khazanah Ilmu Blog

Beranda » Aprime » Sejarah & Kisah » Kisah Ashabul Ukhdud

Kisah Ashabul Ukhdud


ashhabul ukhdud

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib (Ar-Rumi) radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian, dia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku sudah dekat, Karena itu utuslah kepadaku seorang anak muda biar ku ajarkan kepadanya sihir.”

Maka diutuslah seorang pemuda yang akhirnya belajar sihir kepadanya, ketika dalam perjalanan menuju rumah tukang sihir dari rumah raja dia melewati rumah seorang rahib (pendeta). Pemuda itu mendatangi sang rahib dan mendengarkan pembicaraannya, sang pemuda begitu kagum dengan perkataan rahib itu, setiap kali dia akan ke rumah tukang sihir ia mampir terlebih dahulu ke rumah rahib, untuk berbincang-bincang.

Suatu ketika, begitu dia sampai di rumah tukang sihir –karena terlambat– serta merta dia dipukul. Kemudian dia mengadukan kepada rahib. Sang rahib berkata, “Jika engkau ditanya sebab keterlambatanmu dan takut dipukul tukang sihir, katakana saja padanya, ‘Aku terlambat karena urusan keluargaku.’ Dan jika kamu khawatir dengan keluargamu, maka katakanlah, ‘Aku terlambat karena belajar dengan tukang sihir.

Suatu ketika dia menyaksikan binatang besar yang menakutkan dan menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak bisa lewat, maka sang pemuda berkata, “Saat ini aku akan mengetahui apakah perintah tukang sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib.” Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata,

اللًّهمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبّ إِلَيكَ مِن أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمضِيَ النَّاسُ

“Ya Allah, jika perintah rahib lebih Engkau cintai dan ridhai daripada tukang sihir maka matikanlah binatang ini, sehingga manusia dapat melewati jalan ini.”

Lalu dia melemparkannya dan binatang itu pun mati, maka dia beritahukan hal itu kepada rahib. Sang rahib pun berkata, “Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku., telah sampai suatu tingkatanmu sebagaimana yang aku saksikan, tapi ingat kelak engkau akan diuji. Pada saat engkau diuji, ketika itu jangan tunjukkan siapa diriku dan keberadaanku.’

Selanjutnya pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta, terluka dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya.

Suatu ketika seorang pejabat raja yang buta mendengar tentang pemuda ini maka dia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata,

مَا هَهُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي

“Semua yang ada ini adalah milikmu jikalau engkau dapat menyembuhkan penyakitku”

Pemuda itu pun berkata,

إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللهِ دَعْوَتُ اللهَ فَشَفَاكَ

“Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, akan tetapi yang menyembuhkan adalah Allah ta’ala maka apabila anda beriman kepada Allah aku akan berdoa kepada-Nya, -insya Allah- Dia akan menyembuhkanmu”

Dia pun beriman kepada Allah dan dia benar-benar sembuh, maka dia pun datang menghadap raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala, sang Raja bertanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” dia menjawab, “Rabbku” Raja bertanya, “Apakah engkau mempunyai Rabb selain aku?” dia menjawab, “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah” maka sang raja pun terus menyiksanya sehingga akhirnya dia menunjukkan kepada seorang pemuda yang mengobatinya. Pemuda itu pun didatangkan, sang raja berkata, “Wahai ankku, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta, luka berat, dan berbagai penyakit lainnya. Sang pemuda itu pun mengelak, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, akan tetapi yang menyembuhkan adalah Allah.”

Maka sang raja pun menyiksa pemuda tersebut tanpa henti, serhingga dengan terpaksa dia memberitahukan tentang rahib. Kemudian sang rahib didatangkan, dan raja berkata, “Kembalilah kepada ajaran agamamu semula! Namun rahib itu menolak. Lalu raja meminta ajudannya untuk mengambil gergaji, kemudian gergaji itu diletakkan di tengah-tengah kepalanya, dan kepala rahib pun terbelah menjadi dua.

Kemudian pejabat kerajaan yang dulu buta itu dipanggil agar menghadap raja lalu dikatakan, “Kembalilah kepada agamamu semula!” ia pun menolak. Lalu di tengah kepalanya diletakkan gergaji dan terbelah menjadi dua.

Tiba giliran sang pemuda, kepadanya juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia pun menolak. Lalu sang raja menyerahkannya kepada beberapa orang. Sang raja berkata, ‘Bawalah ia ke gunung sana, dan sesampainya kalian di puncak gunung, kalau ia mau kembali kepada agamanya semula, maka lepaskanlah, tetapi jika tidak maka lemparkanlah ke dalam jurang.’

Mereka pun berangkat dengan membawa pemuda tersebut, ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdoa:

اللّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

“Ya Allah lindungilah aku dari (kejahatan) mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”

Tiba-tiba gunung itu berguncang hebat terhadap mereka, sehingga mereka tergelincir dan selamatlah sang pemuda hingga kemudian dia pergi menemui raja. Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu? Pemuda itu menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka.’

Sang raja kembali mengirimnya dengan beberapa pengawal dalam sebuah perahu kecil. Raja berkata, ‘Jika kalian berada di tengah lautan, biarkan dia jika mau kembali kepada agama semula, jika tidak lemparkanlah ia ke dalam lautan. Kemudian mereka berangkat dan sesampainya di laut sang pemuda berdoa:

اللّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ

“Ya Allah lindungilah aku dari (kejahatan) mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”

Maka perahu pun terbalik dan mereka semua tenggelam, sementara sang pemuda datang lagi menghadap raja. Sang raja heran dan bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka.’

Lalu sang pemuda berkata, ‘Wahai raja, engkau tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang ku perintahkan.’ Raja pun penasaran, ‘Apa perintahmu?’ Sang pemuda berkata, ‘Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku pada sebatang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari sarung panahku, dan letakkan di dadaku lalu ucapkanlah:

بِسْمِ اللهِ رَبِّ الغُلَامِ

“Dengan menyebut nama Allah, Rabb sang pemuda (ini).”

Lalu panahlah aku, jika engkau berkenan melaksanakan perintahku berarti engkau berhasil membunuhku.

Maka raja pun mengumpulkan orang-orang di sebuah padang yang luas, dan menyalibnya pada sebatang pohon, dan mengambil panah dari sarung panahnya, kemudian meletakkannya di dadanya lalu mengucapkan: بِسْمِ اللهِ رَبِّ الغُلَامِ

“Dengan menyebut nama Allah, Rabb sang pemuda (ini).”

Kemudian memanahnya tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang terkena panah lalu meninggal. Melihat hal ini maka orang-orang pun berkata, “Kami beriman kepada Rabb sang pemuda (ini).” Kami beriman kepada Rabb pemuda ini, kami beriman kepada Rabb pemuda ini.”

Lalu seseorang datang kepada raja dan berkata, ‘Tahukah anda, apa yang selama ini anda takutkan kini telah terjadi, semua orang telah beriman.’

Kemudian raja memerintahkan untuk membuat parit-parti (ukhdud) di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Sang raja bertitah, ‘Siapa yang menolak kembali kepada agamanya semula bakarlah atau lemparkanlah ke dalam parit.’

Para anak buah raja pun melaksanakan titah raja. Hingga kemudian tiba giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya ibu tersebut enggan untuk terjun ke dalam bara api. Tiba-tiba sang bayi berkata kepada ibunya;

يَا أُمّهِ اصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الحَقِّ

“Wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam jalan yang benar.”

[HR. Muslim: Kitab Zuhud war Raqaa-iq, Bab Qashah Ash-habil Ukhdud wa Saahir wa Raahib wal Ghulam, (hlm. 1322-1326, no. 3005 (73)) dan Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan An-Nasaa`i, lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/360-361), cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah]

 

—oOo—

Ditulis ulang oleh: Yudha Abdul Ghani

Artikel: https://khazanahilmublog.wordpress.com

 


2 Komentar

  1. Intan mengatakan:

    Terimakasih penjelasan kisah Ashabul Ukhdud ini.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: