khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Idul Fitri » Kapan Takbiran & Lafazh Takbir yang benar

Kapan Takbiran & Lafazh Takbir yang benar


Alhamdulillah shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya serta para shahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari Kiamat, pada kesempatan kali ini di mana alhamdulillah kita sudah mendekati waktu Idul Fitri 1434 H yang insya Allah malam ini pemerintah akan mengadakan sidang itsbat Syawal 1434 H dalam menentukan hari Idul Fitri, sehubungan dengan Idul Fitri yang sudah dekat ini maka di sini kami hendak menjelaskan sedikit wacana tentang Kapan Takbiran dan Lafazh Takbiran yang benar sehingga dapat dipetik faidah dari artikel ini.

  • Kapan Takbiran ?

Mengenai Kapan dimulainya takbir, hal ini terdapat perbedaan pendapat dan sebagian ulama berpendapat berdasarkan lahiriyah ayat berikut:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 185)

Diantaranya ialah Madzhab Syafi’i yang memulai takbir sejak malam hari sebagaimana dinukil oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah:

واختلف الناس في حده ، فقال الشافعي : روي عن سعيد ابن المسيب وعروة وأبي سلمة أنهم كانوا يكبرون ليلة الفطر ويحمدون ، قال : وتشبه ليلة النحر بها

Dan orang-orang berbeda pendapat mengenai batasan membaca takbir,
maka imam syafi’i rahimahullah berkata, ” diriwayatkan dari Said ibnul Musayyab dan Urwah, dan Abi Salamah sesungguhnya mereka membaca takbir pada malam fitri dan juga mereka membaca tahmid, Imam syafi’i rahimahullah berkata, ” dan disamakan dengan malam fitri yaitu malamnya nahr (penyembelihan qurban). [Al-Jaami’ Li-Ahkaami al-Qur’an (2/306), Imam Al-Qurthubi, cet.II, Daar ‘Alim al-Kutub, Riyadh]

Dan sebagian ulama berpendapat dari pagi hari ketika hendak berangkat shalat Ied sampai ke tempat pelaksanaannya, hal ini berdasarkan hadits berikut:

كان يخرج يوم الفطر فيُكَبِّرُ حتى يأتي المصلى و حتى يقضي الصلاة فإذا قضى الصلاة قطع التكبير – رواه ابن أبي شيبة في المصنف والمحاملي في كتاب الصلاة العيدين بإسناد صحيح  لكنه مرسلٌ، لكن له شواهدَ يتقوى بها، انظرها في سلسلة الأحاديث الصحيحة (170) انظر أحكام العيدين في السنة المطهرة للشيخ علي حسن الحلبي (27).سشء

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat menunaikan shalat pada hari raya Ied, lalu beliau bertakbir hingga tiba di tempat pelaksanaan shalat, bahkan hingga saat shalat akan dilaksanakan, kemudian jika shalat akan dilaksanakan beliau pun menghentikan bacaan takbir.” [HR. Ibni Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf dan al-Mahamili dalam kitab Shalaatul ‘Idain dengan sanad yang shahih.]

Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullahu ta’ala berkata:

Adapun permulaan takbir pada hari raya Ied adalah pada waktu berangkat ke tempat pelaksanaan shalat (tanah lapangan). [Ahkaamul ‘Idain (hlm.27) lihat footnotenya]

Dengan demikian bertakbir di malam hari atau pun dimulai di pagi hari ketika hendak berangkat keduanya memiliki landasan sehingga tidak mengapa apabila hendak bertakbir di malam hari atau pun di pagi hari ketika hendak berangkat shalat Ied, namun apabila takbir di malam hari dikatakan bid’ah maka hal ini perlu bukti yang kuat, karena saya sendiri pun tidak menemukan perkataan Syaikh ‘Ali yang membid’ahkan takbir di malam hari hanya saja beliau menekankan dalam kitabnya dimulai takbir di pagi hari hendak shalat Ied.

Namun hal yang perlu diingat adalah bahwa bertakbir jama’ah secara bersamaan dengan satu suara sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang, hal demikian itu tidaklah disyariatkan secara bersama-sama, adapun yang saya temukan secara bersama-sama yang dipimpin oleh imam adalah ketika Imam sudah berada di mimbar (tempat shalat Ied). Hal ini berdasarkan:

ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺻﻤﺘﻮﺍ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻛﺒﺮﻭﺍ ، ﻭﻻ ﻳﻜﺒﺮﻭﻥ ﺇﺫﺍ ﺟﺎﺀ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺇﻻ ﺑﺘﻜﺒﻴﺮﻩ

Apabila Imam telah datang maka diamlah, dan apabila imam bertakbir maka bertakbirlah, dan janganlah bertakbir jika imam telah tiba kecuali dimulai dengan takbirnya imam. [Tafsiir Ath-Thabari,  (1 / 222), tahqiq: Abdullah bin Abdil Muhsin At-Turki]

Dengan demikian apabila hendak bertakbir atau istilah di negeri Indonesia “Takbiran” cukuplah bertakbir sendiri-sendiri, bisa diawali di malam hari atau pun di pagi hari ketika di perjalanan hendak shalat Ied sampai tempat pelaksanannya, Wallahu a’lam.

  • Lafazh Takbir

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah berkata:

Sebatas pengetahuan saya (Syaikh Ali tidak ada satu hadits Nabi pun yang shahih dalam menjelaskan kaifaiyat (bagaimana caranya) takbir, akan tetapi ada sebagian riwayat dari sebagian Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya ialah:

  • Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau pernah mengucapkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada ilah yang haq disembah kecuali hanya Allah semata, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji hanya bagi Allah. [HR. Ibnu Abi Syaibah (2/168) dengan sanad yang shahih – Ahkaamul ‘Idain (30) ‘Ali Hasan Al-Halabi]

  • Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau pernah mengucapkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji hanya bagi Allah, Allah Mahabesar lagi Maha-agung. Allah Mahabesar atas petunjuk yang telah diberikan kepada kita. [HR. Al-Baihaqi (3/315) dengan sanad yang shahih – Ahkaamul ‘Idain (30) ‘Ali Hasan Al-Halabi]

  • Dari Salman al-Khair radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

كَبِّرُوْا اللهَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Agungkanlah Allah dengan menyebut: Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya.  [HR. Al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan al-Kubraa (3/316) dengan sanad yang shahih – Ahkaamul ‘Idain (30-31) ‘Ali Hasan Al-Halabi]

Adapun kebanyakan orang awam yang menyalahi dzikir yang bersumber dari kaum salaf (para shahabat dan imam yang mengikutinya) yaitu dengan membaca dzikir-dzikir lain atau melakukan penambahan serta membuat lafazh baru yang tidak memiliki dasar sama sekali maka hal ini tidaklah bisa dijadikan landasan hukum. Bahkan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah pernah berkata:

وقد أُحدث في هذا الزمان زيادةٌ في ذلك لا أصل له

“Pada zaman ini (zamannya) telah terjadi penambahan dalam hal takbir yang tidak ada landasannya” [Fathul Baari (2/536) Al-Hafizh Ibnu Hajar]

Dengan demikian kita sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah mencukupkan diri dengan riwayat yang terdapat dari para shahabat tanpa menambah-nambahkan dengan dzikir-dizkir yang lain. Allahu a’lam bish-shawwab.

Penyusun: Yudha Abdul Ghani
Artikel: https://khazanahilmublog.wordpress.com/

 


Artikel Terkait:


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: