khazanah Ilmu Blog

Rahiq Makhtum_540x720

klik disini untuk membeli buku ini


Kekuasaan Di Hijaz II

Kekuasaan Khuza’ah di Mekkah berlangsung selama tiga ratus tahun. [16] Pada masa kekuasaan mereka, orang-orang Bani Adnan berpencar di Najd, di pinggiran negeri Iraq dan Bahrain. Sementara itu di pinggiran Mekkah ada suku-suku dari Quraisy, yaitu Hulul dan Hurum serta suku-suku lain dari Bani Kinanah. Bani Kinanah sendiri tidak memiliki wewenang sedikitpun untuk menangani Mekkah dan Baitul Haram, hingga muncul Qushay bin Kilab. [17]

Tentang Qushay ini dikisahkan bahwa bapaknya meninggal dunia saat dia masih kecil dalam asuhan ibunya. Lalu dibawa ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki dari Bani Udzrah, yaitu Rabi’ah bin Haram, yang kemudian membawanya ke perbatasan Syam. Setelah Qushay menginjak remaja, dia kembali ke Mekkah yang saat itu jabatan gubernur Mekkah dipegang oleh Hulail bin Hubsyah dari Bani Khuza’ah. Qushay melamar putri Hulail yang bernama Hubba, dan ternyata lamaran tersebut disambut baik olehnya. Dia pun dinikahkan dengan putri Hulail [18] Setelah Hulail meninggal dunia, terjadi peperangan antara Khuza’ah dan Quraisy, yang akhirnya menghantarkan Qushay menjadi pemimpin Mekkah dan menangani urusan Baitul Haram. Ada tiga riwayat yang menjelaskan sebab meletusnya peperangan itu:

  1. Setelah Qushay mempunyai banyak anak dan hartanya melimpah, bersamaan dengan itu Hulail pun meinggal dunia, maka dia merasa bahwa dirinya lebih berhak berkuasa di Mekkah dan menangani urusan Ka’bah daripada Bani Khuza’ah dan Bani Bakar. Sementara itu Quraisy adalah pelopor anak keturunan Ismail. Maka dia melobi beberapa pemuka Quraisy dan Bani Kinanah agar mengusir Bani Khuaza’ah dan Bani Bakar dari Mekkah. Usul ini disambut baik dan mereka pun melakukannya. [19]
  2. Menurut pengakuan Bani Khuza’ah, Hulail telah berwasiat kepada Qushay agar menangani urusan Ka’bah dan Mekkah. [20]
  3. Hulail telah menunjuk putrinya Hubba sebagai orang yang berwenang atas penanganan Ka’bah. Lalu Abu Ghibsyan Al-Khuza’i tampil sebagai orang yang mewakili Hubba. Maka dia pun menjaga Ka’bah. Setelah Hulail meninggal dunia, Qushay memberikan wewenang mengurusi dan menjaga Ka’bah dari Abu Ghibsyan, yang ia tukar dengan satu geriba arak. Tentu saja orang-orang Bani Khuza’ah tidak menerima jual-beli itu. Mereka berusaha menghalangi Qushay agar tidak bisa tampil sebagai pengawas Ka’bah. Qushay mengumpulkan beberapa pemuka Quraisy dan Bani Kinanah untuk mengusir Bani Khuza’ah dari Mekkah dan ternyata mereka menyambut ajakan Qushay tersebut. [21]

Bagaimana pun, setelah Hulail meninggal dunia dan Shufah berbuat sesuka hatinya sendiri, Qushay tampil bersama orang-orang Quraisy dan Kinanah. Bani Khuza’ah dan Bakar siap menghadang di hadapan Qushay. Namun, Qushay lebih dahulu bertindak. Dia menghimpun pasukan untuk memerangi mereka. Kedua belah pihak saling bertemu dan meletus peperangan yang dahsyat di antara mereka. Banyak yang menjadi korban dari tiap-tiap pihak. Kemudian mereka pun sepakat untuk membuat perjanjian damai. Mereka mengangkat Ya’mar bin Auf dari Bani Bakar sebagai hakim untuk urusan perdamaian ini. Maka dia menetapkan bahwa Qushay lebih layak menangani urusan Ka’bah dan berkuasa di Mekkah daripada Bani Khuza’ah. Setiap darah yang tertumpah dari pihaknya, merupakan kesalahan Qushay sendiri dan harus menjadi tanggung jawabnya. Sementara setiap nyawa yang melayang dari Bani Khuza’ah dan Bakar harus mendapat tebusan. Dengan keputusan ini, Qushay berhak menjadi pemimpin di Mekkah dan menangani urusan Ka’bah. Ya’mar pada saat itu dijuluki Asy-Syadzakh.[22] Qushay berkuasa di Mekkah dan menangani urusan Ka’bah pada pertengahan abad kelima masehi, tepatnya pada tahun 440 M.[23]

Dengan kekuasaan yang berada di tangan Qushay ini, Quraisy memiliki kepemimpinan yang utuh dan sebagai pelaksana kekuasaan di Mekkah. Selain itu ia juga menjadi pemimpin agama di Baitul Haram, yang menjadi tujuan kedatangan semua Bangsa Arab dari segala penjuru.

Diantara kebijakan yang diambil oleh Qushay, ia mengumpulkan kaumnya untuk membangun rumah-rumah di Mekkah dan membuat batas-batas menjadi empat bagian diantara kaumnya. Setiap kaum dari Quraisy harus menempati posisi yang telah ditetapkan bagi masing-masing. Dia menetapkan tempat bagi Nas’ah, keturunan Shafwan, Adwan, dan Murrah bin Auf. Dia melihat hal ini sebagai keputusan agama yang tidak bisa diubah lagi.[24]

Diantara peninggalan Qushay, ia membangun Darun Nadwah di sebelah utara Masjid atau Ka’bah. Pintunya langsung berhubungan dengan masjid. Darun Nadwah adalah tempat pertemuan orang-orang Quraisy untuk membicarakan masalah-masalah penting. Bangunan ini memiliki kelebihan tersendiri bagi Quraisy, karena tempat itu bisa mempersatukan orang-orang Quraisy dan sebagai tempat untuk memecahkan berbagai masalah dengan cara yang baik. [25]

Qushay mempunyai beberapa wewenang dalam kekuasaan, yaitu:

  1. Sebagai pemimpin di Darun Nadwah. Di tempat ini para pemimpin Quraisy mengadakan musyawarah untuk memecahkan masalah-masalah penting yang mereka hadapi. Selain itu tempat tersebut berfungsi untuk menikahkan anak-anak putri mereka.
  2. Pemegang panji perang. Tak seorang pun berhak memegang panji perang kecuali ada.
  3. Hijabah atau wewenang menjaga pintu Ka’bah. Tak seorang pun boleh membuka pintu Ka’bah kecuali dia. Dengan demikian dia berhak mengawasi dan menjaganya.
  4. Memberi minum orang-orang yang menunaikan haji. Dia bertanggungjawab mengisi tempat-tempat air bagi orang-orang yang menunaikan haji dan ditambah dengan sedikit kurma atau anggur kering. Semua orang yang datang ke Mekkah bisa minum sepuas-puasnya.
  5. Jamuan bagi orang-orang yang menunaikan haji. Maksudnya, dia menyediakan jamuan yang disajikan bagi orang-orang yang menunaikan haji lewat undangan. Untuk itu Qushay meminta pajak kepada orang-orang Quraisy pada musim haji, yang harus diserahkan kepada Qushay. Dengan pajak yang terkumpul itu dia bisa membuat makanan untuk disajikan kepada mereka, terutama orang-orang yang tidak banyak hartanya dan tidak mempunyai bekal yang memadai.[26]

Semua itu menjadi wewenang Qushay. Sebenarnya Abdu Manaf (anaknya yang kedua) lebih terpandang dan dihormati hidupnya, berbeda dengan kakahnya Abdud Dar yang kurang disukai. Maka Qushay pernah berkata kepadanya, “Aku akan mempertemukan dirimu dengan semua kaum jika mereka menganggapmu lebih terhormat.” Namun akhirnya Qushay menyerahkan kekuasaan kepada Abdud Dar demi kemaslahatan Quraisy. Dia berikan kewenangan untuk mengurus Darun Nadwah, hijabah, panji perang, penyediaan air dan makanan. Qushay tidak menentang dan menyanggah  apapun yang harus dilakukan anaknya Abdud Dar. Kewenangan yang berlaku semasa hidup Qushay dan sepeninggalnya dianggap layaknya agama yang harus diikuti.

Setelah Qushay meninggal dunia, kewenangan ini terus dijalankan anak-anaknya dan tidak ada perselisihan di antara mereka. Tetapi, setelah Abdu Manaf meninggal dunia, kerabatnya dari keturunan pamannya mulai mengusik jabatan-jabatan itu. Karena masalah itu pula Quraisy terbagi menjadi dua kelompok, dan hampir saja mereka saling berperang. Tapi mereka segera berdamai dan sepakat untuk membagi-bagi jabatan tersebut. Akhirnya ditetapkan kewenangan mengurus air minum dan makanan diserahkan kepada keturunan Abdu Manaf, sedangkan urusan Darun Nadwah, panji perang dan hijabah diserahkan kepada keturunan Abdud Dar. Keturunan Abdu Manaf sepakat untuk membuat undian, siapakah yang berhak mendapatkan jabatan tersebut dan akhirnya undian itu jatuh kepada Hasyim bin Abdu Manaf. Dialah yang berwenang menangani penyediaan air minum dan makanan sepanjang hidupnya. Setelah Hasyim meninggal dunia, jabatan tersebut digantikan oleh saudaranya, Al-Muththalib bin Abdu Manaf. Setelah itu dilanjutkan Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, kakek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dilanjutkan anak-anaknya hingga masa Islam dan kewenangan ini ada di tangan Al-Abbas bi Abdul Muththalib.[27]

Setelah itu Quraisy masih mempunyai beberapa jabatan lain, yang dibagi di antara mereka. Dengan demikian, mereka telah membentuk satu pemerintahan kecil, atau lebih tepatnya pemerintahan kecil yang demokratis. Ada pembatasan masa jabatan dan bentuk-bentuk pemerintahan yang mirip dengan system pemerintahan pada zaman sekarang, yang dikenal dengan istilah parlemen dan majelis parlemen. Berikut ini jabatan-jabatan yang dimaksud:

  1. Al-Isar, yaitu penanganan tempat api pada berhala untuk pemberian sumpah. Jabatan ini berada di tangan Bani Jumah.
  2. Tahrijul Anwal, yaitu penanganan korban dan nazar yang dipersembahkan kepada berhala. Jabatan ini juga menangani penyelesaian permusuhan dan persekutuan. Bani Sahm memegangi jabatan ini.
  3. Permusyawaratan, dijabat oleh Bani Asad
  4. Hukuman atau Pembawa Panji Kaum. Jabatan ini diberikan kepada Bani Umayyah
  5. Al-Qubah, yaitu penanganan militer dan pasukan kuda. Urusan ini ditangani oleh Bani Makhzum.
  6. As-Sifarah (kedutaan). Jabatan ini dipegang oleh Bani Adi.[28]

 

 

_________________________________

  1. Yaqut, materi Mekkah.
  2. Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khudhari, 1/35 dan Ibnu Hisyam, 1/117
  3. Ibnu Hisyam, 1/117-118
  4. Ibid
  5. Ibid, 1/188.
  6. Rahmatun lil ‘Alamin, 2/55
  7. Maksudnya bendera karena pada waktu itu panji perang hanya akan dikibarkan di tangannya. Ibnu Hisyam, 1/123-124.
  8. Qalbu Jaziratil Arab, hal. 232
  9. Ibnu Hisyam, 1/123-124.
  10. Ibid, 1/125; Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khudhari, 1/36; dan Akhbarul Kiram, hal. 152.
  11. Ibnu Hisyam, 1/30
  12. Ibid, 1/29-132, 137, 142, 178-179.
  13. Tarikhul Ardhil Qur’an, 2/104-106.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: