khazanah Ilmu Blog

Beranda » Kajian: Bid'ah » Penjelasan Ringkas Hadits Al-Arba’iin An-Nawawiyyah No. 5

Penjelasan Ringkas Hadits Al-Arba’iin An-Nawawiyyah No. 5


Hadits Arbain 5

  • MUQADDIMAH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Amma Ba’du

Kajian hadits Al-Arba’iin An-Nawawi bukanlah suatu perkara yang jarang dikaji dikalangan kaum muslimin sebab ke-masyhuran dan keilmuan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah betapa terasa sekali manfaatnya bagi kaum muslimin namun semoga kiranya sedikit sumbangsih dari kami ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan antum sekalian yang insya Allah tak lupa kami pun merujuk kepada para ulama rabbani yang telah mendahului kita dalam mengkaji hadits ini. Semoga niat kami ini dalam membahas kajian hadits ini dibersihkan dari sifat riya, ujub dan sum’ah sehingga kami hanya mengharapkan ridha-Nya semata. Aamiin.

  • MATAN HADITS AL-ARBA’IIN AN-NAWAWIYYAH NO. 5

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. [Riwayat Bukhari dan Muslim], dan dalam riwayat Muslim disebutkan: Barangsiapa yang melakukan suatu amal (ibadah) yang tidak sesuai dengan urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak.

  • TAKHRIJ HADITS:

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahih-nya (3/241: 2697) dan Imam Muslim dalam shahih-nya (5/132: 1718, 17, dan 18) dan dikeluarkan pula oleh Imam Ahmad (6/73,146,240, 256, dan 270, Imam Abu Dawud (4606), Imam Ibnu Majah (14), Imam Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (52-53), Abu Ya’la (4594), Ibnu Hibban (26-27), Ad-Daruquthni (4/224-225 dan 227) Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/173), Al-Baihaqi (1/119), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (103) dari jalan Al-Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah.[1]

  • KEUTAMAAN HADIST:

1. Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah berkata:

فيه دليل على أن العبادت من الغسل والوضوء والصوم والصلاة اذا فعلت خلاف الشرع تكون مردودة على فاعلها

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa semua bentuk ibadah baik mandi, wudhu, puasa, dan shalat, apabila dikerjakan tidak sesuai dengan ketetapan syariat (Islam) maka amalan ibadah itu tertolak dari pelakunya” [2]

هذا الحديث مما ينبغي حفظُه واستعمالُه في ابطال المنكرات وإشاعة الاستدلال به

“Hadits ini seharusnya dihafal dan digunakan sebagai dalil untuk menolak kemungkaran dan upaya penyebaran istidlal (pendalilan) dengannya”[3]

2. Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied rahimahullah berkata:

هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الدين وهو من جوامع الكلِم التي أوتيها المصطفى صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ كل بدعة وكل مخترع

“Hadits ini merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah Agama, dan merupakan Jawaami’ul Kalim(kalimat yang ringkas dan mudah tapi padat makna) yang diberikan kepada al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits ini pun menunjukkan dengan jelas dalam tertolaknya setiap bid’ah dan perkara-perkara baru (dalam agama).”[4]

3. Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:

هذا الحديث أصلٌ عظيم من أصول الإسلام وهو كالميزان للأعمال في ظاهرها كما أنّ حديث؛ الأعمال بالنيَّات – ميزان في باطنِها فكما أن كل عمل لا يراد به وجه الله تعالى فليس لعامله فيه ثواب، فكذلك كلُّ عمل لا يكون عليه أمر الله ورسوله فهو مردودٌ على عامله، وكل من أحدث في الدين ما لم يأذن به الله ورسوله فليس من الدين في شيء

“Hadits ini adalah landasan agung dari prinsip-prinsip Islam dan merupakan mizan (barometer) amal perbuatan yang nampak, sebagaimana hadits: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan dengan niat” adalah mizan (barometer) dalam amal yang tidak nampak (batin), sebagaimana setiap amal yang tidak mengharapkan wajah Allah ta’ala maka pelakunya tidak mendapatkan pahala, begitu pula setiap amal yang tidak terdapat perintah padanya dari Allah dan Rasul-Nya maka amal tersebut tertolak dari pelakunya. Dan setiap siapa saja yang melakukan mengarang perkara-perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka bukanlah termasuk perkara agama sedikitpun.[5]

4. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata:

هذا الحديث معدود من أصول الإسلام و قاعدة من قواعده، فإن معناه؛ من اخترعَ من الدين ما لايشهدُ له أصل من أصوله فلا يُلتَفَتُ إليه

“Hadits ini termasuk dari Landasan (inti ajaran) Islam dan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah ajaran Islam, karena maknanya ialah: Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam Agama Islam yang tidak memiliki asal dari Ushuul (pokok-pokok) Islam maka hal itu tidak diterima (denied)”

5. Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata:

هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الإسلام وهو من جوامع الكلِمه صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ وإبطال كل  البدع والمحدثات

“Hadits ini adalah kaidah yang agung dari kaidah-kaidah Islam dan hadits ini merupakan jawaami’ul kalim yang dengan jelas menolak dan membatalkan setiap bid’ah dan al-muhdatsat (mengada-adakan perkara baru dalam agama)”[7]

6. Faqihuz Zaman Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

هذا الحديث أصلٌ من أصول الإسلام دل عليه قوله تعالى؛ وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ

“Hadits ini adalah landasan dari prinsip-prinsip Islam hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.'(QS. Al-An’am: 153)”[8]

  • PENJELASAN (SYARAH) HADITS:

1. مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ [Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak]

—> kalimat مَنْ أَحْدَثَ: maknanya ialah membuat sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada

—> kalimat فِي أَمْرِنَا: maknanya ialah dalam Agama kami dan Syariat kami

—> kalimat مَا لَيْسَ مِنْهُ: maknanya ialah apa yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perbuatan, ucapan, atau keyakinan sebab huruf مَا ini menujukkan keumuman. [9]

—> kalimat فَهُوَ  رَدٌّ: kata (رَدٌّ) menurut para ulama maknanya ialah (مردود) tertolak sehingga dengan demikian amalnya itu tertolak meskipun dia melakukannya dengan keikhlasan[10] sebab ikhlas saja tidak mencukupi dalam syarat sahnya Ibadah karena ia pun harus sesuai dengan As-Sunnah dan hadits inilah landasannya apabila kita hendak melakukan sebuah amalan ibadah harus sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian Makna hadits ini adalah barangsiapa yang amal perbuatannya keluar dari (koridor) Syariat dan tidak terikat dengannya maka amalnya itu tertolak.”[11]

2. مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ [Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan urusan kami maka amalannya itu tertolak]

Kandungan dalam hadits ini menunjukkan dengan tegas dalam menyatakan keharusan meninggalkan setiap perkara bid’ah baik yang dia rekayasa sendiri atau pun mengikuti orang lain[12] karena Riwayat ini lebih umum dari sebelumnya sehingga barangsiapa pun yang melakuan sebuah amal perbuatan baik yang berkaitan dengan ibadah, mu’amalah, atau lainnya yang perkara itu tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya maka amalannya itu tertolak bagi pelakunya.[13] Sehingga barangsiapa yang berbuat bid’ah dalam urusan agama yang tidak sesuai dengan syariat maka dia akan menanggung dosanya, sedangkan amalannya tertolak[14] dan dia terkena ancaman dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَمَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلَا صَرْفٌ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru (bid’ah) atau melindungi orang yang membuat perkara baru maka ia akan mendapatkan laknat dari Allah, para Malaikat dan seluruh manusia dan tidak diterima .”[15]

—> Kalimat مَنْ عَمِلَ عَمَلاً : mengandung arti yang umum karena kata amalan disebut dalam bentuk nakirah, karena beliau tidak bersabda: من عمل كذا أو كذا (barangsiapa yang melakukan amalan begini atau begitu). [16]

—> Kalimat لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا : yang dimaksud dengan “أَمْرُنَا” dalam hadits ini adalah bentuk tunggal dari kata “الأمور” (perkara-perkara) yaitu apa-apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya berada di atasnya.[17] dan kalimat ini pun mengandung isyarat bahwa amalan-amalan manusia harus seluruhnya harus berjalan di bawah hukum-hukum syariat dan menjadikan hukum-hukum syariat sebagai hakim baginya dalam perintah dan larangannya. Sehingga barangsiapa yang amal perbuatannya berjalan di bawah hukum-hukum syariat dan selaras dengannya maka amalnya tersebut diterima, dan barangsiapa yang amal perbuatannya keluar dari hal tersebut maka amalnya tersebut tertolak.[18]

—> kalimat فَهُوَ  رَدٌّ : hal ini sudah dijelaskan sebelumnya jadi tidak perlu diulangi di sini.

  • KLASIFIKASI AMAL PERBUATAN

Amal perbuatan terbagi ke dalam dua bagian[19]:

1. Ibadah

2. Muamalah

Adapun amal ibadah apabila keluar dari hukum Allah dan Rasul-Nya secara menyeluruh maka amalnya itu tertolak bagi pelakunya dan si pelaku masuk dalam (ancaman) firman Allah ta’ala:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.” (QS Asy-Syuura : 21)

Sehingga dengan demikian barangsiapa yang bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan amal perbuatan yang Allah dan Rasul-Nya tidak menjadikannya sebagai (bentuk) taqarrub kepada Allah, maka amalannya itu bathil lagi tertolak bagi pelakunya.[20] Begitu pula dengan orang yang mengerjakan amal perbuatan yang pada asalnya masyru’ (disyariatkan) dan qurbah (merupakan bentuk taqarrub) kemudian dimasukan di dalam hal tersebut sesuatu yang tidak masyru’ atau tidak mengerjakan sesuatu yang disyariatkan maka hal ini pun bertentangan dengan syariat.[21] Dan apabila seseorang telah menambahkan dalam amalan yang masyru’ dengan suatu amalan yang tidak disyariatkan maka penambahannya itu mardud (tertolak) bagi si pelakunya, artinya penambahan (yang dia lakukan) itu bukanlah merupakan taqarrub dan pelakunya tidak mendapatkan pahala karenanya.[22] Oleh karenanya dalam beribadah haruslah secara tauqifiyyah yakni:

لا يثبت و لا يعمل إلا بدليل من القرآن و السنة

(Tidaklah ditetapkan dan diamalkan kecuali jika berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah)

قال الإمام ابن قيم الجوزية رحمه الله؛

ومعلوم أنه لا حرام إلا ما حرمه الله ورسوله ، ولا تأثيم إلا ما أثم الله ورسوله به فاعله ، كما أنه لا واجب إلا ما أوجبه الله ، ولا حرام إلا ما حرمه الله ، ولا دين إلا ما شرعه اللهُ ، فالأصل في العبادات البُطْلَانُ حتَّى يقومَ دليلٌ على الأمر ، والأصل في العقود والمعاملات الصحة حتى يقوم دليل على البطلان والتحريم . إعلام الموقعين1/344 دار الكتب العلمية 1411هـ/1991م

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan:

Hal ini telah diketahui bahwa sesungguhnya tidak ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, Dan tidak ada dosa kecuali apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai perbuatan dosa bagi pelakunya, sebagaimana tidak ada kewajiban kecuali yang diwajibkan oleh-Nya dan tidak ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh-Nya, dan Tidak ada Agama kecuali apa yang disyaritkan-Nya, Maka dari itu Pada Asalnya (hukum sesuatu dalam) Ibadah adalah Bathil hingga terdapat dalil yang memerintahkannya, dan pada asalnya (hukum) dalam hal akad serta mu’amalah adalah sah (boleh) kecuali terdapat dalil yang membatalkan dan melarangnya.[23]

Adapun Mu’amalah-mu’amalah seperti jual-beli dan pembatalan jual-beli dan lain sebagainya, apabila di dalam (transaksi)nya terdapat perubahan hukum syar’i, seperti; mengganti hukum zina dengan uang dan lain-lain, maka hal itu tertolak pada asalnya dan kepemilikan tidak berpindah dengan cara seperti itu karena tidak dikenal dalam hukum-hukum Islam.[24] Ringkasnya dalam perkara mu’amalah adalah mustahab (boleh) namun ketika mu’amalah itu dilakukan bertentangan dengan syariat maka mu’amalahnya pun menjadi bathil, seperti contoh: Jual-beli pada asalnya boleh selama transaksinya dilakukan dengan jujur di dalamnya, akan tetapi ketika jual-beli itu dilakukan dengan cara penipuan maka mu’amalahnya ini pun bathil, karena hal tersebut dilarang oleh Syariat. Wallahu a’lam.

Dari sini dapat diketahui dua kaidah yang sangat penting dan bermanfaat yaitu:

1. الأصل في العبادات البُطْلَانُ حتَّى يقومَ دليلٌ على الأمر

Pada Asalnya (hukum sesuatu dalam) Ibadah adalah Bathil hingga terdapat dalil yang memerintahkannya

2. والأصل في العقود والمعاملات الصحة حتى يقوم دليل على البطلان والتحريم

Dan pada asalnya (hukum) dalam hal akad serta mu’amalah adalah sah (boleh) kecuali terdapat dalil yang membatalkan dan melarangnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menuturkan[25]:

‘Atas dasar ini dalam masalah Ibadah kita harus memperhatikan tiga kesimpulan’:

1. Apa yang kita ketahui bahwa Syariat membolehkan suatu ibadah, maka hal itu masyru’ (disyariatkan)

2. Apa yang kita ketahui bahwa Syariat melarangnya, maka ha itu terlarang.

3 Apa yang tidak kita ketahui bahwa suatu hal tidak termasuk ibadah, maka hal itu terlarang.

Adapun dalam masalah mu’amalah dan pelakunya kita pun harus memperhatikan tiga kesimpulan:

1. Apa yang kita ketahui bahwa Syariat membolehkannya maka hal itu mubah (boleh), seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan (daging) keledai liar.[26]

2. Apa yang kita ketahui bahwa Syariat melarangnya, maka hal itu terlarang (contoh: babi haram hukumnya maka memakan atau memperjual-belikannya pun terlarang,-pen)

3. Apa yang tidak kita ketahui ketentuan hukumnya, maka hal itu diperbolehkan sebab asal hukum selain ibadah adalah Ibahah (boleh).

  • DUA RUKUN DITERIMANYA AMAL IBADAH

Para ulama menerangkan bahwa rukun diterimanya amal ibadah seorang hamba itu dua:

1. Dilakukan dengan Ikhlas

2. Dilakukan sesuai dengan As-Sunnah

Hal ini sebagaimana keterangan para ulama, di antaranya ialah:

>> Imam Al-Fudhail bin Iyadh[27] rahimahullah ketika menafsirkan ayat:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Karena Allah hendak menguji kamu, siapakah diantara kamu itu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Beliau berkata (yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah): ” أَخْلَصُهُ وَ أصْوَبُهُ (yang paling ikhlas amalnya dan paling benar amalnya).”

kemudian orang-orang berkata: “Wahai Abu ‘Ali apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlas amalnya dan paling benar amalnya?”

Beliau berkata:

إنَّ العَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُكْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُكْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا

و الخَالِصُ؛ أنْ يَكُونَ لِلَّهِ

والصَّوَابُ؛ أنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ

“Sesungguhnya sebuah amalan apabila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima, begitu pula apabila sebuah amalan yang dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlas maka tidak akan diterima sehingga amal yang pasti diterima itu adalah yang ikhlas dan benar.

Ikhlas adalah: hanya mengharap ridha Allah ta’ala

Benar adalah: dilakukan menurut As-Sunnah.”

>> Al-Hafizh Ibnu Katsir[28] rahimahullah ketika menafsirkan ayat:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.”(QS. Al Kahfi: 110)

—> Firman-Nya  عَمَلًا صَالِحًا (amal yang shalih) adalah مَا كَانَ مُوَافِقًا لِشَرْعِ الله (yang sesuai dengan syariat Allah)

—> Firman-Nya وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya) adalah وهو الذي يُرَادُ بِهِ وَجْهُ الله وحده لا شريك له (itulah amal yang dimaksudkan untuk mengharapkan wajah Allah ta’ala semata yang tiada sekutu bagi-Nya)

Kemudian Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

و هذان ركنا العمل المتقبل، لا بد أن يكون خالصًا لله صوابًا على شرعية رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Kedua hal ini adalah Dua Rukun Amal yang diterima (maqbul) yaitu harus Ikhlas karena Allah dan benar sesuai dengan yang disyariatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”

>> Al-Hafizh Ibnu Rajab[29] rahimahullah berkata:

Sesungguhnya amal ibadah itu dapat sempurna dengan dua hal:

1. Amalan secara zhahir sesuai dengan Sunnah, inilah makna yang dikandung hadits riwayat Aisyah,“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam perkara kami yang tidak berasa darinya maka amalnya itu tertolak”

2. Amalan secara bathin dimaksudkan untuk mengharapkan keridhaan Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana terkandung dalam hadits riwayat Umar bin Khaththab, “Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu (tergantung) dengan niat.”

>> Syaikh ‘Ali Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi[30] hafizhahullah berkata:

أَنَّ حَقِيْقَةَ الدِّين تتمثَّلُ في أمرين؛ أَلاَّ يُعْبَدَ إِلاَّ اللهُ، وأَلاَّ يُعْبَدَ اللهُ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ

“Bahwasanya Hakikat Agama ini terangkum pada dua hal pokok: Hendaklah tidak beribadah kecuali Allah dan hendaklah tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan-Nya”

>> Dengan demikian dapat difahami bahwa suatu amal ibadah tidak sah kecuali terkumpul di dalamnya itu dua syarat yaitu: Ikhlas karena Allah dan Ittiba’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun dalil tentang mutaba’ah (Ittiba’) diambil dari hadits ini diantaranya dan ayat-ayat yang sebelumnya telah dipaparkan.

  • FAIDAH HADITS

Hadits ini dengan jelas dan gamblang memberitahukan kita dalam menolak seluruh perkara-perkara baru dalam agama yang diada-adakan oleh ahli bid’ah yang tidak ada asalnya dari syariat maka perbuatannya itu mardud(tertolak) meskipun ia berniat baik yaitu hendak beribadah hanya saja niat baik itu tidak mencukupi untuk melakukan sebuah ibadah apabila tidak disertai dengan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan ibadah yang pada asalnya disyariatkan akan tetapi dia mengerjakan amalan itu tidak sesuai dengan cara yang diperintahkan oleh syariat atau dalam kata lain dia menginovasi sendiri baik dari sisi waktu, jumlah dan kondisinya maka amalannya itu tertolak berdasarkan hadits riwayat Muslim di atas.

Walhasil kedua hadits ini adalah hujjah bagi ahlussunnah terhadap ahli bid’ah dalam menolak seluruh bid’ah-bid’ah yang mereka ciptakan, karena kedua hadits di atas ini saling melengkapi satu sama lainnya sehingga tidak ada celah bagi mereka yang hendak beribadah kepada Allah dengan kaifiyat (cara) yang selaras dengan hawa nafsu mereka, sebab Ibadah itu tauqifiyah sehingga haram hukumnya bagi kita mengarang jumlah, waktu dan kondisi tertentu dalam peribadahan yang memang pada asalnya masyru’. Wallahu a’lam bish-shawwab

  • KHATIMAH

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

وصلى الله على نبيينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين

بقلم يودا عبد الغني

Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu dan semoga shalawat serta salam terlimpahkan atas Nabi Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya, walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

Penyusun: Yudha Abdul Ghani

Artikel: https://khazanahilmublog.wordpress.com/

Selesai disusun di Tangerang Selatan, hari Ahad, 01 September 2013, – 3.29 AM

Referensi:

1. Syarhu Matan Al-Arba’iin An-Nawawiyyah, Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi, cet. IV, Maktabah Darul Fath.

2. Fathul Baari Bi-Syarhi Shahiih Al-Bukhari, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, cet. Maktabah As-Salafiyah.

3.  Syarhu Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah, Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied, cet. Al-Faishaliyyah.

4. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam fii Syarhi Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il Kalim, Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Tahqiq: Dr. Mahir Yasin Al-Fahl, cet. Daar Ibnu Katsir.

5. Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah, Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Daar Ats-Tsurayaa.

6. ‘Ilmu Ushuulil Bida’ Diraasah Takmiliyyah Muhimmah fii ‘Ilmi Ushuulil Fiqh, Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi, cet. Daar Ar-Rayyah.

7. Al-‘Ubuudiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq: ‘Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi, cet. Daar Al-Ashaalah

8. Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhiim, Al-Hafizh Ibnu Katsir, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah.


Catatan kaki:

1. Takhrij ini dinukil dari kitab Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam fii Syarhi Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il Kalim, (hlm. 155) Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Tahqiq: Dr. Mahir Yasin Al-Fahl, cet. Daar Ibnu Katsir.

2. Syarhu Matan Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 31), Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi

3. Fathul Baari Bi-Syarhi Shahiih Al-Bukhari (5/302-303) Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, cet. Maktabah As-Salafiyah.

4. Syarhu Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah (hlm. 25) Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied, cet. Al-Faishaliyyah

5. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam fii Syarhi Khamsiina Hadiitsan min Jawaami’il Kalim, (hlm. 155) Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali, Tahqiq: Dr. Mahir Yasin Al-Fahl, cet. Daar Ibnu Katsir.

6. Fathul Baari Bi-Syarhi Shahiih Al-Bukhari (5/303).

7. ‘Ilmu Ushuulil Bida’ Diraasah Takmiliyyah Muhimmah fii ‘Ilmi Ushuulil Fiqh (hlm. 27) Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi, cet. Daar Ar-Rayyah.

8. Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 115) Al-‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Daar Ats-Tsurayaa.

9. Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 114) dan ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hlm. 29)

10. Syarhu Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah (hlm. 25) dan Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 114)

11. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam (hlm. 156)

12. Syarhu Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah (hlm. 25)

13. Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 114-115)

14.  Syarhu Matan Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 31)

15. HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Jizyah wal Muwaada’ah, Bab Itsmi Man ‘Aahada Tsumma Ghadara (no. 3178) dari jalan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

16. ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hlm. 29)

17. Ibid (hlm. 27)

18. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam (hlm. 156-157)

19. Ibid (hlm. 157)

20. Ibid

21. Ibid (hlm. 158)

22. Ibid

23. Lihat: http://www.islamweb.net/quran/display_book.php?bk_no=65&ID=&idfrom=741&idto=993&bookid=65&start=220

24. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam (hlm. 160)

25. Syarhu Al-Arba’iin An-Nawawiyyah (hlm. 122-123)

26. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim, kitab as-Shaid wadz Dzabaa-ih wama Yu-kalu minal Hayawaan, bab tahriimu Aklu Lahmi Humuril Insiyyah, (no. 1941 (37)

27. Al-‘Ubuudiyah (hlm. 53) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq: ‘Ali Hasan Abdul Hamid Al-Halabi, cet. Daar Al-Ashaalah dan lihat juga Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam (hlm. 43).

28. Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhiim (5/183), Al-Hafizh Ibnu Katsir, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah.

29. Jaami’ul ‘Uluum Wal Hikam (hlm. 42)

30. ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hlm. 69)


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: