khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Adab & Akhlak » Adab Mulia Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

Adab Mulia Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma


adab seorang murid

Ketika saya mendengar perkataan seorang Ustadz di Radio Rodja 756 AM yang membawakan hadits tentang pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pepohonan yang tidak gugur daunya maka terbetik oleh saya untuk menerangkan tentang Adab yang mulia dari salah seorang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dalam sebuah hadits disebutkan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya ada diantara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?”
Lalu orang menerka-nerka pepohonan Wadhi. Berkata Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”
Kemudian mereka berkata,“Wahai Rasulullah, beritahulah kami pohon apa itu?”
Lalu beliau menjawab,“Ia adalah pohon kurma.” [Muttafaq ‘alaih: Bukhari no. 61 & Muslim no. 7029]

Catatan:
Di sini saya tidak bermaksud untuk mensyarah hadits, tapi saya hanya ingin menerangkan sebuah adab yang mulia dari seorang sahabat yang mulia yaitu Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma (Putra Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu)

—oOo—

…Berkata Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” …

Dari kalimat di atas dapat diketahui keutamaan ilmu Abdullah bin Umar namun beliau radhiyallahu ‘anhuma merasa malu karena meskipun beliau bisa menjawab akan tetapi beliau menghargai para Shahabat Kibar (besar) yang menghadiri majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di antaranya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Kesimpulannya:
Tetaplah menjaga adab dan akhlak terhadap orang yang lebih ‘alim dari kita, meskipun kita yakin bahwa kita mengetahui sebuah jawaban namun bukan berarti kita harus menunjukkan kelebihan kita di hadapan orang-orang yang lebih alim dari kita, karena hal tersebut bisa jadi menyinggung orang yang lebih alim dari kita.
Maka saya sarankan agar kita senantiasa menjaga adab dan akhlak kita terhadap orang yang lebih alim, sebagaimana sahabat Abdullah bin Umar yang merasa malu terhadap para Shahabat Kibar yang saat itu berada di Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh Aplikasinya:
Seorang alim sedang berbicara suatu perkara dien lalu ia lupa, maka jangan tergesa-gesa bagi kita untuk angkat suara, biarkanlah ia mengingat-ngingatnya dahulu, hingga ia benar-benar lupa dan bertanya adakah diantara kalian yang tahu, maka kita tidak langsung menjawab,melainkan kita biarkan orang yang lebih alim dari kita angkat suara terlebih dahulu.

Wallahu a’lam bish-shawwab


Penulis: Yudha Abdul Ghani
Artikel: Khazanah Ilmu Blog


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: