khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Puasa (Shaum) » SYARAT & RUKUN PUASA

SYARAT & RUKUN PUASA


Ramadan-Mubarak (2)

 

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

 

  1. 1.      Syarat Wajib Puasa Ramadhan

Syarat wajib puasa ialah:

@ Muslim (beragama Islam)

@ Berakal (tidak gila)

@ Baligh (dewasa)

@ Dalam keadaan suci (dari haidh dan nifas untuk wanita muslimah)

@ Sehat (tidak sakit)

@ Bermukim (tidak sedang safar)

Di antara dalil yang menunjukkan hal di atas sebagai berikut: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبَرَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي حَدِيثِهِ وَعَنْ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ

“Pena diangkat (tidak dicatat) dari tiga perkara; 1) dari orang yang tidur hingga ia terjaga, dari anak kecil hingga ia dewasa, dan dari orang yang gila hingga ia mengerti atau sadar. Abu Bakar (perawi hadits ini) mengatakan di dalam haditsnya, ‘Dari orang yang gila berkala (kadang kambuh, kadang sembuh), hingga ia terbebaskan (sadar).” [Shahih: HR. Abu Dawud kitabul hudud bab.17 (no.4389) dan Ibnu Majah kitab thalaq bab.15 (no.2041) Lafazh milik Ibnu Majah]

Adapun untuk wanita muslimah syarat wajib puasanya selain ketiga hal di atas ia dalam keadaan suci dari hadih dan nifas, hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟

“Bukankah jika wanita itu haidh dia tidak shalat dan tidak berpuasa?” [HR. Bukhari kitab haidh bab.6 (no.304)]

Puasa tidak wajib dilakukan oleh orang yang sakit yang tidak mampu melakukannya, begitu pula bagi seorang musafir (orang yang sedang mengadakan perjalanan) akan tetapi keduanya wajib mengqadha’ puasanya ketika uzur sakit dan safarnya telah selesai. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“…Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah: 184) [Lihat: Minhaajul Muslim (hlm.238-239) dan Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiy (1/375-377)]

 

@ Bagaimana dengan orang yang sudah lanjut usia dan wanita hamil?

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazaa`iri hafizhahullah menuturkan: Jika seorang muslim atau muslimah telah berusia lanjut (tua) yang ia tidak mampu berpuasa maka dia boleh berbuka dan membayar fidyah setiap harinya sebesar satu mudd (adalah ukuran isi sama dengan lima per-enam liter) makanan, berdasarkan ucapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

رُخِصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ أَنْ يطعمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ

“Orang yang sudah lanjut usia diberi keringanan untuk memberi makan seorang miskin setiap harinya dan tidak wajib qadha’ baginya.”[HR. Ad-Daruquthni dan al-Hakim, dan beliau menshahihkannya]

Adapun wanita hamil yang khawatir terhadap dirinya atau terhadap janinnya ia boleh berbuka. Dan pada saat kekhawatirannya telah berlalu maka ia mengqadha’ di hari di mana dia berbuka. Jika dia mampu maka di samping dia berpuasa (qadha’) dia juga memberi satu mudd gandum (sembako) setiap harinya (yang ditinggalkan) dan hal itu lebih sempurna baginya dan lebih besar pahalanya. Hukum ini pun berlaku untuk wanita menyusui jika dia khawatir terhadap dirinya atau khawatir terhadap anaknya dan dia tidak menemukan wanita lain yang menyusui anaknya atau anaknya tidak mau disusui oleh wanita lain. Hukum ini diambil dari firman Allah ta’ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin…” (QS. Al-Baqarah: 184) yakni mereka mampu namun dengan sangat berat, maka jika mereka berbuka, mereka wajib mengqadha’ atau memberi makan seorang miskin.[ Lihat: Minhaajul Muslim (hlm. 239-240)]

 

@ Bagaimana dengan orang tua yang meninggal dunia dan meninggalkan hutang puasa?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang mati dan meninggalkan hutang puasa maka walinya berpuasa untuknya.” [HR. Bukhari kitabush shaum bab.42 (no.1952) dan Muslim kitabush shiyaam bab.27 (no. (153) 1147)]

  1. 2.      Rukun-Rukun Puasa Ramadhan

Rukun puasa ada dua, yaitu:

  1. 1.      Niat (النية)

Niat adalah rukun pertama dari rukun-rukun puasa dan niat adalah amalan hati serta tidak sah ibadah seseorang tanpa niat, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…” (QS. Al-Bayyinat: 5)

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى

“Setiap amal-amal itu (tergantung) pada niatnya dan setiap orang itu (tergantung) kepada apa yang diniatkannya.” [HR. Bukhari kitab bad`il wahyi (no.1) dan Muslim kitabul imaarah bab.45 (no.(155) 1907) ]

Niat untuk puasa Ramadhan dilakuan di setiap malam sebelum fajar, hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.” [Shahih: HR. Abu Dawud kitab shaum bab.66 (no.2454), dan At-Tirmidzi bab maa jaa-a fii mubaasayaratish shaa-im (no.729) dinyatakan shahih oleh penulis Shifatu Shaumin Nabi (hlm.30)]

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ الَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sejak malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” [Shahih: HR. An-Nasaa`I (4/196), al-Baihaqi (4/202) dan Ibnu Hazm (4/162) dinyatakan shahih oleh penulis Shifatu Shaumin Nabi (hlm.30)]

Adapun untuk niat puasa sunnah terdapat kelonggaran yaitu apabila seseorang belum sempat berniat pada malam hari maka ia boleh berniat di siang hari namun sebelumnya ia belum memakan dan meminum sesuatu, berdasarkan hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِي الله عنها قَالَتْ؛ قَالَ لِـي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؛ ذَاتَ يَومٍ: (يَا عَائِشَةُ هَلْ عِنْدَكُم شَيْءٌ؟) قَالت: فَقُلْتُ: يَا رَسُو الله مَا عِنْدَنَا شَيءٌ. قَالَ؛ فَإِنِّــي صَائِمٌ.

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku; Wahai ‘Aisyah apakah kita memiliki sesuatu? ‘Aisyah berkata, maka aku pun katakan; Wahai Rasulullah kami tidak mempunyai sesuatu, Rasulullah bersabda: “kalau begitu aku berpuasa.” [HR. Muslim kitabush shiyaam bab.32 (no.(169) 1154)] [Lihat: Minhaajul Muslim (hlm.240) dan http://audio.islamweb.net/]

Penjelasan Hakikat Niat oleh Para Ulama:

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menuturkan: “Niat adalah kehendak dan tekad untuk melakukan sesuatu dan tempat niat adalah di hati dan sama sekali tidak berkaitan dengan lidah. Oleh karena itu tidak pernah dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya dalam melafazhkan niat dengan lisan, dan kami tidak pernah mendengar mereka melafazhkan niat tersebut.

Niat adalah kehendak untuk melakukan sesuatu maka setiap tekad untuk melakukan sesuatu maka itulah niatnya. Suatu perbuatan tidak mungkin terlepas dari niat karena memang begitulah hakikatnya. tidak mungkin niat itu tidak ada apabila perbuatan tersebut ada. Barangsiapa yang berwudhu berarti ia telah berniat wudhu (sebelumnya), dan barangsiapa yang berdiri untuk shalat maka ia telah meniatkan shalat. hampir tidak mungkin ada orang berakal yang melaksanakan suatu ibadah atau perbautan lainnya tanpa niat (kehendak hati). [Lihat: Ighaatsatul Lahfaan (hlm.261) tahqiq: Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi]

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menuturkan: “Niat adalah keinginan hati dan (keinginan hati) terhadap suatu ibadah tidak wajib melafazhkannya.” [Lihat: Jami’ul ‘Uluum wal Hikam (hlm.67)]

Penulis kitab Shifatu Shaumin Nabi hafizhahumallah berkata: “Niat itu tempatnya di hati adapun melafazhkan niat adalah bid’ah dhalalah meskipun orang-orang memandangnya baik.” [Lihat: Shifatu Shaumin Nabi (hlm.30)]

  1. 2.      Menahan diri dari pembatal-pembatal puasa (الإمساك عن جميع المفطرات)

Rukun yang kedua adalah menahan diri dari setiap apa-apa yang membatalkan dimulai sejak terbitnya fajar dan tenggelamnya matahari, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“…Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa..” (QS. Al-Baqarah: 187) [Lihat: Minhaajul Muslim (hlm.240) dan http://audio.islamweb.net/]

 

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

[Akhir kalimat Wallahu a’lam bish-Shawwab wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun pada tanggal 02/07/2013, Tangerang Selatan. Yudha Abdul Ghani]

 

Referensi:

  • Minhaajul Muslim kitab ‘aqaa`id wa adab wa akhlaq wa ‘ibadat wa mu’amalat, Syaikh Abu Bakar Jazaa`iri, cet. Darus Salam, tanpa tahun.
  • Shifatu Shaumin Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Ramadhaan, Syaikh Salim ‘Ied Al-Hilali dan Syaikh ‘Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi, cet.2 Maktabah Al-Islamiyyah, th 1409 H.
  • http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=89464

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: