khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Puasa (Shaum) » Menetapkan Awal Bulan Ramadhan (Ru’yah & Penggenapan bulan VS Ilmu Hisab)

Menetapkan Awal Bulan Ramadhan (Ru’yah & Penggenapan bulan VS Ilmu Hisab)


Ru'yatul Hilal KIB

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Ketahuilah wahai saudaraku, masuknya awal bulan Ramadhan itu hanya ditetapkan dengan dua cara, yaitu:

  1. Ru’yatul Hilal (Melihat bulan dengan mata telanjang)
  2. Menggenapkan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari

Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut, di antaranya ialah:

Firman Allah ta’ala:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (melihat bulan di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alalihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ فَصُوْمُوْا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوْا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا

“Jika kalian melihat hilal maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah. Jika kalian terhalangi (mendung) maka genapkanlah bilangan (Sya’ban atau Ramadhan) tiga puluh hari.” [HR. Muslim kitabush shiyaam, bab.2 (no. [17] 1081)]

Adapun menetapkan Ru’yah Bulan Ramadhan cukup satu orang saksi yang adil dan terpercaya hal ini berdasarkan hadits berikut:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Orang-orang melihat hilal, lalu aku mengabarkan kepada Nabi shallallahu ‘alalihi wa sallam bahwa aku melihatnya, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.” [Shahih: HR. Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (7/105-106, no.2028) dan Irwaa-ul Ghaliil (no.908)]

Sedangkan untuk Ru’yah Hilal bulan Syawwal maka menurut jumhur (mayoritas) ‘ulama tidak bisa diterima kecuali dengan persaksian dua orang yang adil, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah  shallallahu ‘alalihi wa sallam.

فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا

“Maka jika ada dua orang saksi yang memberikan persaksian (terlihatnya hilal) maka hendaklah kalian berpuasa dan berbuka.” [HR. At-Tirmidzi dan dihasankan olehnya, lihat: Minhaajul Muslim (footnote, hlm: 238)]

—oOo—

Lalu bagaimana dengan Penetapan Awal Puasa Ramadhan berdasarkan kepada ilmu hisab?

Jawabnya sebagai berikut: Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alalihi wa sallam bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummiyah, kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab, bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” [HR. Bukhari dalam Fathul Baari (4/126, no. 1913) dan Muslim kitabush shiyaam, bab.1 (no.[15] 1080)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan;

‘Pada mereka (bangsa Arab) ada orang yang dapat menulis dan mengetahui hisab, (dinamakan umiyun) karena yang menulis sangat sedikit sekali. Yang dimaksud hisab dalam hadits ini adalah hisab nujum dan perjalanannya (falak) dan mereka hanya sedikit yang mengerti hal ini, sehingga hukum berpuasa dan lainnya tergantung kepada ru’yah agar tidak menyulitkan mereka karena sulitnya hisab. Lalu hukum ini berlaku terus pada puasa walaupun setelahnya banyak orang yang telah mengetahui hisab. Bahkan dzahir hadits dipahami tidak adanya hukum puasa dengan hisab. Hal ini dijelaskan dalam hadits-hadits lainnya yang berbunyi: فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّة ثَلاَثِيْنَ dan tidak menyatakan: “Tanyalah kepada Ahli Hisab!” dan sebagian kaum berpendapat merujuk kepada ahli hisab. Mereka adalah Syiah Rafidhah, dan dinukilkan dari sebagian ahli fiqih bahwa mereka menyetujuinya, Al-Baaji berkata: ‘Ijma’ Salafush Shalih sudah menjadi hujjah atas mereka’. Dan Ibnu Bazizah berkata: ‘Ini adalah madzhab yang batil, sebab syari’at telah melarang memperdalam ilmu perbintangan (nujum), karena ia hanyalah persangkaan dan hipotesa semata tidak ada kepastian dan tidak juga perkiraan yang rajih (zhann rajih). Ditambah lagi seandainya perkara puasa dihubungkan dengannya. Maka tentulah menyulitkan, karena yang mengetahuinya sedikit sekali. [Fathul Baari (4/127)]

Dengan demikian penetapan awal Ramadhan dengan ilmu hisab tidaklah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi Ijma’ Salafush Shalih maka sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah harus mengembalikan segala perkara kepada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak perlu terjadi perselisihan sebagaimana yang sering kita temukan di setiap awal penetapan bulan Ramadhan, hal ini dikarenakan sebagian mereka berpegang teguh kepada tuntunan hisab yang tidak diajarkan sama sekali oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

—oOo—

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

Penyusun: Yudha Abdul Ghani
Artikel: https://khazanahilmublog.wordpress.com/
[Akhir kalimat Wallahu a’lam bish-Shawwab wal-Hamdulillahi Rabbil ‘alamin, selesai disusun 30 Sya’ban 1434 / 9 Juli 2013, Tangerang Selatan]

Referensi:

  1. Fat-hul Baari bi-Syarhi Shahiihil Bukhari, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, ta’liq: Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz, cet. Maktabah As-Salafiyah
  2. Shahiih Muslim, Imam Muslim bin Hajjaj Al-Qushairi An-Naisaburi, cet.1 Daar Thayyibah, th. 1427 H / 2006 M.
  3. Sunani Abi Dawud, Al-Imam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet.1, Muasasah Gheras, th.1423 H / 2002 M.
  4. Minhaajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Al-Jazaa-iri, cet. Darussalam.
  5. Shifatu Shaumin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikhain Salim ‘Ied Al-Hilali & ‘Ali Hasan Al-Halabi, cet.2, Maktabah Al-Islamiyyah, th. 1409 H.

Baca Juga Artikel Terkait:


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: