khazanah Ilmu Blog

Rahiq Makhtum_540x720

klik disini untuk membeli buku ini


BANGSA ARAB

Merujuk kepada silsilah keturunan dan asal-usulnya, para sejarawan membagi bangsa Arab menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. 1.      Arab Ba’idah: yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sejarahnya tidak bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti (kaum) Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Imlaq, Umain, Jurhum, Hadhur, Wabar, Abil, Jasim, Hadramaut dan lain-lainnya.
  2. 2.      Arab Aribah: yaitu bangsa Arab yang berasal dari keturunan Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Sukubangsa Arab ini dikenal dengan sebutan Arab Qahthaniyah.
  3. 3.      Arab Musta’riba: yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma’il yang disebut juga dengan Arab Adnaniyah.

Arab Aribah adalah bangsa Qahthan. Tempat asal-usulnya adalah negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku. Yang terkenal adalah dua kabilah yaitu:

  1. a.      Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu; Zaid Al-Jumhur, Qudha’ah dan Sakasik.
  2. b.      Kahlan, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu; Hamadan, Anmar, Thayyi’, Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azad, Aus, Khazraj, dan anak keturunan Jafnah, Raja Syam.

Suku-suku Kahlan banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah Arab menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini sebagai akibat dari tekanan bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam.

Tidak aneh bila itu terjadi sebagai akibat dari persaingan antara suku-suku Kahlan dan suku-suku Himyar, yang berakhir dengan keluarnya suku-suku Himyar dan ditandai dengan menetapnya suku Himyar.

Suku-suku Kahlan yang berhijrah dapat dibagi menjadi empat golongan:

  1. 1.      Azad

Perpindahan mereka dipimpin oleh pemuka dan pemimpin mereka, Imran bin Amru Muzaiqiya’. Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim para pemandu; lalu berjalan kea rah utara dan timur. Dan inilah rincian akhir tempat-tempat yang pernah mereka tinggali setelah perjalanan mereka tersebut: Tsa’labah bin Amru pindah dari Azad menuju Hijaz, lalu menetap di antara Tsa’labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya besar dan kuat, dia pindah ke Madinah dan menetap di sana. Di antara keturunan Tsa’labah ini adalah Aus dan Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa’labah.

Di antara keturunan mereka yang bernama Haritsah bin Amr (atau yang dikenal dengan Khuza’ah) dan anak keturunannya berpindah ke Hijaz, hingga mereka singgah di Murr Azh-Zhahran, yang selanjutnya membuka Tanah Suci dan mendiami Makkah serta mengusir penduduk aslinya, Al-Jarahimah. Sedangkan Imran bin Amr singga di Oman lalu bertempat tinggal di sana bersama anak-anak keturunannya, yang disebut Azd Oman, sedangkan kabilah-kabilah Nashr bin Al-Azd menetap di Tihamah, yang disebut Azd Syanuah. Jafnah bin Amr pergi ke Syam dan menetap di sana bersama keturunannya. Dia dijuluki Bapak Para Raja Al-Ghassasinah, yang dinisbatkan kepada mata air di Hijaz, yang dikenal dengan nama Ghassan, yang telah mereka singgahi sebelum akhirnya pindah ke Syam.

  1. 2.      Lakhm dan Judzam

Mereka pindah ke timur dan utara. Tokoh di kalangan mereka adalah Nashr bin Rabi’ah, pemimpin raja-raja Al-Mundzir di Hirah.

  1. 3.      Bani Tha’i

Setelah Azad berpindah, mereka berpindah ke arah utara hingga singgah di antara dua gunung, Aja’ dan Salma. Mereka menetap di sana, hingga mereka dikenal dengan sebutan Al-Jabalani (dua gunung) di Gunung Thayyi’.

  1. 4.      Kindah

Mereka singgah di Bahrain, lalu terpaksa meninggalkannya dan singgah di Hadramaut. Namun, nasib mereka tidak jauh berbeda saat berada di Bahrain, hingga mereka pindah lagi ke Nejd. Di sana mereka mendirikan pemerintahan yang besar dan kuat. Tetapi, secepat itu pula mereka punah dan tak meninggalkan jejak. Di sana masih ada satu kabilah Himyar yang diperselisihkan asal keturunannya, yaitu Qudha’ah. Mereka hijrah meninggalkan Yaman dan menetap di pinggiran Iraq.[1]

Adapun Arab Musta’aribah -nenek moyang mereka yang tertua adalah Ibrahim ‘alaihissalaam- yang berasal dari negeri Iraq, dari sebuah daerah yang disebut Ar. Kota ini berada di pinggir barat Sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak penelusuran dan penelitian yang luas mengenai negeri ini, selain tentang keluarga Ibrahim ‘alaihissalaam, kondisi keagamaan dan sosial di negeri tersebut.[2]

Kita tahu bahwa Ibrahim ‘alaihissalaam hijrah dari Iraq ke Haran atau Harran, termasuk pula ke Palestina. Ia lalu menjadikan negeri itu sebagai basis dakwahnya. Ia banyak menelusuri negeri ini dan negeri laninnya.[3] Di salah satu perjalanan tersebut Ibrahim ‘alaihissalaam bertemu dengan Fir’aun. Istri Ibrahim Sarah, turut menenaminya. Sarah merupakan wanita yang tercantik. Maka Fir’aun itu hendak memasang siasat buruk terhadap Istri beliau. Namun Sarah berdoa kepada Allah sehingga dia membalikkan jerat yang dipasang raksasa itu ke lehernya sendiri. Akhirnya raja yang zhalim itu tahu bahwa Sarah merupakan wanita Shalihah yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Karena itu, ia menghadiahkan putrinya [4] Hajar menjadi pembantu Sarah, sebagai pengakuan atas keutamaan Sarah atau karena ia takut terhadap siksa Allah. Akhirnya Sarah menikahkan Hajar dengan Ibrahim.[5]

___________________________

  1. Lihat uraian lengkap tentang kabilah-kabilah ini dan perpindahan mereka di kitab Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khudhari, 1/11-13 dan Qalbu Jaziratil ‘Arab, hlm. 231-235. Beberapa referensi sejarah menunjukkan perbedaan besar dalam memastikan waktu-waktu perpindahan dan penyebabnya. setelah melakukan pengkajian dari semua aspek, kami menetapkan seperti yang kami uraikan di bagian ini sesuai dengan dalil yang ada.
  2. Tafhimul Qur’an, Abul A’la Al-Maududi, 1/553-556
  3. Tarikh Ibnu Khaldun, 1/108
  4. Yang populer, Hajar adalah seorang budak, Namun Al-‘Allamah Al-Manshurfuri telah memverifikasi bahwa ia adalah wanita merdeka. Ia adalah anak dari Fir’aun (gelar raja Mesir Kuno). Lihat Rahmatan Lil-‘Alamin, 2/36-37.
  5. Ibid 2/34, Lebih lengkap lagi lihat Shahih Al-Bukhari 3/474.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: