khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Ikhlas – Kajian di Bulan Ramadhan 1434 H

Ikhlas – Kajian di Bulan Ramadhan 1434 H


ikhlas

KAJIAN RUTIN DI BULAN RAMADHAN

Pemateri: Ustadz Abu Abdirrahman Ismid bin Ali Misfir hafizahullah

Pembahasan Materi: Ikhlas

Lokasi: Kramat Jati, Jakarta Timur

Waktu: Selasa, 7 Ramadhan 1434 H / 16 Juni 2013 M

Pukul: 21.30 WIB


Setelah Al-Ustadz hafizahullah membawakan Muqaddimahnya dan pengantar Pentingnya Ilmu beliau berkata [1]:

Ikhwati fillah diperlukan hal yang utama untuk kita menuntut ilmu adalah keikhlasan (karena) syarat utama menuntut ilmu adalah ikhlash tanpa didasari keikhlasan maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Mungkin dia hafal Al-Qur’an, mungkin dia hafal ribuan hadits akan tetapi justru hafalan Al-Qur’an-nya, hadits-haditsnya tadi akan mencelakakan dia di Hari Kiamat kelak, kalau seandainya ilmu yang dia tuntut tidak didasari dengan keikhlasan.

Kalau kita berbicara tentang ikhlas, yang mungkin ini inti pembahasan kita untuk malam pertama ini insya Allah. Ikhlash ini merupakan syarat atau pun rukun diterimanya amalan-amalan kita. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“Dialah Allah Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya…” (QS. Al-Muluk: 2)

Karena hidup kita ini adalah ujian, baik kita diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan perintah-Nya atau pun kita diuji oleh Allah dengan larangan-Nya.

Al-Imam Al-Fudhail Ibnu Iyadh rahimahullahu ta’ala, beliau hidup di zaman Tabi’in dan bahkan Imamnya para tabi’in ketika beliau mentafsirkan firman Allah QS. Al-Muluk ayat 2 tadi, disitu Allah menyatakan: “Siapa di antara kalian yang paling baik amalannya” Allah tidak menyatakan: “siapa di antara kalian yang paling banyak amalnya.”

Al-Imam Al-Fudhail Ibnu Iyadh ketika beliau mentafsirkan firman Allah: أَحْسَنُ عَمَلاً (yang paling baik amalannya) beliau berkata: أَخْلَصُهُ وَ أصْوَابُهُ  (yang dimaksud dengan amalan yang baik adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar), ada yang bertanya kepada beliau: Apa yang dimaksud paling ikhlasnya dan paling benarnya?

Lalu beliau rahimahullahu ta’ala menjawab:

فَإِنَّ الْعَمَلَ اِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ وَاِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ صَوَابًا وَخَالِصًا

“Sesungguhnya amalan yang hanya didasari dengan ikhlas akan tetapi tidak benar amalan tersebut maka tidak akan diterima oleh Allah, dan sebaliknya jika amalan tersebut benar akan tetapi tidak didasari keikhlasan pun tidak akan diterima oleh Allah ta’ala, sampai amalan tersebut ikhlash dan juga benar”

Kapan disebut amalan itu ikhlash?

وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لله (ikhlash adalah amalan yang hanya ditujukan untuk Allah)

Kapan amalan itu disebut benar?

مَا كَان عَلَى السُّنَّة (adalah amalan yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Jadi sebuah amalan itu harus Ikhlash dan sesuai dengan Sunnah.

Di dalam surat yang lain Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala ketika beliau mentafsirkan ayat: فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا (hendaklah ia mengerjakan amal yang salih) Beliau berkata: مَا كَانَ مُوَافِقًا لِشَرْعِ الله (adalah amalan yang sesuai dengan syariat Allah)

Dan firman-Nya: وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya) maknanya ialah:  وَهُوَ الَّذِي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ (Hanya mengharapkan wajah-Nya Allah saja dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun). Kemudian beliau melanjutkan:  وَهَذَانِ رُكْنَا الْعَمَلِ المتَّقَبَّل (dan hal ini merupakan dua rukun diterimanya amal).

Dan syarat diterimanya amalan itu adalah dua rukun ini kata Imam Ibnu Katsir, yaitu:

Pertama adalah: مُوَافِقًا لِشَرْعِ الله (sesuia dengan apa yang disyariatkan oleh Allah atau sesuai dengan apa yang dikhususkan oleh Allah  yaitu ikhlash dalam beribadah hanya diperuntukkan untuk Allah semata.

Kedua adalah: Sesuai dengan apa yang disyariatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ikhwati fillah a’azzaniyallah wa iyyakum,

Ikhlash merupakan inti peribadahan seorang muslim, ikhlash merupakan hakikat dari agama Islam, Ikhlash merupakan dakwahnya para Rasul, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas merupakan syarat diterimanya amalan kita, bahkan ikhlash merupakan kekuatan yang sangat besar bagi seorang muslim dalam menghadapi musuh-musuhnya, musuh kita yang nyata siapa? Adalah Syaithan laknatullah ‘alaihi, kemudian embahnya syaithan siapa? Adalah iblis.

Dan bahkan Iblis menyatakan hal ini, iblis mengakui dan pengkuan daripada iblis ini diukir oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an:

فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata: ‘Maka demi kemuliaan-Mu, aku akan benar-benar mencelakakan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” (Shad: 82-83)

Siapa yang dimaksud dengan semua ini? Yaitu Adam dan anak keturunannya. Jadi apabila kita tidak ingin dicelakakan oleh iblis senantiasa kita harus ikhlash.

Apa yang dimaksud dengan ikhlash?

Terkadang ada yang mengatakan, “saya ikhlas kok” dan terkadang kita bercanda, “yang ikhlas donk ente” lalu apa yang dimaksud dengan ikhlas ini?

Ikhlas itu merupakan amalan hati, bukan dengan ucapan, dan orang yang mengatakan “saya ikhlas kok” ketahuilah sesungguhnya dia belum mengikhlaskan apa yang sudah dia anggap ikhlash. Karena ikhlas bukan dengan perkataan.

Ikhlas ini diambil daripada kata bahasa Arab:  أَخْلَصَ يُخْلصُ maknanya adalah memurnikan

Adapun secara istilah, banyak ulama yang mendefinisikannya akan tetapi makna yang paling lengkap ialah apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dan yang lainnya.

Makna Ikhlash:

تَجْرِيْدُ قَصد التقرَّبُ إلى الله – عز وجل – عن جَمِيعِ الشوَائِب

“Memurnikan maksud (tujuan) kita dalam mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla atas segenap kotoran-kotoran.”

Ikhwati fillah a’azzaniyallah wa iyyakum,

Ikhlas ini adalah amalan yang sungguh sangat dibutuhkan oleh seorang muslim dan juga yang paling berat, mungkin kita akan sedikit mengutip apa yang telah dikatakan oleh ulama-ulama kita terdahulu. Di antara lain apa yang telah dikatakan oleh:

Yahya Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala:

تَعَلَّمُوا النِّيَّة فَإِنَّهَا أَبْلَغُ مِنَ الْعَمَلِ

“Pelajarilah Niat karena sesungguhnya kedudukan niat lebih berharga daripada amalnya.”

Kenapa beliau mengatakan demikian? Karena sebagai contoh kita memiliki niat untuk melakukan suatu ibadah dan belum sempat kita melakukan ibadah tersebut maka sudah mendapatkan pahalanya padahal hanya dengan niat, berbeda dengan orang yang mengerjakan amalan tanpa didasari dengan niat yang baik maka amalannya tidak akan diterima, inilah yang dimaksud oleh beliau bahwasanya kedudukan niat itu lebih berharga daripada amalannya.

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu ta’ala beliau pernah mengatakan:

“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang paling berat bagi diriku ketimbang aku mengobati akan niatku.”

Seorang imam saja mengatakan atas diri beliau yang paling berat mengobati atas dirinya ialah niat, karena niat itu sering berbolak-balik. Sebagai contoh, di saat kita memakai sarung, baju koko dan peci mau berangkat ke masjid shalat tarawih kemudian mengeluarkan motor dan bertemu dengan tetangga, lalu tetangga itu berkata:

Mau ke mana wan?

Ia menjawab: mau shalat tarawih

Tetangga itu berkata lagi: Masyaa Allah ‘alim ente sekarang.

Inilah contoh, padahal awalnya niat kita baik lalu ada pujian dari orang lain kadang-kadang berbolak-balik niat kita, dan kadang muncul dan terbesit di hati kita. Akhirnya dia ke masjid lama tidak pulang-pulang agar tetangganya yang tadi mengetahui bahwa imannya akan naik dan lain sebagainya.

Begitu pula apa yang dikatakan oleh Sahl Ibnu Abdillah rahmahullahu ta’ala ketika beliau ditanya, “Apa yang paling berat bagi jiwa?” beliau menjawab: “Ikhlas, karena ikhlas itu tidak ada patokannya”

Perlu diketahui bahwa ikhlas itu tidak ada patokannya sehingga kita tidak bisa mematok bahwa kita sudah ikhlas, tidak bisa !!! karena ikhlas tidak ada patokannya.

Betapa indah apa yang telah dikatakan oleh Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullahu ta’ala:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Terkadang amalan kecil itu besar nilainya di sisi Allah karena niatnya dan terkadang amalan besar itu kecil nilainya disisi Allah karena niatnya.”

Sebagai contoh apabila orang lain menyumbang hanya dengan sedikit tapi dengan didasari keikhlasan, ketimbang dengan kita menyumbang dengan jutaan atau bahkan triliyunan rupiah tapi didasari dengan riya maka tidak ada nilainya di hadapan Allah.

Ikhwati fillah a’azzaniyallah wa iyyakum,

Inilah kedudukan ikhlas sangat dan sangat penting di dalam kehidupan kita, Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala beliau pernah mengatakan di dalam kitab Bayaan A’malul Quluub : “Yang dinamakan niat itu adalah kedudukannya sebagaimana ruh di dalam jasad kita sementara anggota tubuh yang lainnya ini hanyalah sekedar pengikut dan pelengkap.”

Dengan demikian niat itu sebagaimana ruh di dalam jasad kita dan tanpa adanya niat maka jasad kita tidak bisa bergerak dan inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala.

Di dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ ، قَالَ : ” جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : أَرَأَيْتَ رَجُلا غَزَا يَلْتَمِسُ الأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَا لَهُ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا شَيْءَ لَهُ ، فَأَعَادَهَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا شَيْءَ لَهُ ، ثُمَّ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ “

Dari Abi Umamah Al-Baahili radhiyallahu ta’ala anhu ia berkata: Datang seorang pemuda kepada Nabi shallallahu ‘alalihi wa sallam, dan bertanya: “Bagaimana menurut engkau jika seorang laki-laki yang turun ke medan perang dalam rangka niatnya untuk mendapatkan pahala dan di sisi lain agar dia disanjung (disebut-sebut amalnya), apa yang dia dapatkan? Rasulullah menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Lalu pemuda itu kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama tiga kali sehingga Rasulullah bersabda kepadanya: “Ia tidak mendapatkan apa-apa” kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidaklah menerima amalannya kecuali di dasari dengan ikhlas  dan hanya mengaharapkan wajah-Nya.” [Diriwayatkan oleh Imam An-Nasaa`i (no. 4231) dan hadits ini kedudukannya hasan yang dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah]

Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullahu ta’ala juga pernah mengatakan di antara definisi ikhlas ialah:

تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاء, وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكِ وَالْإِخْلَاصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ مِنْهُمَا

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya dan mengerjakan amalan karena manusia adalah syirik dan ikhlas adalah semoga Allah ta’ala melepaskan kalian dari keduanya”

Sehinga kita tidak boleh mengerjakan amalan itu dengan riya dan tidak juga dengan syirik, baiklah ikhwati fillah a’azzaniyallahu wa iyyakum mungkin untuk malam ini kita cukupkan sampai di sini dulu dan mungkin nanti insya Allah kita akan lanjutkan pada malam-malam berikutnya dan insya Allah akan lebih detail lagi tentang musuh daripada ikhlas dan juga amalan-amalan apa saja yang sekiranya bisa membantu kita di dalam mengikhlaskan amal-ibadah kita, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan segala bentuk amalan kita ikhlas karena-Nya, dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala melipatkan amalan kita terlebih lagi di bulan Ramadhan ini. Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

“Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Ditulis ke dalam artikel oleh: Yudha Abdul Ghani
Artikel: https://khazanahilmublog.wordpress.com/

_______________________

1. Mohon maaf kami telat merekam muqaddimahnya sehingga di sini kami tidak menyertakan muqaddimah kajian beliau tentang pentingnya menuntut ilmu dan apa yang saya tuliskan kembali di sini insya Allah tidak banyak merubah apa yang beliau sampaikan saat itu kecuali sesuatu yang penting saja.


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: