khazanah Ilmu Blog

Rahiq Makhtum_540x720

klik disini untuk membeli buku ini


Dari perkawinannya dengan anak perempuan dari Mudhadh, Ismail dikaruniai anak oleh Allah sebanyak dua belas, semuanya laki-laki [10] yaitu:

  1. Nabat atau Nabayuth
  2. Qaidar
  3. Adba’il
  4. Mibsyam
  5. Misyma’
  6. Duma
  7. Misya
  8. Hadad
  9. Taima’
  10. Yathur
  11. Nafis
  12. Qaiduman

Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Mekkah untuk sekian lama. Mata pencaharian utama mereka adalah berdagang dari negeri Yaman hingga negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di berbagai penjuru jazirah, bahkan keluar jazirah. Seiring dengan perjalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak keturunan Nabat dan Qaidar.

Peradaban anak keturunan Nabat bersinar di Hijaz Utara. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat yang berpusat di Petra sebuah kota kuno yang terkenal di selatan Yordania. Kekuasaan Nabat ini telah mencapai wilayah-wilayah terdekat dan tidak seorang pun berani memusuhi mereka hingga datang pasukan Romawi yang menghabisi mereka.

Setelah melakukan penyelidikan dan penelitian yang akurat, As-Sayyid Sulaiman An-Nadawi menegaskan bahwa raja-raja keturunan Ghassan, termasuk Aus dan Khazraj, bukan berasal dari keturunan Qahthan, tetapi dari keturunan Nabat, anak Ismail dan keturunan mereka di negeri tersebut. [11]

Sementara itu, anak keturunan Qidar bin Ismail tetap tinggal di Mekkah dan membina keluarga di sana hingga mendapatkan keturunan, Adnan dan anaknya, Ma’ad. Dari dialah keturunan Arab Adnaniyah masih bisa dipertahankan keberadaannya. Adnan adalah kakek ke-22 dalam silsilah keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[12][13]

Segolongan ulama membolehkan penyebutan nasab dari Adnan ke atas namun mereka berbeda pendapat mengenai rincian nasab dengan perbedaan yang tidak mungkin untuk dikompromikan. Adapun peneliti senior Al-‘Allamah Al-Qadhi Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri rahimahullah menguatkan pendapat Ibnu Sa’ad –sebagaimana yang disebutkan pula oleh Ath-Thabari, Al-Mas’udi, dan selain mereka di sejumlah tempat–  bahwa antara Adnan sampai Ibrahim ‘alaihissalaam ada empat puluh keturunan, ini menurut penelitian yang cukup mendalam.[14]

Keturunan Ma’ad dari anaknya Nizar telah berpencar ke mana-mana. Menurut salah satu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma’ad. Sementara itu Nizar sendiri mempunyai empat anak, yang kemudian berkembang menjadi empat kabilah besar, yaitu:

  1. Iyad
  2. Anmar
  3. Rabi’ah
  4. Mudhar

Dua kabilah terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Dari Rabi’ah ada Asad bin Rabi’ah, Anzah, Abdul Qais, dua anak Wa’il, Bakar dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.

Keturunan Mudhar berkembang menjadi dua suku yang besar yaitu; Qais Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dari Qais Ailan lahirlah Bani Sulaim, Bani Hawazain, Bani Ghathafan. Dari Ghathafan lahir Abs, Dzibyan, Asyja’ dan A’shar. Dari Ilyas bin Mudhar ada Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dari Kinanah lahirlah Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.

Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, Adi, Makhzum, Taim, Zuhrah, dan suku-suku Qushay bin Kilab, yaitu; Abdud-Dar bin Qushay, Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushay, dan Abdu Manaf bin Qushay.

Abdu Manaf mempunyai empat anak; Abdu Syams, Naufal, Al-Muththalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih Allah bagi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.[15]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari keturunan Ibrahim. telah memilih Bani Kinanah dan keturunan Ismail. telah memilih suku Quraiss dari Bani Kinanah. telah memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan telah memilihku dari Bani Hasyim. “[16] – [17-18]

Setelah anak-anak Adnan menjadi banyak, mereka berpencar di berbagai tempat di penjuru Jazirah Arab, masing-masing mencari tempat yang strategis dan daerah yang subur. Abdul Qais dan anak-anak Bakar bin Wa’il serta anak-anak Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha’b bin Ali bin Bakar pindah ke Yamamah dan menetap di Hijr, Ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakar bin Wa’il menetap di berbagai penjuru Yamamah. Membentang hingga ke Bahrain. Taghlib menetap di jazirah Eufrat dan sebagian anak keturunannya bergabung dengan Bakar. Bani Tamim menetap di Bashrah. Bani Sulaim menetap di dekat Madinah, dari lembah-lembah di pinggiran Madinah hingga ke Khaibar di bagian Timur Madinah dan penghujung Hurrah. Tsaqif menetap di Tha’if. Hawazin di timur Mekkah, di pinggiran Authas, antara Mekkah dan Bashrah. Bani Asad menetap di timur Taima’ hingga ke Hawazin. Di Tihamah ada beberapa suku Kinanah, sedangkan di Mekkah ada suku-suku Quraisy. Mereka berpencar-pencar dan tidak ada sesuatu yang bisa menyatukan mereka, hingga muncul Qushay bin Kilab. Dialah yang telah menyatukan mereka dan membentuk satu sama lain yang bisa mengangkat kedudukan mereka. [19]

________________________________

10. Ibid (Qalbu Jaziratil Arab, hal. 230)

11. Lihat Tarikh Ardh, 2/78-86

12. Berhubung dalam kisah ini terdapat hadits maudhu’ maka kami tidak menyertakannya. Hal ini demi meniadakan kisah yang dha’if / maudhu’ dari sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

13. Jika antum ingin membacanya lebih lanjut silahkan merujuk langsung kepada bukunya Ar-Rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, cet. 1 Ummul Qura, hal. 48.

14. Rahmatun Lil-‘Alamin: 1/7-8, 14-17.

15. Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, 1/14-15.

16. HR. Muslim, 2/245, bab Fadhlu Nasabin Nabi; dan At-Tirmidzi, 2/201.

17. Setelah membawakan Hadits Shahih berikutnya dibawakan hadits Dha’if – sehingga tidak dicantumkan di artikel ini. Lihatlah Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 50, footnote; 17-18 Cet. Ummul Qura.

18. Ibid.

19. Muhadharat Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khudhari 1/15-16.


Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: