khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Aqidah Tauhid » Syarah Kitab Tauhid Bab.1

Syarah Kitab Tauhid Bab.1


Syarah Kitab Tauhid_320x180

Muqaddimah

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-bena r takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang agung.”(QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Kitab Tauhid ini adalah sebuah karya Al-Imam Al-Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid Al-Wuhaibiyyu At-Tamimi An-Najdi rahimahullaah wafat th.1115 H – 1206 H, kitab yang merupakan hujjah bagi ahli tauhid dalam memangkas kesyirikan para pelaku syirik dan bid’ah karena di dalam kitab ini ber-hujjahkan hanya dengan Ayat dan Hadits atau atsar sehingga tidak ada celah bagi pelaku syirik untuk mengelaknya kecuali orang-orang yang sombong dan para pembela hawa nafsunya –Na’udzubillahi min dzalik-. Adapun syarah yang kami lakukan terhadap Kitab Tauhid ini adalah merujuk kepada kitab-kitab pendahulu dan kami hanya menyusun dalam satu susunan ini –insya Allah–  dan semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat bagi kami dan keluarga serta kaum muslimin sekalian, dan mohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam ketikan dikarenakan keteledoran penyusun.


كتاب التوحيد

Kitab Tauhid

وقول الله تعالى (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ) الآية

Dan Firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [QS. Adz-Dzariat: 56]

………………

Pembahasan kitab ini adalah tentang Tauhid yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba-Nya dan karenanyalah Allah menciptakan mereka (dan kitab ini) dan menjelaskan perkara (tauhid) yang (akan) meniadakan (berbagai jenis) syirik Akbar atau yang menghilangkan kesempurnaan tauhid yang wajib atau mustahab (mubah), berupa jenis-jenis syirik kecil dan bid’ah-bid’ah.[1]

Penjelasan Lafazh:

قول : kata ini dibaca jar (kasrah) di-ma’thuf-kan kepada التَّوْحِيدُ dan boleh dibaca rafa’ (dengan dhammah) sebagai mubtada’.[2]

كِتَابٌ : adalah bentuk mashdar (bentuk ketiga) dari kata kerja كَتَبَ يَكْتُبُ كِتَابًا وَكِتَابَةً وَكَتْبًا yang berarti “mengumpulkan”. Oleh karena itu kalimat “الكِتَابَةُ بِالْقَلَمِ” berarti: “mengumpulkan huruf-huruf dan kata-kata.”[3]

التَّوْحِيدِ : adalah mashdar (bentuk ketiga) dari kata وَحَّدَ – يُوَحِّدُ yang berarti: menjadikannya tunggal (esa), dan hal ini tidak akan terealisasi kecuali dengan jalan penafian (peniadaan) yaitu ia menafikan ketuhanan selain Allah dan penetapan bahwa ia menetapkan ketuhanan hanya untuk Allah ta’ala semata. Adapun yang dimaksud di sini adalah mengesakan Allah dalam peribadahan.[4]

خَلَقْتُ : dan Aku ciptakan (mengadakan); menciptakan pengadaan ini didahului dengan takdir dan dasar penciptaan adalah takdir[5]. Sehingga الخَلَقُ “penciptaan” bermakna mengadakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak pula ada contohnya.[6]

الْجِنَّ : jin; mereka memiliki alam ghaib yang tidak kita ketahui, karena itulah kata ini terdiri dari huruf jim dan nun, yang keduanya menunjukkan sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, seperti kata; الجَنَّة – الجِنَّة – الجُنَّة (tabir, jin, surga).[7]

الإنْسَ : manusia; dinamakan demikian karena mereka tidak dapat hidup tanpa keramahan. Sebagian mereka ramah terhadap yang lain, sebagian bergerak kepada sebagian yang lain.[8]

إِلا لِيَعْبُدُونِ : kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku; huruf lam di sini merupakan pemberian alasan untuk menjelaskan hikmah penciptaan.[9]

Adapun Pengertian dari firman Allah ini adalah: “merupakan pengecualian yang dikhususkan (ditujukan untuk beribadah) dari kondisi yang paling umum atau dengan kata lain Allah tidak menciptakan jin dan manusia untuk sesuatu apapun melainkan untuk ibadah.”[10]

Sedangkan Makna kalimat إِلا لِيَعْبُدُونِ adalah إِلا لِيَوحِّدُونِ (melainkan untuk mengesakan-Ku).[11]

Sedangkan Tafsiran ayat firman Allah ini adalah: “Supaya mereka mengesakan Aku (Allah).” Ada pula yang menafsirkan dengan: “Supaya mereka tunduk kepada-Ku dengan ketaatan, mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Diantara ketaatan kepada Allah adalah Dia diesakan dan inilah hikmah penciptaan jin dan manusia dan atas dasar ini pula Allah memberikan akal kepada manusia dan mengutus para rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab kepada mereka, dan sekiranya tujuan penciptaan mereka seperti penciptaan binatang ternak, maka tidak ada hikmah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, karena pada akhirnya manusia hanya akan seperti pohon yang tumbuh berkembang lalu tumbang dan atas dasar ini pula Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali…” [QS. Al-Qashash: 85][12]

 

Pengertian Ibadah:

Ibadah secara bahasa ialah: التَّذَلُّلُ وَالْخُضُوعُ perendahan diri dan ketundukkan.[13]

Ibadah dalam pengertian Syar’i ialah:

اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلَّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ

“Sebuah ungkapan yang mencakup segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai dari seluruh ucapan dan perbuatan yang tidak nampak maupun yang nampak (zahir).”[14]

Istilah Ibadah bisa diperuntukkan bagi dua hal:[15]

التَّعَبُّدُ : maknanya ialah ketundukkan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan dorongan cinta dan pengagungan.

المُتَعَبَدُ بِه : maknanya ialah seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam rahimahullaah –lihat kembali pengertian ibadah secara syar’i di atas-

Dan ketahuilah bahwasanya Ibadah itu ada dua macam:[16]

Pertama: عبادة كونية (Ibadah Kauniyah) yaitu ketundukkan terhadap perintah Allah yang bersifat kauniyah (alamiah) dan ini menyangkut semua makhluk, tak seorang pun yang dapat menghindarinya. Allah ta’ala berfirman:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” [QS. Maryam: 93] Termasuk di dalamnya orang mukmin dan kafir, orang shalih dan tukang maksiat.

Kedua: عبادة شرعية (Ibadah Syar’iyah) yaitu ketundukkan kepada Allah ta’ala dengan menjalankan perintah Syar’i (yang disyariatkan-Nya) dan ini khusus bagi orang yang taat kepada Allah dan mengikuti apa yang dibawa oleh para rasul seperti dalam firman-Nya:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati…” [QS. Al-Furqan: 63]

Untuk kriteria pertama, manusia tidak dipuji karenanya sebab hal itu bukan karena perbuatan (kehendaknya) namun terkadang terpuji manakala ia bersyukur ketika lapang, dan bersabar ketika mendapat musibah. Berbeda dengan kriteria yang kedua, semua bentuknya adalah terpuji.

Makna Ayat Secara Global:

Allah ta’ala mengabarkan bahwa Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya, maka ayat ini adalah penjelasan tentang hikmah penciptaan manusia dan jin. Allah tidak menginginkan apapun dari mereka sebagaimana keinginan seorang tuan dari budaknya, berupa bantuan rezeki dan makanan, kecuali bahwa keinginan Allah hanyalah sebuah kemaslahatan (kebaikan) untuk mereka (para hamba-Nya).[17]

Hubungan antara Ayat dan Bab:

Ayat ini menunjukkan tentang kewajiban bertauhid, yaitu mengesakan peribadahan hanya kepada Allah semata, karena tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali untuk tujuan tersebut.[18]

Faidah Ayat:[19]

1. Kewajiban mengesakan Ibadah kepada Allah bagi seluruh makhluk jin dan manusia

2. Penjelasan tentang hikmah penciptaan jin dan manusia

3. Bahwa sang Penciptalah yang berhak mendapatkan peribadahan dan bukan selain-Nya yang tidak menciptakan. Dalam hal ini, terdapat bantahan terhadap penyembahan berhala dan selainnya.

4. Penjelasan bahwa Allah ta’ala tidak memerlukan makhluk-Nya dan (penjelasan tentang) butuhnya para makhluk kepada Allah karena Dia-lah yang menciptakan, sedang mereka adalah yang diciptakan.

5. Penetapan adanya hikmah dalam setiap perbuatan-Nya subhaanahu.

—oOo—

 

وقوله: (وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ) الآية

Firman-Nya: “Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah thaghut.” [QS. An-Nahl: 36]

………………

Penjelasan Lafazh:

وَلَقَدْ : huruf لَ (lam) sebagai pendahuluan untuk sumpah yang tersirat dan قَدْ (qad) untuk memastikan, dengan demikian atas dasar inilah (وَلَقَدْ) kalimat dalam ayat ini dikuatkan dengan sumpah yang tersirat.[20]

بَعَثْنَا : artinya Kami keluarkan dan Kami utus rasul di setiap ummat. Adapun yang dimaksud dengan ummat di sini ialah golongan manusia.[21]

كُلِّ أُمَّةٍ  : “setiap ummat”; artinya setiap kelompok, kurun waktu dan generasi manusia.

رَّسُولاً : rasul adalah seseorang yang suatu syariat diwahyukan kepadanya dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat tersebut kepada ummatnya.[22]

Hikmah diutusnya para rasul ialah:[23]

1. Menegakkan hujjah: Firman Allah ta’ala, “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” [QS. An-Nisaa`: 165]

2. Sebagai Rahmat: Firman Allah ta’ala, “Dan, tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [QS. Al-Anbiya: 107]

3. Menjelaskan jalan yang menghantarkan kepada Allah ta’ala, karena manusia tidak mengetahui apa-apa tentang hak Allah secara terperinci kecuali melalui para rasul.

أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ : artinya, esakanlah Allah dalam ibadah kalian dan tundukklah kepada Allah dengan melakukan ibadah.[24]

وَاجْتَنِبُواْ : artinya, tinggalkanlah dan jahuilah

الطَّاغُوتَ : thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah ta’ala.

Definisi Thaghut:

Thaghut الطَّاغُوتَ berasal dari kata الطُّغْيَانُ (artinya: melampaui batas) sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang), kamu ke dalam bahtera.” [QS. Al-Haqqah: 12], ketika “air itu naik” (artinya: melampaui batas).[25]

Penafsiran Thaghut Menurut Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum: [26]

  • Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: الطَّاغُوتُ الشيْطَانُ (thaghut adalah setan).
  • Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: الطَّاغُوتُ كُهَّانٌ كَانَتْ تَنْزِلُ عَلَيْهِمُ الشَّيطَانُ (thaghut adalah para dukun di mana setan-setan turun kepada mereka).

Penafsiran Thaghut Menurut Para Ulama: [27]

  • Imam Malik rahimahullah berkata: الطَّاغُوتُ كُلُّ مَا عُبِدَ مِنْ دُوْنِ اللهِ (thaghut adalah semua yang disembah selain Allah).
  • Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir rahimahullah berkata: الطَّاغُوتُ: الشَّيطَانُ وَمَا زِينهُ مِنْ عِبَادَةِ غَيْرِ الله (thaghut adalah setan dan ibadah kepada selain Allah yang dia hiasi).
  • Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menafsirkan – dan inilah definisi thaghut secara menyeluruh – beliau berkata:

الطَّاغُوتُ: كُلُّ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُوْدٍ، أَوْ مَتْبُوْعٍ أَوْ مُطَاعٍ

“Thaghut ialah segala sesuatu yang membuat seorang hamba melampaui batas dengannya, baik berupa; sesuatu yang disembah, atau sesuatu yang diikuti, atau sesuatu yang ditaati.”

Makna Ayat secara global:

Allah subhaanahu wa ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia telah mengutus seorang rasul pada setiap kelompok dan kurun manusia, yang (para rasul itu) mengajak kepada manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah. Allah terus mengutus para rasul-Nya kepada manusia sejak terjadinya kesyirikan pada Bani Adam pada zaman Nabi Nuh ‘alahissalam hingga Allah menutup para Nabi dengan Muhammad shallallalhu ‘alaihi wa sallam.[28]

Hubungan antara Ayat dan Bab:

Sesungguhnya dakwah kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan adalah tujuan seluruh nabi dan para pengikutnya.[29]

Faidah Ayat:[30]

1. Sesungguhnya hikmah pengutusan para rasul adalah untuk berdakwah menyeru kepada Tauhid dan melarang dari kesyirikan.

2. Sesungguhnya agama para Nabi adalah satu, yaitu memurnikan peribadahan kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan, meskipun syariat mereka (para rasul) berbeda-beda.

3. Bahwasanya risalah (tauhid) ini berlaku untuk setiap umat dan hujjah telah tegak bagi seluruh umat manusia.

4. Ayat di atas menerangkan keagungan perkara Tauhid dan bahwa Tauhid wajib atas seluruh umat.

5. Di dalam ayat ini, terdapat kandungan kalimat لاَإِلَهَ إِلَّا الله (tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah) berupa penafian (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Hal ini menunjukkan bahwa tauhid tidak dapat diluruskan kecuali dengan keduanya (peniadaan & penetapan,-sebagaimana telah lalu dijelaskan dalam penjelsan lafazh at-tauhiid) Adapun peniadaan saja itu bukanlah mentauhidkan begitu pula itsbat (penetapan) saja maka bukanlah mentauhidkan.

—oOo—

 

وقوله: (وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا) الآية

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” [QS. Al-Israa’: 23]

………………

Penjelasan Lafazh:

وَقَضَى : artinya, memerintahkan dan mewasiatkan dan yang dimaksud dengan qadha’ di sini adalah ketentuan syar’iy diiniy (yaitu: ketentuan syariat agama) dan bukan qadha’ (ketentuan) qadariy kauniy (penakdiran dan pengadaan).[31]

رَبُّكَ : Tuhanmu, الرَّبُّ adalah Yang Maha Memiliki dan Maha Mengatur, yaitu Yang Memelihara seluruh alam dengan nikmat-nikmat-Nya.

أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ : janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada-Nya; bermakna bahwa hendaknya kalian hanya beribadah kepada-Nya dan tidak menyembah selain-Nya.[32]

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا : maknanya ialah Rabb-mu menetapkan agar kita berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Kedua orang tua meliputi ayah dan ibu serta jalur ke atas (kakek nenek dan seterusnya), akan tetapi dalam hal ini lebih ditekankan kepada ibu dan bapak selagi keduanya lebih dekat denganmu, maka mereka berdua lebih layak diperlakukan dengan baik. Dan yang dimaksud dengan berbuat baik di sini ialah memberikan hal-hal yang ma’ruf.[33]

Makna Ayat secara global:

Ayat ini adalah pengabaran bahwa Allah ta’ala telah memerintahkan dan mewasiatkan melalui lisan para rasul-Nya agar hanya Dia semata yang diibadahi, tidak ada yang disembah selain-Nya, dan agar seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya, melalui ucapan atau perbuatan serta tidak berbuat jelek kepada kedua orang tuanya, karena kedua orang tuanyalah yang telah memelihara dan mendidiknya ketika masih kecil dan lemah sampai menjadi kuat dan dewasa.[34]

Hubungan antara Ayat dan Bab:

Bahwasanya tauhid adalah hak yang paling ditekankan dan kewajiban yang paling kuat karena dalam ayat ini Allah mengawali dengan perkara tauhid dan Allah tidak memulai dengan sesuatu kecuali dengan perkara yang paling penting, kemudian perkara lainnya.[35]

Faidah Ayat:[36]

1. Bahwasanya tauhid itu adalah kewajiban yang pertama kali Allah perintahkan dan juga merupakan hak-hak wajib yang pertama atas hamba.

2. Kandungan kalimat Tauhid لاَإِلَهَ إِلَّا الله (tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah) berupa penafian (peniadaan) dan itsbat (penetapan) sebagaimana telah lalu penjelasannya.

3. Besarnya hak kedua orang tua, bahwa Allah mengikutkan hak kedua orang tua tersebut kepada hak-Nya, dan hak tersebut datang pada tingkatan kedua.

4. Kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua dengan segala jenis kebaikan sebab Allah tidak mengkhususkan satu jenis kebaikan tanpa yang lainnya.

5. Keharaman durhakan kepada kedua orang tua.

—oOo—

وقوله: (وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا) الآية

Firman-Nya: “Dan beribadahlah kalian kepada Allah, dan janganlah mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun.” [QS. An-Nisaa`: 36]

………………

Penjelasan Lafazh:

وَلاَ تُشْرِكُواْ  : janganlah kalian menyekutukan;  maknanya ialah: tinggalkanlah kesyirikan yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah pad hal-hal yang menjadi kekhususan Allah.[37]

lafazh وَلاَ تُشْرِكُواْ   serupa dengan لاَإِلَهَ karena ini merupakan penafian (peniadaan ketuhanan selain Allah). Sedangkan lafazh وَاعْبُدُواْ serupa dengan إِلاَّ الله karena ini merupakan penetapan (penetapan bahwa Allah semata yang wajib disembah).[38]

شَيْئًا : segala sesuatu: adalah isim nakirah dalam konteks larangan sehingga mencakup segala macam kesyirikan (syirik besar maupun kecil) atau dengan kata lain janganlah engkau menjadikan dunia sebagai sekutu bersama Allah.[39]

Makna Ayat secara global:

Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata dan tiada sekutu bagi-Nya dan melarang mereka dari (berbuat) kesyirikan. Allah tidak mengkhususkan (dalam perintah beribadah hanya kepada-Nya) pada salah satu jenis ibadah, baik berupa doa, shalat, maupun ibadah yang lainnya. Supaya perintah tersebut dapat mencakup semua jenis ibadah. Allah juga tidak mengkhususkan (larangan-Nya) dengan salah satu jenis kesyirikan saja supaya dapat mencakup semua jenis kesyirikan.[40]

Hubungan antara Ayat dan Bab:

Ayat ini dimulai dengan perintah untuk bertauhid dan larangan terhadap syirik maka dalam ayat ini terdapat penjelasan tafsir kalimat tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan kesyirikan.[41]

Faidah Ayat:[42]

1. Kewajiban mengesakan Allah dalam ibadah karena Allah telah memerintahkan hal itu pertama kali maka hal itu merupakan kewajiban yang paling ditekankan.

2. Pengharaman Kesyirikan karena Allah telah melarang hal itu maka syirik adalah hal yang paling diharamkan.

3. Bahwasanya menjauhi kesyirikan merupakan syarat sah-nya ibadah karena Allah menggandengkan perintah untuk beribadah dengan larangan terhadap kesyirikan.

4. Sesungguhnya kesyirikan adalah haram, baik sedikit maupun banyak, baik besar maupun kecil, karena kata syai`an (dalam ayat ini) berbentuk nakirah dalam konteks larangan sehingga maknanya mencakup segala jenis dan bentuk kesyirikan.

5. Bahwasanya tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam peribadahan, baik dengan malaikat, para nabi, orang shalih dari para wali, maupun dengan patung (berhala), karena kata syai’an bermakna umum.

—oOo—

وقوله: (قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا) الآيات

Firman-Nya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah kubacakan hal-hal yang Rabb kalian haramkan terhadap kalian, ‘yaitu janganlah kalian berbuat syirik sedikitpun terhadap-Nya….” [QS. Al-An’am: 151, 153]

………………

Penjelasan Lafazh:

تَعَالَوْاْ : maknanya; kemarilah, mendekatlah dan datanglah kalian (kepadaku), seakan-akan orang yang menyerumu agar engkau menghampiri tempatnya seraya berkata; تَعَالِ artinya: naiklah ke tempatku.[43]

أَتْلُ : maknanya; ‘Aku kabarkan atau aku sampaikan kepada kalian.’[44]

مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ : maknanya; apa yang diharamkan oleh Tuhanmu bagi kalian secara haq (benar) bukan dugaan, bukan sangkaan akan tetapi wahyu dari-Nya dan perintah di sisi-Nya.[45]

الآيات : maksudnya ialah sampai akhir dari ketiga ayat dari surat Al-An’am, yaitu firman-Nya: قُلْ تَعَالَوْاْ sampai penutupan ayat ketiga, yaitu: ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (Yang demikian itu Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa).

Makna Ayat secara global:[46]

Allah memerintahkan nabi-Nya untuk mengatakan kepada kaum musyrikin tersebut yang menyembah selain Allah, mengharamkan apa-apa yang Allah rezekikan kepada mereka, dan membunuh anak-anak mereka untuk mendekatkan diri kepada berhala-berhala mereka, bahwa mereka mengerjakan hal itu berdasarkan pemikiran akal mereka dank arena tipu daya setan terhadap mereka –maka- kemarilah, aku mengabarkan kepada kalian apa-apa yang Pencipta dan Penguasa kalian haramkan dengan pengharaman yang sebenarnya, bukan rekaan-rekaan dan persangkaan, melainkan berdasarkan wahyu dari-Nya dan perintah dari sisi-Nya. Hal itu adalah pada apa-apa yang telah Dia wasiatkan kepada kalian dalam sepuluh wasiat, yaitu:

  1. Dia berwasiat kepada kalian agar kalian tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ini adalah larangan terhadap kesyirikan secara umum sehingga mencakup berbagai macam sesembahan selain Allah yang dipersekutukan dengan Allah dan meliputi semua jenis ibadah yang Allah dipersekutukan dalam ibadah tersebut.
  2. Dia berwasiat kepada kalian agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan cara berbakti kepada keduanya, menjaga, memelihara, dan mentaati keduanya selama bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah, serta tidak menginggikan diri terhadap keduanya.
  3. Dia berwasiat kepada kalian agar kalian tidak membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, yaitu jangan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan kalian dan janganlah kalian membunuh anak-anak lelaki kalian karena takut miskin. Sebab, Akulah yang memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka, bukan kalian yang memberi rezeki kepada mereka, bahkan bukan kalian yang memberi rezeki kepada diri-diri kalian.
  4. Dia berwasiat kepada kalian agar kalian tidak mendekati perbuatan-perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi, yaitu kemaksiatan yang tampak maupun yang tersembunyi.
  5. Dia berwasiat kepada kalian agar kalian tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh, yaitu jiwa orang yang beriman dan orang yang memiliki perjanjian (atas keselamatan dirinya), kecuali dengan sebab yang dibenarkan untuk dibunuh, yaitu karena qishash orang yang berzina setelah menikah, atau orang yang murtad setelah memeluk Islam.
  6. Dia berwasiat kepada kalian agar tidak mendekati harta anak yatim -yaitu anak kecil yang belum baligh yang ditinggal mati oleh ayahnya- kecuali dengan cara yang lebih baik dengan berbagai usaha untuk menjaga dan mengembangkan harta tersebut sampai diserahkan kepada anak yatim itu ketika anak tersebut telah mencapai masa kematangan, yaitu kelurusan dalam berpikir dan hilangnya sifat dan perlaku bodoh bersamaan dengan sampainya masa baligh.
  7. وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ

“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya” yakni tegakkanlah keadilan dalam mengambil (membeli) dan memberi (menjual) sesuai dengan kemampuan kalian.

8. وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى

“Dan apabila berkata, hendaklah kalian berlaku adil, meskipun dia adalah kerabat (kalian),” yakni Allah memerintahkan agar kalian bersikap adil dalam perkataan, baik kepada kerabat maupun kepada orang lain, setelah Allah memerintahkan kalian untuk berlaku adil dalam perbuatan.

9. وَبِعَهْدِ اللَّهِ

“Dan terhadap perjanjian Allah” yakni wasiat-Nya yang telah Dia wasiatkan kepada kalian… “maka tunaikanlah” yakni patuhilah wasiat tersebut dengan cara mentaati-Nya pada perintah dan larangan-Nya serta mengamalkan kitab-Nya dan Sunnah nabi-Nya.

10. وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan (kubacakan), ‘Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (lain) karena (jalan-jalan lain) itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” Yaitu hal-hal yang sudah Aku wasiatkan pada dua ayat (yang telah disebutkan sebelum ini) berupa meninggalkan larangan-larangan, bahwa (larangan) yang terbesar adalah perbuatan syirik dan mengerjakan perintah-perintah dan bahwa (perintah) yang terbesar adalah bertauhid. Itulah jalan yang lurus tersebut.

Firman-Nya:“Maka ikutilah (jalan) itu, dan janganlah mengikuti jalan-jalan (lain),” yaitu bid’ah-bid’ah dan syubhat-syubhat.

Firman-Nya: “Karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” Yaitu memalingkan dan memecah-belah kalian dari agama-Nya.

Hubungan antara Ayat dan Bab:[47]

Bahwasanya, dalam ayat-ayat di atas Allah ta’ala menyebutkan beberapa larangan, dimulai dengan larangan terhadap berbuat syirik. Larangan tersebut menunjukkan perintah untuk bertauhid sebagai konsekuensinya. Hal ini menujukkan bahwa tauhid adalah kewajiban yang paling wajib dan bahwa kesyirikan adalah keharaman yang paling besar.

Faidah Ayat:[48]

1. Syirik adalah keharaman yang paling besar dan tauhid adalah kewajiban yang paling wajib.

2. Besarnya kedua hak orang tua.

3. Keharaman membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, terlebih lagi jika yang dibunuh adalah kerabat sendiri.

4. Keharaman memakan harta anak yatim dan disyariatkan berbuat kemaslahatan untuk anak yatim tersebut.

5. Kewajiban berlaku adil dalam perkataan dan perbuatan baik kepada orang dekat maupun orang jauh.

6. Kewajiban memenuhi janji.

7. Kewajiban mengikuti agama Islam dan meninggalkan agama lain.

8. Penghalalan dan pengharaman adalah hak Allah semata.

—oOo—

قال ابن مسعود رضي الله عنه: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرُ إِلَى وَصِيَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم الَّتِي عَلَيْهَا خَاتَمُهُ فَلْيَقْرَأ قَوْلُهُ تَعَالَى: (قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ) – إلى قوله – (وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا..) ( )الآية.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang cicin beliau tertera di atas (wasiat) itu, hendaknya ia membaca firman Allah ta’ala: “Katakanlah (Muhammad), ‘Kemarilah kalian, aku bacakan hal-hal yang Rabb kalian haramkan terhadap kalian…” sampai firman-Nya: “Dan sungguh (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus.”

………………

Atsar ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abwaabu Tafsiir Al-Qur’aan, (8/230) dan ia berkata, “hadits ini hasan Gharib” dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (no.1208) dan Al-Kabiir (10020) dengan lafazh: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأ صَحِيفَة مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم…إلخ .

Penjelasan Lafazh:

وَصِيَّةِ: adalah perkara yang ditekankan dan ditetapkan.[49]

الَّتِي عَلَيْهَا خَاتَمُهُ : yang diatasnya ada cincinya, yang dimaksud di sini ialah cap stempel atau pengesahan.[50]

Biografi Ibnu Mas’ud:

Beliau radhiyallahu ‘anhu adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil  bin Habib Al-Hudzali, kun-yah-nya ialah Abu Abdirrahman. Beliau adalah seorang sahabat yang mulia dari kalangan orang pertama yang masuk Islam dan beliau termasuk sahabat yang ikut perang Badar, Uhud, Khandaq, dan bai’at Ridhwan, salah seorang ulama besar sahabat. Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kemudian mengangkatnya sebagai gubernur Kuffah. Beliau wafat pada tahun 32 H.[51]

Makna Atsar secara global:[52]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingatkan bahwa jikalau hendak berwasiat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berwasiat kecuali dengan hal-hal yang telah Allah ta’ala wasiatkan. Allah telah mewasiatkan apa saja yang disebutkan dalam keseluruhan ayat di atas karena Allah ta’ala menutup setiap ayat dengan firman-Nya: “Demikianlah Dia mewasiatkannya kepada kalian” yakni Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan hal tersebut tatkala Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan, “Sungguh kerugian yang sangat jelek adalah kalau kita terhalangi dari penulisan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita.”  Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingatkan mereka bahwa Al-Qur’an di sisi mereka sudah mencukupi karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidaklah berwasiat kecuali dengan apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an.

Hubungan antara Atsar ini dan Bab:[53]

Atsar ini menerangkan bahwa penyebutan dalam ayat-ayat sebagaimana hal itu merupakan wasiat Allah, dan juga merupakan wasiat Rasul-Nya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berwasiat kecuali dengan segala hal yang Allah wasiatkan.

Faidah Atsar:[54]

1. Pentingnya sepuluh wasiat tersebut (sebagaimana telah lalu penjelasannya)

2. Bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat dengan segala sesuatu yang Allah wasiatkan maka setiap wasiat Allah juga merupakan wasiat Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Kedalaman ilmu dan ketelitian pemahaman para sahabat terhadap Kitabullah (Al-Qur’an).

—oOo—

وعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِي: “يَا مُعَاذُ أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ؟” فَقُلْتُ: اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ. قَالَ: “حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً” فَقُلْتُ: يَا رَسُولُ الله أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: “لَا تُبَشِّرُهُمْ فَيَتَّكِلُوا” أخرجاه في الصحيحين.

“Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: aku pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai, lalu beliau bersabda kepadaku: ‘Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah terhadap hamba dan hak para hamba atas Allah?’

Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui’

Beliau pun bersabda: ‘Hak Allah terhadap para hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengazab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.’  Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?, Beliau menjawab: ‘Janganlah engkau menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka (karena) nanti mereka akan bersikap menyandarkan diri.”

………………

Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 2856) dan Muslim (no. 30) dan dalam suatu riwayat dikatakan, “Mu’adz mengabarkan hal tersebut menjelang kematiannya karena takut dosa.” (ini) diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 128) dan Muslim (no. 32).

Penjelasan Lafazh:[55]

رَدِيْفَ : membonceng; الرَّدِيْفُ adalah orang yang anda bawa di belakang anda di atas kendaraan.

عَلَى حِمَارٍ : di atas keledai; artinya keledai yang jinak, karena keledai liar tidak dapat dikendarai.

أَتَدْرِيْ : Apakah kamu tahu?

حَقُّ اللهِ : hak Allah; yaitu apa-apa yang menjadi hak Allah dan dijadikan kewajiban bagi para hamba.

حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ : hak hamba atas Allah; yaitu apa-apa yang telah Allah wajibkan atas diri-Nya sebagai keutamaan dan kebaikan dari Allah.

أُبَشِّرُ : maknanya ialah aku mengabarkan hal tersebut agar manusia merasa senang mendengarnya.

فَيَتَّكِلُوا : maknanya ialah bersandar kepada hal tersebut dan meninggalkan berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shalih.

Biografi Mu’adz bin Jabal:[56]

Beliau adalah Mu’adz bin Jabal bin Amru bin Aus al-Anshari Al-Khazraji, kun-yah beliau adalah Abu Abdirrahman. Beliau adalah seorang sahabat yang tersohor, salah seorang sahabat yang utama, beliau hadir dalam perang Badar dan yang sesudahnya, beliau adalah rujukan dalam ilmu, hukum dan Al-Qur’an. Beliau pun pernah diangkat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin bagi penduduk Makkah pada waktu penaklukan kota Makkah untuk mengajarkan agama kepada mereka, kemudian diutus ke Yaman sebagai hakim dan untuk mengajarkan agama, beliau meninggal di Syam pada tahun 18 H dalam usia 38 tahun.

Makna Hadits secara Global:[57]

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kewajiban dan keutamaan bertauhid bagi para hamba. Maka beliau menyampaikan hal itu dengan bentuk pertanyaan supaya hal itu lebih kukuh meresap di dalam jiwa dan lebih maksimal untuk sampai pada pemahaman orang yang diajari, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan Tauhid, Mu’adz meminta izin untuk mengabarkan hal itu kepada manusia agar mereka gembira karena kabar tersebut, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebu karena khawatir bila orang-orang akan bersandar kepada hal itu sehingga meremehkan amal shalih.

Hubungan antara Hadits dan Bab:[58]

Hadits diatas menjelaskan makna tauhid yaitu beribadah hanya kepada Allah dan tidak berbuat syirik sedikitpun terhadap-Nya.

Faidah Hadits:[59]

1. Sifat rendah hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengendarai keledai dan membonceng seseorang di atas keledai tersebut, hal ini berbeda dengan keadaan orang-orang yang menyombongkan diri.

2. Bolehnya berboncengan di atas kendaaran jika kendaraannya mampu.

3. Pengajaran dengan metode Tanya-jawab.

4. Seseorang yang ditanya tetapi tidak tahu, hendaknya mengatakan, ‘Allahu a’lam’

5. Mengenal hak Allah yang diwajibkan kepada para hamba yaitu agar mereka menyembah hanya kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

6. Bahwasanya barangsiapa yang tidak menjauhi kesyirikan berarti hakikatnya dia belum menyembah Allah, meskipun yang tampak adalah ia menyembah Allah.

7. Keutamaan tauhid dan keutamaan orang yang berpegang teguh dengan tauhid.

8. Tafsir Tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan terhadap-Nya.

9. Disukai memberi kabar gembira kepada setiap muslim dengan hal-hal yang menggembirakannya.

10. Sikap beradab seorang murid kepada guru.

—oOo—

Alhamdulillah, artikel selesai disusun pada 18 Ramadhan 1434 H / 27 Juli 2013 di kota Tangerang Selatan.
Penyusun: Yudha Abdul Ghani
Artikel: https://khazanahilmublog.wordpress.com/

 

Referensi:

1)      Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, Al-‘Allamah Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh, cet.1, Darussalam, Riyadh, th. 1421 H / 2000 M.

2)      Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid, Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet.1, Darul ‘Ashimah, th.1415 H.

3)      Syarhu Tsalaatsatil Ushuul, Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet.2, Daar Ats-Tsurayya, th. 1426 H / 2005 M.

4)      Al-Mulakhkhash Fii Syarhi Kitaabit Tauhiid, Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan, cet.1, Darul ‘Ashimah, th. 1422 H / 2001 M.

5)      Al-‘Ubuudiyyah, Syaikhu Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq: ‘Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi, cet.3, Daar Ashaalah-Isma’iliyyah, th.1419 H / 1999 M.

 

_______________________

Footnote:

  1. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9).
  2. Lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.18).
  3. Lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.18), dan Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.19).
  4. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/5), Syarhu Tsalaatsatil Ushuul (hlm.39) dan Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9).
  5. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/20)
  6. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9).
  7. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/20)
  8. Ibid
  9. Ibid, (1/19)
  10. Ibid
  11. Lihat: Syarhu Tsalaatsatil Ushuul (hlm. 38).
  12. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/20)
  13. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9)
  14. Lihat: Al-‘Ubuudiyyah (hlm. 19) dan Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9)
  15. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/10)
  16. Lihat: Syarhu Tsalaatsatil Ushuul (hlm. 38-39).
  17. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9)
  18. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.9-10)
  19. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.10)
  20. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/21)
  21. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.11)
  22. Ibid
  23. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/22)
  24. Ibid dan Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.11)
  25. Lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.20), Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/23) dan Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.11)
  26. Kedua atsar ini diriwayatkan  oleh Ibnu Abi Hatim, lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.20)
  27. Lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.20) dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/23)
  28. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.11)
  29. Ibid
  30. Ibid, (hlm.11-12)
  31. Ibid, (hlm.13)
  32. Ibid
  33. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/29)
  34. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.13)
  35. Ibid
  36. Ibid (hlm. 14)
  37. Ibid (hlm. 15)
  38. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/30)
  39. Ibid dan lihat juga Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.15)
  40. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.15)
  41. Ibid
  42. Ibid
  43. Ibid (hlm.16), Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.25), dan Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/32)
  44. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.16) dan Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.25)
  45. Lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.25)
  46. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.16-18)
  47. Ibid (hlm.18)
  48. Ibid
  49. Ibid (hlm.19)
  50. Lihat: Al-Qaulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhiid (1/40)
  51. Lihat: Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.29) dan Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.19)
  52. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.19-20)
  53. Ibid (hlm.20)
  54. Ibid
  55. Ibid (hlm. 21-22)
  56. Ibid (hlm.21) dan Fathul Majiid Syarhi Kitaabit Tauhiid, (hlm.30)
  57. Lihat: Al-Mulakhkhash fii Syarhi Kitaabit Tauhiid (hlm.22)
  58. Ibid

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: