari kita mengulang hadits, barangkali jika dia mendengar maka dia akan bisa menjawab.”

Muhammad bin Muslim berkata, “Aku pun memulai, aku katakan, “Menceritakan kepada kami Abu Ashim An-Nabil: Menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far, lalu tiba-tiba aku tidak ingat hadits tersebut seakan-akan aku belum pernah mendengarnya atau membacanya.

Abu Hatim lalu memulai juga, “Menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar: Menceritakan kepada kami Ashim An-Nabil dari Abdul Hamid bin Ja’far, ternyata dia pun lupa sanad hadits tersebut seakan-akan belum pernah membaca atau mendengarnya.

Tiba-tiba Abu Zur’ah membuka matanya seraya mengatakan, “Menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, menceritakan kepada kami Abu Ashim An-Nabil, menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih bin Abi ‘Arib dari Katsir bin Murrah dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لاَ إلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّة
“Barangsiapa yang akhirn ucapannya di dunia Laa Ilaaha illa Allah (tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah) maka dia akan masuk surga.”

Setelah menyampaikan hadits, Abu Zur’ah langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Rumah pun setelah itu langsung ramai dengan isak tangis orang-orang di sekitarnya. Semoga Allah merahmatinya dan menjadikannya termasuk penduduk surga.

Dari kisah ini terdapat ibrah (life lesson) bahwa seorang yang menyibukkan diri semasa hidupnya dengan suatu amalan, maka dia akan ditutup dengannya. Imam Abu Zur’ah semasa hidupnya senantiasa menyibukkan diri dengan hadits maka Allah ta’ala menjadikan akhir kehidupannya dengan hadits yang agung ini. Semoga hal itu merupakan tanda husnul khatimah, semoga Allah meneguhkan kita di atas ketaatan dan memberi kita husnul khatimah. Aamiin

[Lihat Fadhlu Tahlil hlm. 80-81, Ibnul Banna, Taqdimatul Jarh wa Ta’dil hlm. 345 Ibnu Abi Hatim, Tarikh Baghdad (10/335) Al-Khathabi Al-Baghdadi – Dinukil dari Majalah Al-Furqan edisi 4 th, ke-12 Dzulqa’dah 1433 H (hlm. 29-30)]


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: