khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Firqah » Membongkar Kedok Syi’ah Imamiyah [Bagian 3]

Membongkar Kedok Syi’ah Imamiyah [Bagian 3]


aqidah-syiah_320x309

—oOo—

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد

Setelah bagian 1 dan bagian 2 kami selesaikan kini kami beranjak ke bagian 3 dengan pembahasan seputar Aqidah Syi’ah dan Pembataian kaum Muslimin oleh Syi’ah Qaramithah.

  • AQIDAH SYI’AH

Agar pembaca mengetahui atas dasar bashirah (hujjah yang kuat dan terang) bahwa syi’ah adalah Dien (agama) maka di bawah ini akan dipaparkan sebagain dari Aqidah Syi’ah yang tidak seorang muslim pun meyakini salah satunya melainkan ia telah keluar dari Islam.

Pertama:

Syi’ah Mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui bagian tertentu (juz-iyyaat) sebelum terjadinya sesuatu. Dan mereka sifatkan Allah ‘azza wa jalla dengan Al-Bada (yaitu: Allah ta’ala baru mengetahui setelah terjadi sesuatu !?) Subhanallah betapa kufurnya syi’ah terhadap Allah ta’ala Yang Maha Suci atas segala keyakinan Kaum Syi’ah Al-Majusi.

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi sebagaimana Firman-Nya:

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (Allah) mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.”(QS.Thaha [20]:7)

Kedua:

Tahriful Qur’an (perubahan Al-Qur’an) yaitu Syi’ah berkeyakinan telah terjadi perubahan besar-besaran di dalam Al-Qur’an, ayat-ayat dan surat-suratnya telah dikurangi dan ditambahkan oleh para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah pimpinan tiga Khalifah yang mulia -yang menurut syi’ah- merampas hak ahlul bait yaitu; Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin dari zaman Shahabat sampai hari ini sudah tidak valid lagi !!! kecuali Qur’an -versi- mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah yang mereka namakan Mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi khayalan mereka yang tidak pernah ada wujudnya.

Sebagai kaum Muslimin harus meyakini firman Allah ta’ala berikut ini:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr [15]:9)

Dan perlu diketahui ketika ada fitnah yang digembar-gemborkan oleh oknum bahwa Al-Qur’an telah dirubah dan ada tambahan surat ini dan itu, ketahuilah itu adalah makar syi’ah untuk merusak keyakinan (I’tiqad) Ahlussunnah wal Jama’ah, dan perlu saya ingatkan tentang firman Allah QS. Al-Hijr: 9 agar senantiasa dipegang teguh dengan keimanan yang tinggi, sehingga tidak perlu menanggapi fitnah atau syubhat yang menggembar-gemborkan Al-Qur’an dipalsukan atau Al-Qur’an sudah tidak valid lagi atau Al-Qur’an sudah dirubah, karena itu adalah makar syi’ah untuk merusak keimanan kaum muslimin -Allahul Musta’aan-.

Ketiga:

Satu diantara aqidah syi’ah yang tidak kalah pentingnya dan menjadi asas (landasan) bagi mereka ialah mengadakan penyembahan terhadap manusia (Imam). Mereka bersikap ghuluw (melampui batas / berlebih-lebihan) terhadap imam-imam mereka sehingga mencapai derajat uluhiyyah (ketuhanan).  Al-Khumaini salah satu pembesar syi’ah pada zaman sekarang berkata:

وان من ضروريات مذهبنا ان الأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب، ولا نبي مرسل

“Sesungguhnya yang pasti dari madzhab kami, bahwa sesungguhnya imam-imam kami itu mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh satupun Malaikat yang muqarrab (dekat) dan tidak pula oleh seorang Nabi yang pernah diutus.” [Al-Hukuumatul Islamiyyah (hlm.52) al-Khumaini]

Komentar: Walhasil para malaikat dan para Rasul yang diutus maqam (kedudukannya) lebih rendah daripada Imam-imam Syi’ah !!! dan sungguh ini adalah kesesatan yang paling menyesatkan – Waliya’udzubillah – inilah salah satu kerusakan Agama Syi’ah yang penuh dengan kepalsuan, di satu sisi mereka mengagungkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu namun di sisi lain derajat Imam-imam syiah lebih tinggi daripada Malaikat yang dekat kepada Allah dan bahkan derajat para Nabi yang pernah diutus pun kalah levelnya daripada imam-imam syiah. Subhanallah kerusakan syiah ini tidak bisa ditolelir.

Keempat:

Syi’ah memiliki keyakinan Raj’ah (hidup kembali di dunia ini setelah mati atau kebangkitan orang-orang yang telah mati di dunia alias Reinkarnasi seperti Budha) dan hal ini menurut syiah akan terjadi ketika Imam mahdi khayalan mereka (imam ke-12) bangkit dan bangun dari tidurnya yang sedemikian lama lebih dari seribu tahun karena selama ini ia telah bersembunyi di dalam goa. Maka dihidupkanlah kembali seluruh imam-imam mereka dari yang pertama sampai yang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putrinya Fatimah radhiyallahu ‘anha. Kemudian dihidupkan kembali musuh-musuh syiah yang terdepan yaitu Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan serta seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum dan seterusnya. Mereka semua akan diadili kemudian di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena telah menzhalimi ahlul bait -menurut pikiran syiah- dan merampas hak imamah  dan seterusnya.

Aqidah Syi’ah ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 100)

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telah mati akan hidup di alam barzah (alam kubur) dan tidak akan hidup lagi di dunia sampai mereka dibangkitkan pada Hari Kiamat.

Kelima:

Aqidah Syi’ah yang paling menonjol lainnya ialah pengkafiran terhadap seluruh Shahabat kecuali beberapa orang saja, seperti Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain, Salman Al-Farisi, Abu Dzar, dan Miqdad radhiyallahu ‘anhum.

Keenam:

Taqiyah adalah aqidah syiah dan hal ini telah dijelaskan pada artikel bagian 2 sebelumnya dan aqidah taqiyah ini pula yang menjadi jurus andalan kaum syi’ah untuk melancarkan misinya sehingga tidak diketahui kebusukannya karena mengatasnamakan cinta Ahlul Bait.

  • PEMBANTAIAN TERHADAP KAUM MUSLIMIN OLEH SYI’AH 

Sungguh kaum muslimin yang menelaah kitab-kitab sejarah Islam niscaya akan menemukan kebiadaban Syi’ah Qaramithah yang telah membantai para Jama’ah Haji kaum muslimin dan mencuri Hajar Aswad, dan peristiwa ini telah direkam dalam catatan sejarah Islam al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala, berikut paparannya:

1. Syi’ah Qaramithah Membantai Jama’ah Haji & Mencuri Hajar Aswad

Pada tahun 317 H, pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) Syi’ah Qaramithah -yang dipimpin oleh seorang Rafidhi yang bernama Abu Thahir Sulaiman bin Abi Sa’id Al-Jannabiy– memasuki kota Mekkah dan membunuh para jama’ah haji dan di lorong-lorong kota Mekkah, bahkan membunuhi para jama’ah haji di Masjidil Haram, di dalam Ka’bah. Pimpinan mereka memerintahkan agar mayat-mayat tersebut dilemparkan ke sumur zam-zam. Mereka juga mencungkil Hajar Aswad dan membawa lari hajar aswad bersama mereka selama 22 tahun lamanya. [Al-Bidaayah wan Nihaayah, (15/37-39) Al-Hafizh Ibnu Katsir]

2. Pembunuhan terhadap Sejuta Kaum Muslimin di Iraq 

Peristiwa ini berawal dari Pengkhianatan Ibnu Al-‘Alqami Ar-Rafidhi (penganut sekte syi’ah rafidhah) dan Nashiruddin Ath-Thusi Ar-Rafidhi yang akhirnya mengakibatkan terbunuhnya sejuta kaum muslimin di Baghdad, Iraq. Hal ini pun terekam dalam catatan sejarah Islam:

Pada tahun 656 H, Tartar berhasil merebut kota Baghdad dan membunuh mayoritas penduduk Baghdad, termasuk sang Khalifah A-Mu’tashim, maka jatuhlah Dinasti Abbasiyah. [Al-Bidaayah wan Nihaayah (17/356)]

Ibnu Al-‘Aqlami adalah seorang perdana menteri Khalifah Abbasiyah Al-Mu’tashim, dan Al-Mu’tashim berada di atas madzhab ahlussunnah sebagaimana ayah dan kakeknya juga berada di atas madzhab ahlussunnah. Hanya saja Al-Mu’tashim adalah seorang yang lembut dan kurang waspada. Sang menteri (Al-‘Aqlami Ar-Rafidhi) telah merencanakan tahapan-tahapan untuk meruntuhkan kerajaan, membasmi ahlussunnah dan mendirikan negara di atas madzhab Rafidhah Syi’ah. Ia pun memanfaatkan kedudukannya sebagai perdana menteri kerajaan, sementara sang Khalifah tidak sadar sehingga menjalankan arahan-arahan Ibnu Al-‘Aqlami untuk meruntuhkan kerajaannya.

Program peruntuhan kerajaan yang dilancarkan oleh Ibnu Al-‘Aqlami melalui tiga tahapan, yaitu:

Pertama: 

Mengurangi jumlah pasukan perang dalam memotong pemasukan para pasukan kaum muslimin. Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Dan sang perdana menteri Ibnu Al-‘Aqlami berusaha untuk memalingkan pasukan dan menjatuhkan jatah mereka dari diwan (kantor). Pasukan perang kaum muslimin di akhir zaman Khalifah Al-Munthasir sekitar 100 ribu pasukan, Ibnu Al-‘Aqlami senantiasa berusaha untuk memperkecil jumlah pasukan perang hingga akhirnya hanya tinggal 10 ribu pasukan.” [Al-Bidaayah wan Nihaayah (17/360)]

Kedua:

Memberi kabar kepada Tartar tentang lemahnya kondisi pasukan kaum muslimin. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Setelah itu Ibnu Al-‘Aqlami mengiri kabar kepada Tartar dan memprovokasi mereka untuk merebut kota Baghdad dan ia telah memudahkan mereka untuk hal itu dan ia menjelaskan kepada Tartar kondisi yang sebenarnya dan membongkar lemahnya pasukan. Semua ini ia lakukan karena keinginannya untuk menghilangkan As-Sunnah secara total dan menampakkan Bid’ah Rafidhah.”  [Al-Bidaayah wan Nihaayah (17/360)]

Ketiga:

Mencegah dan membujuk Khalifah untuk berperang melawan pasukan Tartar dan mengilustrasikan bahwa Holako (panglima Tartar) ingin berdamai. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Oleh karena itu yang pertama kali menemui Tartar adalah Ibnu Al-‘Aqlami. Ia keluar bersama keluarganya, para shahabatnya, para pembantunya, dan kerabatnya. Lalu ia pun bertemu Holaku -Laknatullah ‘alaihim- lalu ia kembali kepada Khalifah dan menganjurkan Khalifah untuk keluar dan pasrah di hadapan Holaku agar terjalin perdamaian atas kesepakatan bahwa setengah penghasilan negeri Iraq untuk Tartar dan setengahnya lagi untuk Khalifah. Maka Khalifah pun harus keluar bersama dengan 700 pengendara tunggangan yang terdiri dari para hakim, fuqaha, ahli ibadah, dan para pembesar negara. Di saat mereka mendekati tempat tinggal Holaku, merekapun dihalangi dari Khalifah kecuali hanya 17 orang, sehingga khalifah pun selamat dengan 17 orang tersebut. Adapun sisanya diturunkan dari kendaraan mereka dan dirampok, serta dibunuh seluruhnya.”[Al-Bidaayah wan Nihaayah (17/358)]

Setelah itu Khalifah bertemu dengan Holaku dan membicarakan tentang perdamaian. Lalu Khalifah kembali ke tempat tinggalnya, ketika hendak bertemu dengan Holaku untuk yang kedua kalinya, Ibnu Al-‘Aqlami mengusulkan kepada Holaku untuk membunuh Khalifah dan tidak menerima perdamaian yang ditawarkannya. Dikatakan pula yang mengusulkan untuk membunuh Khalifah adalah Ibnu Al-‘Aqlami dan Nashiruddin Ath-Thusi ar-Rafidhi, saat itu Nashiruddin Ath-Thusi berada bersama Holaku. [Al-Bidaayah wan Nihaayah (17/259)] Maka dengan hilah (kelicikan) Ibnu Al-‘Aqlami Ar-Rafidhi ini terbunuhlah Khalifah bersama tokoh-tokoh dan para pembesar negara oleh Tartar dengan sangat mudah dan tanpa ada kesulitan sedikut pun.!!

Setelah itu pasukan Tartar pun masuk ke dalam kota Baghdad dan membunuh seluruh penduduk, baik lelaki, wanita, anak-anak, orang tua, tidak ada yang selamat, kecuali para ahlu adz-dzimmah dari kalangan Yahudi dan Nashrani serta orang-orang yang berlindung kepada mereka dan berlindung di rumah sang perdana menteri Ibnu Al-‘Aqlami Ar-Rafidhi.[Al-Bidaayah wan Nihaayah (17/359-360)] Kisah ini pun telah disebutkan oleh para ahli sejarah selain Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, diantaranya ialah: Imam Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ibar (5/225) dan As-Subkiy dalam Thabaaqat Asy-Syafi’iyyah (8/262-263).

—oOo—

Agar penilaian sejarah ini lebih objektif (fair) maka sekarang akan kami sebutkan dari para tokoh sejarah Syi’ah terkait dengan Ibnu Al-‘Aqlami Ar-Rafidhi yang dicatat oleh Ulama Syi’ah Al-Imam Ali bin Anjab -yang terkenal dengan nama- Ibnu As-Sa’iy dia adalah tokoh sejarawan yang berasal dari Baghdad yang meninggal tahun 674 H yang tentunya ia mendapatkan peristiwa pembantaian penduduk Baghdad yang terjadi pada tahun 656 H. Dan salah seorang tokoh syi’ah Muhsin Al-Amiin telah memasukkan Ibnu As-Sa’iy dalam jajaran ulama syi’ah di dalam kitabnya A’yaan Asyi’ah (1/305).

Ibnu As-Sa’iy berkata:

Al-Mu’tashim adalah akhir dari para Khalifah dinasti Abbasiyah, pada masa pemerintahan Tartar menguasai Baghdad dan membunuh sang Khalifah Al-Mu’tashim, dan dengan kejadian itu runtuhlah dinasti Abbasiyah dari tanah Iraq. Adapun penyebabnya adalah perdana menterinya yaitu Muayyiduddin Ibnu Al-‘Aqlami yang ia adalah seorang Rafidhah (syi’ah) dan ia dari penduduk Al-Karhk, dan penduduk Al-Karhk semuanya Rafidhah. Maka terjadilah fitnah antara ahlissunnah dan syi’ah di Baghdad -sebagaimana biasa- maka Khalifah Al-Mut’ashim memerintahkan pasukannya untuk merampas harta penduduk Al-Kahrk dan menzinahi para wanita di sana. Maka hal ini sangat berat bagi Ibnu Al-‘Aqlami. Ia pun mengirim surat kepada Tartar dan memotivasi mereka untuk menguasai negeri Baghdad. Dikatakan bahwa di saat surat sang perdana menteri Ibnu Al-‘Aqlami sampai kepada Holaku, ia pun merasa aneh. Maka ia pun masuk ke Baghdad dengan model seorang pedagang lalu bertemu dengan sang perdana menteri dan para pembesar negara. Ia pun menetapkan beberapa kaidah bersama mereka, lalu berjalan menuju Baghdad dengan pasukan yang besar dari kalangan Mongol, dan ber-markaz di arah tenggara Baghdad pada tahun 656 H. Lalu sang perdana menteri menemui mereka dan meminta mereka untuk menjaga keluarganya. Setelah itu ia kembali menemui Khalifah Al-Mu’tashim dan mengatakan bahwa “Holaku datang untuk menikahkan putrinya dengan putramu.” Ibnu Al-‘Aqlami terus merayu sang Khalifah hingga akhirnya ia berhasil menjadikan sang Khalifah untuk pergi menuju Holaku, lalu mereka pun menempatkan Khalifah di sebuah kemah. Lalu Ibnu Al-‘Aqlami juga menjadikan para pembesar Baghdad untuk pergi menuju Holaku, sekelompok demi sekelompok. Hingga akhirnya seluruhnya berada di sisi pasukan Tartar, maka pasukan Tarar pun membunuh mereka dengan pedang-pedang mereka, dan juga membunuh Khalifah Al-Mu’tashim.”[Mukhtashar Akhbaar Al-Khulafaa (hlm.126) cet.1 Mathba’ah Al-Amiiriyah, Bulaaq, th.1309 H]

3. Peranan Nashiruddin Ath-Thusi dalam Pembunuhan Masal Ribuan Kaum Muslimin ahlussunnah di Baghdad

Salah seorang tokoh Syi’ah Al-Mirza Muhammad Baqir Al-Khawansari Al-Asbahani (wafat. 1313 H) dalam kitabnya Raudhat Al-Jannaat, pada bagian Biografi Nashiruddin Ath-Thusi ia berkata:

“Di antara berita yang masyhur dinukilkan dan dihikayatkan dari Ath-Thusi bahwasanya beliau membawa pergi sulthan Holaku Khaan yang merupakan salah satu para raja besar dari Tartar, dan kedatangan Ath-Thusi bersama pasukan Sulthan yang dkuatakan (yaitu Holaku) dengan kekuatan penuh menuju Daarus Salam Baghdad untuk memberi petunjuk kepada para hamba dan perbaikan untuk negara-negara, untuk memutuskan rangkaian kezhaliman dan kerusakan, untuk memadamkan api kezhaliman dan kerancuan, dengan membantai Raja Bani Al-Abbas dan pelaksanaan pembunuhan masal atau menyeluruh para pengikut orang-orang jembel tersebut, hingga mengalir dari darah-darah mereka kotoran-kotoran seperti sungai-sungai, maka mengalirlah darah-darah kotor itu dan melebur ke sungai Dejlah, dan setelah dari sungai Dejlah kemudian menuju neraka Jahanam, lembah kebinasaan, tempatnya orang-orang yang sengsara dan buruk.” [Raudhat Al-Jannaat fii Ahwaal Al-Ulamaa’ wa as-Saadaat, (6/279) cet.1 Ad-Daar Al-Islamiyyah, th. 1411 H / 1991 M]

Sebenarnya masih banyak lagi kebusukan syi’ah terhadap ahlussunnah termasuk dalam pembantaian yang dilakukan oleh Ash-Shafawi terhadap Ahlussunnah di Iran dan Iraq pada abad ke-10 Hijriyah dan pembantaian ini pun diakui sendiri oleh sejarawan syi’ah yang bernama DR. Ali Al-Wardi dalam bukunya Lamhaat Ijtimaa’iyah min Taariikh Al-‘Iraq Al-Hadits. dan anda bisa mendownloadnya di sini. Namun kami cukupkan sampai di sini terlebih dahulu dan demikianlah Kebiadaban Kaum Syi’ah terhadap Ahlussunnah (kaum muslimin) sebab Syi’ah menganggap kaum muslimin sebagai Nashibi (orang-orang selain syi’ah) semoga Allah ta’ala menghancurkan kaum Majusi Modern ini dan menjaga kaum muslimin seluruhnya dari syubhat dan fitnah Syi’ah, aamiin.

Perlu diketahui juga, Makar Syi’ah dalam meruntuhkan kekuatan Ahlussunnah adalah melalui berbagai sarana baik media maupun pemerintahan, maka jika ada indikasi pekerja anda atau kerabat anda segera ajak dia bertaubat dari Syi’ah kepada Ahlussunnah karena dikhawatirkan orang awam syi’ah itu semakin terjerumus dalam kesesatan syi’ah.

Semoga Allah menjaga kami dan keluarga serta kaum muslimin seluruhnya dari kebusukan syi’ah dan makar-makarnya serta menjatuhkan dinasti syi’ah di berbagai penjuru bumi, Aamiin.

—oOo—

Disusun oleh: Yudha Abdul Ghani
Artikel: Khazanah Ilmu Blog

________________________

Referensi:

  • Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi, (hlm.13-24) Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat, cet.V, Maktabah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, th.1431 H / 2010 M.
  • Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah membongkar koleksi dusta syaikh idahram, (hlm.12-13) Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A. Cet. Naashirusunnah, th. 1433 H / 2012 M.

Artikel Terkait:


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: