khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Pentunjuk Nabawiyah Dalam Ruqyah terhadap penyakit Semut

Pentunjuk Nabawiyah Dalam Ruqyah terhadap penyakit Semut


kesemutan

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan dalam kitabnya Ath-Thibb An-Nabawi:

Dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin untuk melakukan ruqyah terhadap sihir, ‘ain (mata jahat) dan penyakit semut.

Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan riwayat dari Syifa binti Abdullah, ia menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pernah menemuiku, saat itu aku sedang bersama Hafshah, beliau bertanya, “Kenapa engkau tidak mengajarkannya ruqyah terhadap penyakit semut seperti engkau mengajarkannya menulis?”

Penyakit semut adalah sejenis koreng yang muncul di antara kedua kening, penyakit ini sangat dikenal di saat itu. Disebut penyakit semut karena orang yang terkena penyakit ini merasakan kesemutan di bagian yang terkena penyakit ini, seakan-akan dikerubungi dan digigit semut, penyakit ini ada tiga jenis.

Ibnu Qutaibah dan ulama lain menyatakan:

Kalangan Majusi (penyembah api) meyakini bahwa tubuh semut yang ditumbuk bisa menjadi obat seorang anak yang terkena penyakit semut, seperti yang diungkapkan seorang ahli syair:

“Tidak ada salah kami, kecuali karena penyakit semut yang menyerang sebagian orang mulia sementara kami tidak bisa membunuh semut.”

Diriwayatkan oleh Al-Khallal bahwa Syifa binti Abdullah biasa melakukan ruqyah untuk mengatasi penyakit semut di masa jahiliyah. Saat ia berhijarah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -sebelumnya di Mekkah ia sudah berbaiat- ia berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu di masa jahiliyah aku biasa melakukan ruqyah terhadap penyakit semut. Dan sekarang aku ingin menyerahkan pengetahuanku ini kepadamu.” Ia memberikan ilmunya kepada Rasulullah:

بِسْمِ الله صَلْتٌ

“Dengan nama Allah ‘Shalt.”

Sehingga keluar dari mulutnya tanpa membahayakan siapapun juga. Yaa Allah, singkirkanlah sakit ini. “Yaa Rabb sekalian manusia.” Ia melakukan ruqyah itu dengan sebuah kayu hinga tujuh kali, lalu mengarahkan kayu itu ke tempat yang bersih dan menggosok-gosokkan kayu itu di atas batu dengan lumuran cuka keras lalu dilumurkan ke tubuh yang terkena penyakit semut.” Hadits itu mengandung dalil dibolehkannya wanita mengajar menulis.’

—oOo—

[Selesai di susun pada hari Jum’at 14/06/2013, Yudha Abdul Ghani, sumber dari kitab Ath-Thibb An-Nabawi (143-144), Imam Ibnu Qayyim, cet. Darul Fikr]


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: